Komparatif.ID, Budapest– Partai final Liga Champions (UEFA Champions League) akan mempertemukan wakil Inggris Arsenal dengan wakil Prancis Paris Saint-Germain (PSG) di Puskás Arena, Budapest, Hungária, Minggu (30/5/2026) malam.
Arsenal menatap laga final dengan modal sebagai juara Premier League. Gelar tersebut terasa istimewa karena berhasil diraih setelah penantian panjang selama 22 tahun. Di sisi lain, PSG juga datang sebagai kampiun Liga Prancis setelah mengungguli pesaing terdekat mereka, Lens, dengan selisih tujuh poin. Kedua tim juga sama-sama mencatatkan gelar domestik ke-14 dalam sejarah masing-masing.
Performa Arsenal di Liga Champions musim ini menjadi salah satu yang paling konsisten. Tim asuhan Mikel Arteta menjadi satu-satunya tim yang belum terkalahkan sepanjang kompetisi.
Dari 14 pertandingan yang telah dijalani, Arsenal mencatatkan 11 kemenangan dan tiga hasil imbang tanpa sekali pun menelan kekalahan.
Sementara itu, PSG memiliki modal berbeda. Tim besutan Luis Enrique datang ke Budapest dengan status juara bertahan. Pada musim 2024-2025, PSG sukses meraih gelar Liga Champions pertama mereka setelah mengalahkan Inter Milan dengan skor telak 5-0 di Allianz Arena.
Status tersebut menjadi tambahan motivasi bagi klub asal Paris untuk mempertahankan gelar dan mencatatkan sejarah sebagai juara dua musim beruntun.
Laga di Budapest juga menjadi final Liga Champions kedua bagi kedua tim. Arsenal sebelumnya pernah mencapai partai puncak pada tahun 2006, namun harus mengakui keunggulan Barcelona dengan skor 2-1.
Baca juga: Final Liga Champions, Arsenal dan PSG Berebut Takhta Eropa 2026
Kini, setelah hampir dua dekade, The Gunners kembali mendapat kesempatan untuk mengangkat trofi paling bergengsi di Eropa.
Dari segi kualitas individu, PSG dinilai sedikit lebih unggul di atas kertas. Lini serang mereka tampil produktif sepanjang kompetisi. Duet Ousmane Dembélé dan Khvicha Kvaratskhelia telah menyumbang total 17 gol dari 14 pertandingan.
Kvaratskhelia mencetak 10 gol, sementara Dembélé mengoleksi tujuh gol. Selain itu, pemain muda Désiré Doué juga tampil impresif dengan torehan lima gol musim ini.
Namun, kekuatan utama Arsenal terletak pada lini pertahanan. Klub London Utara tersebut menjadi tim dengan jumlah kebobolan paling sedikit di Liga Champions musim ini. Kiper David Raya tercatat sebagai penjaga gawang dengan jumlah clean sheet terbanyak, yakni 10 kali dari 14 pertandingan. Bahkan, pada delapan pertandingan fase grup, Arsenal hanya kebobolan tiga gol.
Kokohnya pertahanan Arsenal tidak terlepas dari penampilan konsisten duet bek tengah William Saliba dan Gabriel Magalhães. Keduanya mendapat dukungan dari Declan Rice yang menjadi penghubung sekaligus pelindung lini belakang.
Ketiga pemain tersebut diperkirakan akan menjadi tumpuan Arsenal untuk meredam kreativitas permainan yang dibangun gelandang PSG, Vitinha dan João Neves.
Pertemuan dua kekuatan berbeda ini membuat final diprediksi berlangsung menarik. PSG mengandalkan kecepatan dan efektivitas serangan, sementara Arsenal hadir dengan pertahanan yang menjadi salah satu yang terbaik di kompetisi musim ini.
Budapest kini menanti jawaban atas satu pertanyaan besar. Apakah Arsenal mampu mengakhiri penantian panjang dan meraih gelar Liga Champions pertama dalam sejarah klub, atau justru PSG yang kembali berjaya dengan mempertahankan mahkota Eropa dan membawa pulang trofi kedua mereka secara beruntun. Semua akan terjawab dalam partai puncak yang dinantikan para pencinta sepak bola dunia.













