Komparatif.ID, Banda Aceh– Hakim baru saja selesai mencuci baju, ketika listrik padam lagi di tepian Banda Aceh, Selasa (9/12/2025) malam.
Tepat pukul 22.00 WIB, listrik kembali padam di Aceh. Begitu bohlam kehilangan energi, seketika muncul komplain di linimasa media sosial.
Ada yang menulis secara satir. Ada yang blak-blakan, ada pula yang mengandung semangat menyemangati warga Kota Banda Aceh.
Intinya, semuanya protes dengan cara masing-masing.
Baca: Di Penyeberangan Kutablang Rasa Kemanusiaan Mati
Harga makanan di Banda Aceh dan Aceh Besar melonjak drastis sejak banjir bandang menimpa Aceh. Demikian juga kopi. Kopi pancung, sanger pahit, dan sanger pancung yang biasanya dijual Rp7000, kini menjadi Rp10 ribu.
Para pedagang mengaku harus menaikkan harga karena gas elpiji langka, gula mahal, lain-lain juga mahal.
Banyak rak makanan tidak lagi beroperasi. Banyak warkop mulai menjual kopi sachet seduh.
Di kediaman Hakim (24) di kawasan Meunasah Manyang Pagar Air, Aceh Besar, listrik baru menyala kembali pada Minggu (7/12/2025) malam. Pemadaman bergilir sudah terjadi sejak bencana banjir besar yang dimulai pada 26 November 2025.
Dua hari padam, sehari menyala. Demikian terus berlangsung. Masalahnya bukan hanya listrik yang padam. Karena setiap listrik berhenti mengalir, jaringan internet turut hilang. Diikuti oleh berhentinya pasokan air bersih dari PDAM Tirta Montala.
Tirta Montala yang menjadi sumber air bersih bagi warga Aceh Besar memiliki masalah klasik. Mereka sangat bergantung pada listrik PLN. Sehari saja listrik padam, maka dibutuhkan waktu dua hari air baru dapat mengalir kembali ke dalam pipa rumah pelanggan.
Bagaimana kalau listrik padam berulang-ulang? “Air sama sekali tak mengalir,” kata Hakim, yang sudah mendapatkan pasokan air dari sumur lama di belakang rumah. Kualitas air tersebut tak masuk klasifikasi. Tapi mau bagaimana lagi?
Pada Minggu (7/12/2025) Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan kepada Presiden Prabowo bahwa listrik di Aceh 93 persen telah pulih. Dia sangat yakin ketika memberi keterangan tersebut.
Demikian juga pernyataan Wakil Kepala Pusat Penerangan (Wakapuspen) TNI Kolonel (Arh) Osmar Silalahi, yang mengatakan listrik di Aceh telah menyala hampir 100 persen.
Osmar Silalahi mengatakan hal tersebut di Lanud Halim Perdanakusuma,Senin (8/12/2025) saat menggelar konferensi pers update bantuan untuk bencana Aceh-Sumatra.
Pernyataan Bahlil dan Osmar Silalahi ditertawakan oleh publik Aceh. Kedua pejabat tersebut dinilai asal bunyi, mengingat fakta di lapangan, listrik masih padam di banyak daerah. Bahkan di ibukota Provinsi Aceh; Banda Aceh, listrik masih menyala secara bergilir.
Listrik Padam Lagi
Dan…. Listrik padam lagi di seluruh Aceh. Senior Manager Keuangan, Komunikasi dan Umum (KKU) PLN, Nurlana, mengumumkan pemadaman tersebut.
Dalam pengumumannya pada Selasa (9/12/2025) malam, Nurlana menyebutkan listrik padam lagi di Aceh karena terjadi gangguan pada sistem kelistrikan Aceh karena terhentinya pasokan listrik dari PLTMG Arun dan PLTU Nagan Raya pada 9 Desember 2925.
Nurlana menyebutkan pemadaman listrik tersebut mereka dampak belum optimalnya infrastruktur kelistrikan pascabencana.
“Saat ini segala upaya pemulihan sedang dilakukan oleh petugas di lapangan,” terangnya.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo, pada hari yang sama mengatakan kerusakan infrastruktur listrik tergolong masif, sehingga membutuhkan penanganan khusus.
Salah satu kendala karena akses menuju titik jaringan sangat sulit dijangkau.
Enam tower transmisi jalur Bireuen-Arun roboh akibat banjir bandang dan tanah longsor. Lebar badan sungai yang awalnya 80 meter, kini mencapai 300 sampai 400 meter. Tower dan kabel dihanyutkan sungai.
Kerusakan jaringan transmisi juga terjadi di Bener Meriah dan Aceh Tengah. Juga transmisi Langsa-Pangkalan Brandan.
Sementara itu suplai cadangan dari PLTU Nagan Raya belum mampu memenuhi kebutuhan listrik di ibukota Provinsi Aceh.
Listrik akan menyala bertahap mulai 11-13 Desember tahun ini.













