Bila kaum tua berburu jabatan, ternyata anak muda menolak naik jabatan. Fenomena anak muda naik jabatan telah menjadi fenomena global. Bermula dari Jepang 10 tahun yang lalu.
Guru Besar Ekonomi Universitas Indonesia Prof. Rhenald Kasali, Ph.D., dalam sebuah video pendeknya di Instagram yang disitat Komparatif.ID, Kamis, 29 Februari 2026, menyebutkan semakin banyak anak muda menolak naik jabatan. Bahkan mereka meminta berhenti, atau tetap pada jabatan yang sama.
“Kalian perhatikan gak, banyak temen-temen kalian yang sekarang gak mau naik jabatan. Lucu ya, dinaikin jabatan gak mau. Malah minta berhenti, pengen di jabatan yang sama,” kata Rhenald Kasali, penulis buku Self Disruption, yang diterbitkan oleh Mizan pada 2018.
Rhenald Kasali menyebutkan meskipun naik jabatan berarti merupakan kenaikan gaji, memiliki power lebih besar, tapi makin banyak anak muda yang menolak. Mereka tidak tertarik berada pada jabatan manajerial. Mereka tidak peduli meskipun board di luar negeri telah memanggil dan kemudian ditawarkan menjadi bos di Indonesia.
“Kemarin ada salah seorang orang muda nih, gak mau dia. Dia pengen tetap bekerja seperti saat ini. Inilah fenomena yang disebut sebagai conscious unbossing. Dan ternyata jumlahnya semakin banyak,” kata pria yang telah 10 kali dipercaya menjadi komisaris dan komisaris utama di perusahaan besar dan BUMN.
Sang Guru Besar mengira fenomena tersebut hanya terjadi di Jepang. Ya, di Negeri Matahari Terbit tersebut, sejak 10 tahun lalu telah terjadi fenomena itu. ketika Rhenald berkunjung ke sana 10 tahun lalu, dia bertemu dengan anak-anak muda yang mengatakan tidak mau bergabung sebagai labor force, karena memiliki pengalaman tidak menarik dengan ayah-ayah mereka.
Ayah-ayah mereka yang memiliki posisi bagus di perusahaan, pulang sangat larut, dalam kondisi mabuk. Demikian juga dengan ibu mereka yang ikut bekerja, membuat masa kecil mereka sendirian di rumah. Mereka kesepian.
Baca juga: Lembayung Cafe: Pulang ke Rumah di Tepian Krueng Daroi
Hasil studi sebuah perusahaan perekrutan tenaga kerja bernama Walters, menemukan 57 persen profesional Gen Z menghindari posisi manajemen.
67 persen melihat manajemen tingkat menengah sebagai posisi yang stresnya tinggi dan rewardnya rendah. Hanya 13 persen yang menyukai struktur hirarki tradisional. Kenapa ya begitu? Ini jawabannya.
Pertama, manajer dilihat sebagai penanggung risiko tanpa kuasa nyata. Kedua, ternyata fleksibilitas lebih bernilai daripada titel. Bagi mereka, waktu adalah aset utama.
Ketiga, kesehatan mental adalah modal kerja. Kebebasan lokasi adalah kualitas hidup. Lalu juga ada yang memandang bahwa remote work mengubah makna kepemimpinan.
Rhenald melanjutkan, fenomena yang ia uraikan menjadi pekerjaan rumah bagi orang-orang human resource, karena ternyata generasi ini melihat jam kerja lebih panjang, meeting lebih banyak, dan selalu harus bersedia, merupakan suatu yang tidak menarik.
“Ini menjadi pemberontakan bagi kaum muda. Tentu kita harus mengantisipasinya dan menciptakan suasana kerja yang berbeda. Tanpa itu korporasi akan punah, kepemimpinan tidak ada yang melanjutkannya,” imbuhnya.













