Home Gaya Hidup Poverty Mindset Menghancurkan Secara Sistematis

Poverty Mindset Menghancurkan Secara Sistematis

Poverty Mindset Menghancurkan Secara Sistematis
Alpraditia Malik. Foto: HO for Komparatif.ID.

Alpraditia Malik pernah terjebak poverty mindset (pola pikir miskin). Akibatnya ia kerap menempuh jalan pintas. Bukannnya selamat, ia justru terjebak utang.

Alpraditia Malik –akun Threads-nya @pangarsadia—berbagi pengalaman masa lalunya melalui utas di Threads. Ia berkisah tentang poverty mindset yang pernah menghinggapi pola pikirnya ketika masih muda.

Ketika ia muda, belum ada streaming service seperri Netflix, Spotify, dll. Semua layanan hiburan baik film maupun lagu, dicetak dalam kaset. Di era Aplraditia muda, sedang trend compact disk.

Ketimbang membeli CD asli, atau ketimbang menyewa CD asli di layanan rental, ia memilih membeli SC bajakan. Ia mengandalkan CD bajakan supaya tetap op to date tentang perkembangan film dan lagu.

Kebiasan tersebut diam-diam meracuni alam pikirnya. Hal yang dia anggap sepele, ternyata berakar sangat dalam di otaknya.

“Saya jadi punya yang namanya poverty mindset,” tulisnya.

Karena keseringan melakukan bajakan, hingga ia memiliki uang, perilaku tersebut terus berulang. Mengapa harus berlangganan Netflix bila ada biskopkeren? Mengapa harus beli buku mahal-mahal bila bisa unduh yang bajakan?

Dalam pikirannya hanya tersedia kata hemat. Hemat yang berujung sesat. Isi dompetnya selamat tapi otaknya sengsara.

Mindset yang selalu menganjurkan dirinya mencari jalan pintas untuk keuntungan sementara, benar-benar membuatnya tenggelam.

Ketika itu, Alpraditia Malik tak sejenakpun berpikir untuk maju. Dengan kebiasaan poverty mindset-nya itu, dia justru tidak mengalami growth mindset. Pikirannya mengalami stagnan.

Bahkan ia pernah terlilit utang kartu kredit hingga puluhan juta. Semuanya gara-gara satu hal: poverty mindset. Maunya serba instant bagaimanapun caranya.

Alpraditia Malik baru menyadarinya pada usia 30 tahun. Ia pun mencari lebih banyak referensi. Alhamdulillah, semakin ia belajar menjauhi poverty mindset, pelan-pelan ia semakin membaik.

Apa yang ia lakukan untuk keluar dari poverty mindset?

Pertama, ia tidak lagi melabeli sesuatu dengan murah atau mahal. Tapi worth it atau tidak.

Pikiran yang dulu, kalau harus beli maka beli semurah mungkin, tidak peduli pada kualitas, ternyata merupakan perilaku yang justru boros.

Contohnya, dulu ia membeli sepatu sembarangan saja. Yang penting murah. Dia tidak berhitung berapa kali harus membeli sepatu karena daya tahan sepatu murah sangat lemah.

Kemudian dia memutuskan membeli sepatu mahal tapi worth it. Hasilnya, dia tidak perlu gonta-ganti sepatu dalam jangka waktu lama.

Kedua, ketika cara pandanganya berkembang, ia tidak lagi berpikir bagaimana mahalnya harga sebuah benda. Yang ia lihat justru bagaimana ia harus bisa membeli barangnya. Ia tidak lagi terjebak pada pikiran, “Wah mahal ya, tidak akan terbeli karena tidak ada duit.”

“Dulu saya selalu fokus pada scarcity. Apa-apa mahal, cari duit susah, ini itu gak mampu kebeli. Dan dari sana saya nyimpulin kalo mau beli barang yang berkualitas ya kredit. Pakek paylater. Dan jatuhlah saya ke lubang neraka utang,” kisahnya.

Dan, ketika ia mengadopsi rich mindset, secara perlahan semuanya berubah.

“Sekarang kalo ngeliat barang yang worth it tapi finansial belum ngedukung buat beli, saya selalu mikir: Apa yang bisa saya jual? Apa yang bisa saya lakuin buat naikin daya beli saya.”

Pelan-pelan, rich mindset membuka banyak peluang bagi dirinya.

Sekarang ia mengaku belum kaya raya. Meski demikian, alhamdulillah dia telah berhasil melunasi ratusan juta utang kartu kredit.

Ia sudah bisa menafkahi istrinya tanpa pusing memikirkan utang.

Ia sudah bisa liburan kecil-kecilan ke luar kota tiap bulan. Sudah bisa membeli barang hobby bapak-bapak.

“Semuanya berkat mengubah mindset,” tulisnya.

Alpraditia Malik menyebutkan, mengubah mindset bukan hal mudah. Butuh perjuangan dan dedikasi panjang. butuh dukungan dari lingkungan. Butuh banyak wawasan supaya bertambah yakin dan semangat.

“Tapi pada akhirnya, perubahan mindset tersebut yang membuat saya bisa hidup lebih baik,” imbuhnya.

Previous articleRealisasi APBA Aceh Tembus 23,27 Persen Hingga April
Next articleHardiknas: Antara Retorika Kemajuan dan Realitas Ketimpangan

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here