18 Mei 2006 Meriam London Arsenal pernah merasakan menjadi finalis UEFA Champions League di Paris. Pada partai final itu keberuntungan belum memihak. Arsenal takluk dengan cara tragis dari Tim Catalan, Barcelona dengan score 2-1.
Kala itu Sol Campbell sebagai sentral back Arsenal yang merangkap palang pintu Timnas Inggris menyumbangkan 1 gol pada menit ke-37. Jalanan pusat kota London mulai riuh karena laga pemungkas itu hampir mendekati akhir (menit 75′)
Tak dinyana, pada menit ke 76, singa lapar dari Camp Nou asal Kamerun, Samuel Eto’o datang menghentak Stade de France Stadium dengan gol penyeimbang. Kota London sebagai markas Arsenal terdiam. Sebagian mulai menangis. Tegang.
Menit-menit setelahnya Barcelona makin menjadi-jadi. Pada menit ke 80 petaka itu datang kembali. Kali ini, fullback flamboyan asal Brazil Juliano Belletti ikut mencatatkan namanya di papan score. Score berbalik 2-1 untuk armada besutan Frank Rijkaard. Dan itulah score penutup yang membuat Plaรงa de Catalunya di kota Barcelona meledak dalam pesta. Sementara Profesor Arsรจne Wenger terduduk lunglai di Bench pemain cadangan.
20 tahun kemudian, 30 Mei 2026, Arsenal sekali lagi mendapat kesempatan unjuk gigi di pentas Eropa. Tekanan luar biasa yang dialami coach Mikel Arteta tidak membuat tim ini terhenti. Mereka akhirnya tiba di final. Setelah sebelumnya telah berhasil menjadi kampiun Premier League 2026 yang penuh drama.
๐๐ฆ๐ซ๐ข๐ณ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ข๐ณ๐ถ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ช ๐ฅ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ต๐ข.
๐๐ช ๐๐ถ๐ด๐ฌ๐ข๐ด ๐๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐๐ต๐ข๐ฅ๐ช๐ถ๐ฎ, ๐๐ฐ๐ฏ๐จ๐ข๐ณ๐ช๐ข.
Mari mulai berandai-andai. Sebagai orang Jerman, Kai Lukas Havertz nyaris saja membalaskan dendam Bayern Muenchen dari “๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ฉ๐ช๐ข๐ฏ๐ข๐ต๐ข๐ฏ” pada laga semifinal yang sarat kontroversi. Tidak main-main, kali ini Kai Havertz berhasil membuat Kota Paris (markas PSG) shock luar biasa pada menit ke 5. Disiplin man to man marking dari pemain-pemain belakang Arsenal benar-benar seperti beton yang sulit ditembus pasukan Luis Enrique.
Baca: Final Liga Champions, Arsenal dan PSG Berebut Takhta Eropa 2026
Oke, pada menit ke 64 Ousmane Dembele berhasil mencatatkan namanya di papan score. Tapi itu seperti hadiah yang tidak perlu terjadi. Karena gol penalti itu justru lahir dari kecerobohan wing back Arsenal, Cristhian Mosquera saat mencoba menghentikan laju Khvicha Kvaratskhelia menuju garis gawang.
Baiklah, seperti yang sudah kita ketahui, setelah score 1-1 cerita selanjutnya adalah extra time yang membosankan. Lanjut dengan penalti (4-3), dan sisanya adalah brace bersejarah bagi klub milik milyuner asal Qatar, Nasser Al-Khelaifi.
Bagaimana dengan Arsenal ? Setelah laga final yang melelahkan mereka keluar Stadion dengan kepala tagak. Kita melihat Mikel Arteta telah melakukan tugasnya dengan baik. Mengenai kekalahan yang di derita pasukannya, dia cuma berucap, “nikmati saja rasa sakitnya. ” Sebuah teguran yang pantas untuk sebuah kelalaian.
