
Komparatif.ID, Banda Aceh– Munculnya informasi penyedia jasa transportasi penyeberangan di Kutablang dan jasa RBT (ojek) di Juli, Bireuen, yang mengambil ongkos tak masuk akal, memantik perhatian Juru Bicara Posko Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi, Murthalamuddin.
Murthalamuddin dalam keterangannya pada Rabu (10/12/2025) mengingatkan semua pihak, termasuk penyedia jasa transportasi swasta–berizin dan tidak berizin– supaya menjunjung tinggi moralitas, demi menjaga martabat Aceh.
Baca: Di Penyeberangan Kutablang Rasa Kemanusiaan Mati
Dia menyebutkan tipikal asli orang Aceh yaitu suka menolong, ramah, apa adanya, dan memiliki semangat kemanusiaan yang tinggi.
Setiap orang berkewajiban menjaga citra Aceh. Jangan dirusak oleh kepentingan sesaat, memanfaatkan situasi untuk menangguk untung sebanyak-banyaknya.
Dia mengatakan dalam situasi normal saja, mengambil untung sebanyak-banyaknya dilarang di dalam agama. Apalagi di tengah bencana. Solidaritas kemanusiaan perlu dijaga dan dijunjung tinggi.
Para korban, warga terdampak, keluarga mereka, tidak memiliki uang yang banyak untuk saat ini. Mereka terpaksa menggunakan jasa transportasi karena alasan kemanusiaan dan ekonomi.
“Jangan tambah lagi beban mereka. Ambillah ongkos yang manusiawi,” imbau Murthalamuddin.
Demikian juga para relawan yang berangkat ke lokasi bencana. Mereka mengumpulkan donasi, mengantar bantuan, semuanya karena didorong oleh rasa kepedulian terhadap penderitaan rakyat Aceh.
“Mereka bekerja siang dan malam mengumpulkan donasi, mengantarkan bantuan untuk rakyat Aceh yang sedang ditimpa musibah. Permudahkanlah mereka. Mungkin Anda belum bisa memberikan layanan gratis karena alasan ekonomi.
Tapi setidaknya permudahkanlah urusan mereka. Jangan ambil ongkos gila-gilaan, karena itu tindakan zalim dan bukan ciri orang Aceh,” kata Murthalamuddin yang juga Plt Kadisdik Aceh.
Penanggung Jawab Posko Penyeberangan Teupin Mane-Beunyot, Kecamatan Juli, Bireuen, Teungku Marzuki, secara terpisah memberikan klarifikasi. Ojek yang mengambil ongkos hingga Rp70 ribu per trip, bukan warga setempat. Pelakunya ojek liar yang memanfaatkan situasi.
“Kami sudah koordinasi dengan pihak Polsek Juli, mencoba menelusuri pelakunya. Dapat kami pastikan bahwa pelakunya bukan dari kalangan kami. Kemungkinan ojek liar,” kata Marzuki.
Untuk ongkos jasa transportasi penyebarangan gantung di sana, setiap orang dikenakan biaya Rp25 ribu. Harga tersebut tidak kaku. Bisa dinego lagi. Yang mereka utamakan menyeberangkan orang/barang. Ongkos dapat disesuaikan.
“Jasa transportasi yang kami sediakan semangatnya untuk membantu saudara kita yang membutuhkan penyeberangan. Bukan semata mencari uang,” katanya.
Per 9 Desember 2025, bencana banjir Aceh menimpa 18 Kabupaten/kota di Aceh, 225 kecamatan, 3.658 desa KK terdampak 483.760, dengan jumlah jiwa 1.926.948.
Warga Aceh yang luka ringan 3.789 jiwa. Luka berat 479 orang. Meninggal dunia 391 orang, hilang 31 orang.
Pengungsi tersebar di 2.365 lokasi, dengan jumlah pengungsi 831.124 orang.
Rumah rusak/hilang berjumlah 157.138 unit. Hewan ternak yang mati/hilang 56.274 ekor. Kebun yang rusak 14.800 hektare, sawah yang rusak/hilang 40.328 hektare.
Jalan yang rusak 138 ruas. Jembatan rusak 336 unit.
Tempat ibadah 207 unit, sekolah 266 unit, ponpes 15 unit, RS/PKM 132 unit, dan perkantoran 258 unit.
Harta benda pribadi belum masuk hitungan.












