Home Khazanah Berpisah 23 Tahun, Dita Temui Temannya di Dusun Udik di Wonogiri

Berpisah 23 Tahun, Dita Temui Temannya di Dusun Udik di Wonogiri

23 tahun tak bertemu
Dita memeluk sahabatnya Saryati, yang tak pernah dia lihat selama 23 tahun. Foto: Tangkapan layar video amatir di Tiktok Mak_Dita_.

Setelah tak pernah bertemu 23 tahun lamanya, Dita akhirnya bertekad mencari sahabatnya yang “hilang”. Ketika bertemu, mereka meluapkan rindu. Dita menyampaikan “salam” dari Samilah, sahabat mereka yang dua tahun lalu meninggal dunia.

Kahlil Gibran, seorang filsuf Lebanon-Amerika dalam sebuah puisi naratifnya menulis;

Sahabatmu adalah jawaban atas kebutuhanmu. Dialah ladangmu yang kau tabur dengan kasih dan kau tuai dengan ucapan syukur. Dan Dialah meja makanmu dan tempat perapianmu.

Mungkin Dita tak pernah membaca puisi naratif tersebut. Tapi ia mewujudkan arti tersurat dari pesan yang ditulis oleh Kahlil Gibran dalam bentuk tindakan nyata.

Baca: Dikira Sudah Mati, Mahdi Ditinggal Nikah, Calon Istri Dipinang Teman

Dita, pemilik akun Tiktok mak_dita_, seorang penggemar mobil tua bangka (motuba) yang beralamat di Klaten, Daerah Istimewa Yogyakarta, rela menempuh perjalanan tidak mudah, demi bertemu dengan sahabatnya yang sudah sangat lama berpisah.

Kisah itu dibagikan dalam bentuk video pendek di akun Tiktok-nya yang diakses Komparatif.ID pada Selasa, 24 Februari 2026.

23 Tahun Mereka Tak Pernah Bertemu

23 tahun lalu, mereka masih gadis. Dita, Samilah, dan Saryati, bersahabat dekat. Mereka sering berbagi suka dan duka. Hingga kemudian, mereka harus mengurusi hidup keluarga masing-masing.

Dita dan Saryati telah berteman sejak SD. Ketika SMA, Saryati berkenalan dengan Samilah. Mereka beda sekolah. Tapi berteman akrab. Sejak berkenalan, Samilah dan Saryati jadi sangat akrab, menambah erat persahabatan trio cewek tersebut.

Setelah lulus SMA, Saryati kembali ke kampung halamannya, di Dusun Manggung, Tirtosworo, Kecamatan Giriwoyo, Wonogiri, Jawa Tengah. Sejak pulang kampung, Saryati jarang berkomunikasi.

Dita sendiri terakhir kali bertemu pada tahun 2002, ketika menjenguk sang sahabat yang baru melahirkan.

Sedangkan dengan Samilah, mereka kerap bertemu. Setidaknya bertemu tiap kali Lebaran.

Samilah memiliki kerinduan yang begitu besar kepada Saryati. Samilah berkali-kali mengajak Dita supaya mereka mengunjungi Saryati ketika mudik Lebaran. Mereka telah sepakat untuk menjenguk sang sahabat. Tapi selalu saja ada kendala.

Hingga pada suatu saat Samilah jatuh sakit. Dia masih memendam rindu kepada sang sahabat. Kerinduan yang meletup-letup setelah 21 tahun lamanya tidak pernah bertemu.

Hingga akhirnya dia mengembuskan nafas terakhirnya dua tahun lalu, Samilah tidak pernah melihat Saryati; meski rindunya tak tertahankan.

Kepergian Samilah membuat Dita merasa sangat kehilangan. Sang sahabat, tempat ia berbagi cerita ketika muda, kini telah pergi. Dita teringat dengan rencana mereka berdua yang tak kunjung wujud;menjenguk Saryati di kampung halamannya.

Karena rasa rindu dan berutang komitmen dengan almarhumah, akhirnya Dita membuat rencana sendiri. Dia harus mengunjungi Saryati.

Rencana itu dia sampaikan jauh-jauh hari kepada suaminya. Alhamdulillah, sang belahan jiwa memberikan izin. Anak mereka tertua ikut menemani Dita. Yang lain sudah ada agenda sendiri. Karena jarak antara Klaten-Wonogiri tidak begitu jauh, sang suami tidak ikut.

Tidak mudah menemukan Dusun Manggung, Desa Tirtosworo. Desa udik itu letaknya terpencil. Apalagi sudah 23 tahun Dita tak pernah datang ke sana. Banyak jalan yang telah berubah lokasi.

Dita harus sering bertanya ke sana-kemari sepanjang perjalanan. Dia keluar masuk kampung pedalaman. Keluar masuk hutan, dan akhirnya, dia dan anaknya tiba di Dusun Manggung.

Ketika pertama kali melihat Saryati, setelah 23 tahun tak pernah berjumpa, Dita langsung memeluk sang sahabat. Demikian juga Saryati. 23 tahun tak pernah bertemu bukanlah waktu yang singkat. Berpuluh ton rindu telah berkumpul di dalam hati. Mereka berpelukan dengan rangkulan yang sangat kuat.

Dita sampai menangis, mengingat pertemuan itu sudah sangat terlambat. Terjadi setelah Samilah tak ada lagi di dunia ini. Teman yang sangat mencintai temannya, tak sempat melihat paras Saryati yang teramat dirindukannya.

Malam itu, di dalam rumah Saryati, Dita dan sahabatnya itu ngobrol hingga larut malam. Bercerita tentang masa lalu, kisah bersama Samilah, dan kisah-kisah lain, yang kadang menguras air mata, dan juga memancing tawa.

Malam itu, terasa sangat indah. Setelah 23 tahun tak pernah berjumpa, kini mereka sedang berbicara satu sama lain; rasa-rasanya seperti mimpi bagi keduanya.

Esoknya Dita Pamit. Dia harus pulang. Harus melanjutkan hidupnya bersama keluarganya. Saryati melambaikan tangan. Berpesan supaya kapanpun sang sahabat mau datang, ia akan menyambut dengan tangan terbuka.

Langkah kaki Dita menanjaki jalan semen menanjak, terasa lebih ringan. Ia melambai ke arah Saryati di pagi itu, tatkala langkahnya secara teratur meninggalkan Dusun Manggung yang harmoni.

Your friend is your needs answered.

He is your field which you sow with love and reap with thanksgiving.

And he is your board and your fireside. For you come to him with your hunger, and you seek him for peace.

When your friend speaks his mind you fear not the “nay” in your own mind, nor do you withhold the “ay.”

And when he is silent your heart ceases not to listen to his heart;

For without words, in friendship, all thoughts, all desires, all expectations are born and shared, with joy that is unacclaimed.

Kahlil Gibran.

 

Previous articleKunjungi Bireuen, Menteri PU Sampaikan 4 Prioritas Penanganan Kerusakan Infrastruktur
Next articleSekda Aceh Pimpin Rapim Percepatan APBA 2026

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here