
Pada 24 dan 25 Mei 2026, Taman Budaya menjadi ruang pertemuan musik Aceh. Dalam acara Harmoni Etnik Aceh yang digelar Endatu Kreatif — komunitas kreatif yang menggarap seni dan budaya Aceh — satu mata acara menyita perhatian saya: festival band, dengan peserta diminta membawakan satu lagu dari album Nyawoung.
Pada 2000, saya yang memberi lagu-lagu itu wajah musikalnya. Saya yang mengaransemennya. Maka ketika lagu-lagu itu kembali ke panggung di tangan generasi baru, saya mendengarnya dari dua sisi — sebagai juri, dan sebagai orang yang tahu betul godaan mengisi setiap ruang kosong. Aransemen ulang, saya semakin yakin, adalah kerja memilih: ia menapis ide, bukan menimbunnya
.
Yang Saya Tahan pada Tahun 2000
Saya ingat satu keputusan yang masih saya pegang sampai sekarang. Pada lagu Dodaidi, saya hampir menambahkan rapa’i. Insting pertama seorang arranger musik Aceh hampir selalu ke sana — rapa’i adalah denyut yang paling cepat dikenali sebagai bunyi kita. Tapi saya urungkan. Sebagai gantinya saya pakai bunyi music box, dimainkan berulang-ulang.
Alasannya sederhana, dan justru karena sederhana ia sulit ditahan. Dodaidi adalah nina bobo. Music box adalah mainan yang dipakai meninabobokan bayi sepanjang tahun 70-an hingga 2000-an — bunyi yang melekat pada ingatan satu generasi tentang dirinya saat paling kecil. Rapa’i akan membuat lagu itu terdengar megah.
Music box membuatnya terdengar seperti apa adanya: sesuatu yang dibisikkan ke telinga anak yang hampir tidur.
Selebihnya saya bangun di sekitar keheningan itu. Piano saya mainkan dengan ritme yang renggang, dibiarkan berjarak agar sunyinya tetap terdengar. Di atasnya saya lapisi pad dan string yang tipis, dan satu garis melodi oboe untuk menuntun intro. Tidak ada yang penuh. Setiap lapis dipilih agar ruang kosong tadi tidak buru-buru diisi.
Menambahkan rapa’i akan terasa benar secara refleks. Menahannya terasa salah saat itu juga, dan baru terasa benar setelah lagu selesai. Saya tidak selalu menang melawan godaan itu di lagu-lagu lain. Tapi yang ini saya menang, dan saya belajar sesuatu darinya: ruang kosong kadang menanggung lebih banyak daripada ruang yang diisi.
Saya menilai bersama dua nama. Mahrisal Ruby, pencipta Mars Aceh. Taufik Opay, arranger musik Aceh. Komposisi juri seperti ini membawa penilaian melampaui soal teknis. Kami menimbang bagaimana peserta memahami lagu, memperlakukan melodi, dan memberi tafsir baru.
Baca juga: Seniman Sakit, Negara Bertanya: Apa Pekerjaanmu?
Aransemen adalah Kerja Memilih
Di banyak penampilan festival, saya menangkap satu kecenderungan. Aransemen ulang dipahami sebagai kesempatan menambah elemen sebanyak mungkin. Panitia memberi ruang untuk menyusun ulang form lagu, dan peserta memakainya penuh. Ada jatah waktu maksimal di panggung. Banyak peserta berusaha menghabiskannya. Hasilnya terdengar bukan lagi sebagai satu lagu yang ditafsirkan ulang. Ia terdengar seperti medley. Beberapa gagasan musikal berbeda, disambung-sambung untuk mengejar durasi.
Ada juga yang melangkah ke ujung lain. Satu peserta mengambil liriknya saja. Lalu ia membangun lagu yang sepenuhnya baru di atas lirik itu. Mungkin itu cara peserta tadi menafsir: mewarisi kata-katanya, melepaskan bentuknya. Yang aslinya menghilang, dan yang tersisa adalah pilihan tentang apa yang layak dibawa terus. Dua jalan, satu muara: di yang satu lagu tertimbun, di yang lain lagu lenyap — dan di antara keduanya, ruang yang masih terus dicari.
Aransemen ulang menuntut kepekaan untuk tahu bagian mana yang perlu diperkuat. Bagian mana yang cukup dibiarkan. Bagian mana yang justru harus ditahan agar lagu tetap punya arah.
Lagu yang Tetap Dikenali sebagai Dirinya
Sebuah lagu punya tubuh dan jiwa. Tubuhnya adalah melodi, harmoni, ritme, struktur. Jiwanya adalah suasana, emosi, karakter yang membuatnya dikenali sebagai dirinya sendiri. Ketika diaransemen ulang, tubuhnya boleh berganti pakaian. Warnanya boleh diubah. Geraknya boleh diperluas. Yang menentukan bukan seberapa jauh tubuh itu berubah, melainkan apakah jiwanya masih terdengar.
Di sinilah dua hasil yang berbeda muncul. Pada sebagian penampilan, lagu tetap terdengar sebagai dirinya meski wajahnya baru. Pada sebagian yang lain, lagu hilang di balik potongan-potongan yang masing-masing menarik tapi tidak lagi menyatu. Perbedaannya bukan soal banyak atau sedikit elemen — melainkan apakah elemen-elemen itu mengarah ke satu lagu atau berpencar darinya.
Seorang musisi dituntut mampu memainkan banyak hal. Tapi menahan diri adalah bagian dari pekerjaan ini yang paling lama saya pelajari — dan masih saya pelajari setiap kali saya mengaransemen.
Mendengar lagu-lagu Nyawoung di tangan generasi baru adalah pengalaman yang menggugah. Lagu-lagu itu masih hidup. Masih mengundang tafsir. Yang belum selesai adalah pertanyaan tentang apa yang kita pilih untuk dibawa ketika sebuah lagu diserahkan ke tangan berikutnya.












