
Komparatif.ID, Takengon— Fenomena lubang raksasa mirip sinkhole muncul di Kampung Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah. Lubang tersebut berkembang dalam waktu relatif singkat dan kini mulai mengancam area perkampungan, lahan milik warga, hingga badan jalan utama.
Melansir BWS Sumatera I KemenPU, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menilai kejadian tersebut menyerupai sinkhole, namun secara geologi memiliki karakteristik yang berbeda dengan sinkhole pada umumnya.
Fenomena ini dinilai tidak lazim karena muncul di wilayah yang selama ini tidak dikenal sebagai kawasan rawan sinkhole. Aceh Tengah diketahui didominasi oleh tanah vulkanik yang relatif padat dan stabil, berbeda dengan daerah karst yang umumnya tersusun dari batuan kapur atau karbonat yang mudah larut oleh air.
Secara umum, sinkhole lazim terjadi pada tanah lempung, lanau, atau pasir lepas yang mudah tererosi. Dalam banyak kajian geologi, kejadian sinkhole berkaitan erat dengan pelarutan batuan kapur oleh air tanah yang membentuk rongga bawah permukaan.
Minimnya pemahaman publik mengenai perbedaan jenis tanah dan batuan kerap membuat fenomena seperti di Pondok Balik disalahartikan sebagai sinkhole murni, padahal kondisi geologi setempat menunjukkan mekanisme yang berbeda.
Meski demikian, peran air tetap menjadi faktor utama dalam kejadian ini. Berbagai penelitian menunjukkan sebagian besar kasus runtuhan tanah di dunia dipicu oleh aktivitas air, baik air hujan maupun air tanah. Air dapat melarutkan mineral tertentu atau mengikis partikel tanah halus di bawah permukaan secara perlahan.
Ketika rongga bawah tanah membesar dan tidak lagi mampu menopang beban di atasnya, runtuhan tanah pun terjadi.
Baca juga: Aceh Tamiang Buka Lowongan Kerja Pembersihan Sisa Banjir
Kondisi tersebut diperparah oleh cuaca ekstrem yang terjadi pada akhir tahun lalu. Siklon Senyar yang melanda wilayah Indonesia bagian barat menyebabkan peningkatan curah hujan signifikan, termasuk di Aceh Tengah. Intensitas hujan yang tinggi meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah dan mempercepat aliran air bawah permukaan, sehingga mempercepat proses pengikisan material tanah di area yang memiliki kemiringan curam.
Hasil Kajian: Bukan Sinkhole, Erosi Bawah Permukaan
Dinas ESDM Aceh menyampaikan fenomena ini telah dipantau sejak lama. Pada 27 Januari 2026, Dinas ESDM Aceh menyurati Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah untuk melaporkan hasil kajian resmi.
Berdasarkan data pemantauan, pada 30 Mei 2022 luasan gerakan tanah di lokasi tersebut tercatat sekitar 28.000 meter persegi. Namun, luasan itu terus bertambah hingga mencapai 30.172 meter persegi dan kini telah menyentuh badan jalan serta meluas ke arah tenggara. Tim peneliti mencatat bahwa pergerakan tanah di Desa Pondok Balik telah terjadi secara terus-menerus sejak tahun 2011.
Kepala Bidang Geologi dan Air Tanah Dinas ESDM Aceh, Ikhlas, menjelaskan fenomena di Jalan Buter–Pondok Balik secara teknis disebut sebagai erosi bawah permukaan atau piping erosion.
Menurutnya, longsoran tersebut diakibatkan oleh erosi air tanah dan air permukaan, kondisi tebing yang curam, serta dapat dipicu oleh gempa bumi dan hujan.
Ikhlas menegaskan sinkhole umumnya terjadi di daerah dengan lapisan batu gamping atau batuan karbonat yang mudah larut oleh air, sementara kasus di Ketol lebih dipicu oleh pengikisan tanah akibat aliran air di bawah permukaan pada lahan yang curam.












