Pasee Seperti Kebun Kosong

Putra pasee, pileg 2024
Usamah El Madny. Foto: Dokumen pribadi penulis.

Pasee seperti tidak ada yang punya. Bisa jadi demokrasi di sana sudah sangat matang karena pernah menjadi daerah industri di masa lalu. Hal yang pasti, dengan jumlah penduduk begitu banyak, tak ada putra daerah itu yang duduk di Senayan mewakili daerahnya.

Pemilu 2024 baru saja selesai. Berbagai pilihan telah dilakukan rakyat, salah satunya memilih  anggota DPR RI. Ada yang terpilih, ada yang belum beruntung.

Dari pileg tersebut yang menarik diamati salah satunya adalah pileg di Dapil II Aceh. Khususnya Aceh Utara dan Lhokseumawe.

Kedua wilayah ini dalam sejarah awalnya dikenal dengan sebutan Pasee. Dengan segala kejayaannya di masa lalu yang kini menjadi kenangan.

Baca: Pendamping Desa & Balada Mesin Partai Politik

Jumlah pemilih pada Pemilu 2024 di daerah ini terbanyak bila dibandingkan dengan kabupaten kota lain di Aceh.

Aceh Utara sendiri memiliki jumlah pemilih mencapai 426.471 jiwa. Sedangkan Lhokseumawe terdapat 133.574 jiwa  pemilih. Bila jumlah pemilih dari dua kabupaten kota ini digabung atas nama Pasee,  maka jumlah suara yang menentukan terpilih tidaknya seorang caleg DPR RI  sangat signifikan. Sangat menentukan.

Namun yang terjadi tidak demikian. Dari rekap Formulir C1 oleh beberapa pihak — tentu sambil menunggu pengumuman resmi KIP — ternyata yang bakal terpilih menjadi anggota DPR RI melalui Pemilu 2024 tidak ada satupun putra Lhokseumawe atau Aceh Utara. Alias bukan putra tempatan di sana.

Kondisi ini dari pemilu ke pemilu menjadi tanda tanya besar. Ada apa, dan apa yang sedang terjadi sehingga kondisi setiap pemilu demikian adanya. Apakah karena “barang dalam negeri” tidak berkualitas, sehingga selalu yang terpilih caleg dari luar. Atau pada masyarakatnya ada satu penyakit endemik yang berperilaku demikian.

Bukan tidak ada caleg DPR RI dari Pasee, caleg asli Pasee selalu ada bersama caleg lainnya dari luar Aceh Utara-Lhokseumawe. Tetapi yang jadi persoalan asoe lhôk Pasee tidak pernah dipilih dan terpilih.

Sebagai contoh barang Ir. H. Tarmizi Karim. Mantan Bupati Aceh Utara dua periode, sekaligus mantan Pj Gub Aceh. Namun dalam pileg kemarin, Tarmizi harus menarik nafas panjang. Ia seperti sadar masyarakat Aceh Utara sangat melupakannya. Termasuk oleh sejumlah ulama dan tokoh masyarakat yang dulu ketika Tarmizi menjadi Bupati begitu dimanjakannya.

Kenapa hal seperti ini terjadi. Apa benar ini karena masifnya serangan uang kepada sejumlah pemilih?. Sehingga jasa baik di masa lalu, dapat terhapus oleh operasi senyap jelang hari H.

Pasee Kosmopolit?

Kondisi Pasee setiap pemilu persis kebun kosong. Ada pemiliknya, tapi sang pemilik tidak berperan. Bahkan ibarat penonton.  Yang justru beraktifitas di lampôh soh itu orang luar.

Dalam tradisi Aceh lampôh soh itu lahan kosong yg tidak dimanfaatkan untuk  kepentingan pemiliknya. Hanya jadi tempat buang hajat orang luar dan kepentingan lainnya.

Mungkin pengaruh PT Arun dan Exxon Mobil yang lama bereksplorasi di Aceh, sehingga suasana kemajemukan dan menghargai keberagaman betul-betul terbentuk. Pengaruh iklim lama dua perusahaan itu membuat masyarakat di sini menghargai semua orang, termasuk pendatang luar. Ada tradisi memuliakan tamu yang kentara.

Di Aceh tradisi sebuah keluarga memuliakan tamu unik juga. Sebuah keluarga yang kekurangan pun, ketika tamu datang dimuliakannya secara excellent. Potong ayam dan makanan enak lainnya. Pada hal sehari-hari bersama keluarga dia makan ikan asin dan kuliner sederhana lainnya.

Bila teori ini disepakati, maka terjawab sementara kenapa orang Pasee tidak pilih untuk DPR RI. Dengan demikian dalam setiap pemilu Pasee selalu menjadi pasar bebas (free market).

Pemilu di Pasee persis seperti saat pembebasan tanah warga untuk pabrik Exxon, dibayar dengan harga alakadar lalu kemudian masyarakat Pasee “putus hubungan dengan nyamuk” dengan perusahaan  Exxon. Yang dapat dilakukan hanya melihat-lihat  Exxon dari luar pagar.

Orang-orang luar Pasee merasa “lemak manis” mencalonkan diri sebagai caleg DPR RI Dapil II Aceh, karena suara dari masyarakat Aceh Utara dan Lhokseumawe alias Pasee sangat empuk dan menentukan kemenangan. Dan sangat mudah didapatkan dengan sedikit buah tangan.

Mereka pun dengan kaki tangannya bergerilya ke Pasee setiap jelang pemilu. Dengan segudang janji dan buah tangan serta rayuan.

Setiap pemilu masyarakat Aceh Utara-Lhokseumawe terninabobok dengan kondisi ini. Tidak pernah muncul kesadaran “Orang Pasee pilih caleg orang Pasee”. Karena masa depan daerah jauh lebih menjanjikan bila aleg DPR RI asli orang di sana.

Tapi inilah semangat kemajemukan orang Pasee. Lagee manok karom boh iték. Tanpa kesadaran, atau kesadaran diri telah hilang.

Tapi ada sebuah pertanyaan yang muncul: Apakah ini sebuah kesadaran demokrasi yang matang dari orang Pasee, atau orang  bersikap demikian karena caleg dari luar mampu bayar langsung? Dan pilihan terakhir ini yang dibutuhkan masyarakat  ketimbang idealisme daerah yang utopis.

Ceritakan di atas selintas biasa-biasa saja. Buktinya tokoh  diam-diam saja. Tidak ada narasi apa pun, terutama menjelang pemilu.

Apakah ini pertanda semua pihak di sana sudah pasrah, karena siapapun yang terpilih menjadi anggota DPR RI dari asbab suara orang Aceh Utara-Lhokseumawe kan orang Indonesia juga. Jadi tidak ada masalah.

Oleh: Usamah El Madny. Praktisi komunikasi dan seorang birokrat di Aceh. Tulisan ini dikutip dari Facebook, dengan penyesuaian seperlunya. 

Artikel SebelumnyaCaleg Pembagi Rice Cooker di Bireuen Divonis 6 Bulan Penjara
Artikel SelanjutnyaKonektivitas Kunci Percepatan Transformasi Digital di Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here