Komparatif.ID, Jakarta– Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali dibuka di zona merah pada perdagangan sesi I, Rabu (20/5/2026). IHSG tercatat melemah 18,47 poin atau 0,29 persen ke posisi 6.352,2 dengan pergerakan di rentang 6.295 hingga 6.355.
Pelemahan berlanjut hingga pukul 09.03 WIB jelang pidato ekonomi Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Paripurna ke-19 DPR RI.
Berdasarkan data IDX Mobile, IHSG turun 0,66 persen ke level 6.328,91. Nilai transaksi pasar tercatat mencapai Rp881,6 miliar dengan volume perdagangan sebanyak 1,57 miliar saham.
Pada perdagangan pagi ini, sebanyak 371 saham dibuka melemah, 156 saham menguat, dan 432 saham bergerak stagnan. Pergerakan saham dengan kapitalisasi pasar besar terpantau bervariasi.
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT DCI Indonesia Tbk (DCII), dan PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dibuka stagnan. Sementara itu, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), dan PT Astra International Tbk (ASII) mencatat penguatan. BBRI naik 0,33 persen ke level Rp3.050, TLKM menguat 0,97 persen menjadi Rp3.110, dan ASII naik 0,42 persen ke posisi Rp5.975.
Baca juga: IHSG Kembali Anjlok di Awal Pekan, Tekanan Pasar Belum Mereda
Di sisi lain, sejumlah saham big caps dibuka terkoreksi. Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) turun 2,32 persen ke Rp2.950, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) melemah 0,24 persen ke Rp4.120, PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) turun 2,94 persen ke Rp5.775, dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) ambles 12,50 persen ke level Rp2.730.
Pelaku pasar saat ini menantikan pidato ekonomi Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Paripurna ke-19 DPR RI. Dalam agenda tersebut, Presiden dijadwalkan menyampaikan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN Tahun Anggaran 2027.
Penyampaian langsung dokumen KEM-PPKF oleh Presiden menjadi perhatian pasar karena merupakan pertama kalinya dilakukan oleh kepala negara. Sebelumnya, dokumen tersebut lazim dipaparkan oleh Menteri Keuangan.
Selain pidato Presiden, investor juga menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang akan diumumkan pada hari yang sama.
Berdasarkan konsensus pasar, Bank Indonesia diperkirakan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen guna meredam tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Pasar juga mencermati sejumlah data ekonomi lain yang akan dirilis. Pertumbuhan kredit per April 2026 diperkirakan mencapai 9,7 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan posisi Maret 2026 yang sebesar 9,49 persen year on year.
Sementara itu, dari sisi fiskal, defisit APBN hingga 30 April 2026 tercatat sebesar Rp164,4 triliun atau setara 0,64 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka tersebut lebih rendah dibandingkan defisit pada Maret 2026 yang mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93 persen PDB.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca.













