
Islam pernah Berjaya di Sisilia yang beribukota Palermo. Pemerintahan Islam silih berganti di sana. Bermula tahun 827 Masehi, dan berakhir pada 1091.
Bagi pencinta Serie A (Liga Italia) tentu tidak asing dengan nama Palermo, sebuah klub sepakbola yang bermarkas di Kota Palermo, yang berada di Pulau Sicilia, yang juga salah satu dari lima daerah otonom di Italia. Nama resminya saat ini Regione Siciliana.
Bagi penggemar sejarah Islam, Palermo bukanlah sebatas region dalam negara Itali. Tapi memiliki kaitan erat dengan kegemilangan pemerintahan Islam di abad pertengahan. Islam bukan hanya berhasil tumbuh besar di Andalusia (Spanyol dan Portugal), tapi juga bertumbuh besar selama 250 tahun di Sisilia, di tepian Laut Mediterania.
Pulau Sisilia jatuh ke tangan pemerintahan Islam sejak kampanye militer yang dimulai pada 652 Masehi. Pasukan Muslim dari Ifriqiya (sebuah wilayah bersejarah yang kini meliputi Tunisia modern, Aljazair timur, dan sebagian Libya), berhasil menguasai pulau tersebut.
Keemiran Islam di Sicilia dipancangkan mulai 827-909 dengan status Provinsi Emirat Aghlabid yang berpusat di Ifriqiya. Setelah Dinasti Aghlabid jatuh, Sisilia dipimimpin oleh Kekhalifahan Fathimiyyah (909-948). Kemudian berdiri sebagai emirate otonom di bawah kekuasaan Dinasti Kalbid sepanjang 948-1044. Selanjutnya dikuasai oleh berbagai keemiran hingga kemudian Islam total pamit dari Palermo dan Sisilia.
Baca: Antara Madrid, Banda, dan Narasi Kota Madani
Di bawah pemerintahan Muslim, Sisilia menjadi multiagama dan multibahasa, mengembangkan budaya Arab-Bizantium yang khas yang menggabungkan unsur-unsur migran Arab dan Berber Islam dengan unsur-unsur komunitas Latin, Yunani, dan Yahudi setempat.
Umat ​​Kristen dan Yahudi ditoleransi di bawah pemerintahan Muslim sebagai dhimmi tetapi dikenai beberapa pembatasan; mereka juga diharuskan membayar jizya, atau pajak kepala, dan kharaj atau pajak tanah, tetapi dibebaskan dari pajak yang harus dibayar oleh umat Muslim
Pemerintah Muslim juga membawa berbagai tanaman baru ke tanah Sisilia, seperti limau, lemon, pistachio, dan tebu. Pemerintah Islam berhasil membangun Palermo sebagai pusat perdagangan paling berpengaruh di Laut Mediterania. Ibukotanya, Balarm (Palermo) bertumbuh menjadi kota perdagangan, kota ilmu pengetahuan, dan kota seni.
Orang-orang Eropa tercengang melihat teknologi sistem irigasi canggih yang dibangun oleh keemiran yang memimpin Sisilia.
Palermo Kota Modern Nan Megah
Ibn Jubair, seorang penjelajah, ahli geografi, dan penyair Arab dari Andalusia yang berkunjung ke Sisilia pada akhir abad ke-12, menggambarkan kemegahan Palermo dan sekitarnya dengan penuh kekaguman.
Ia menulis Palermo sebagai ibukota dianugerahi dua keutamaan, kemegahan dan kekayaan. Kemegahan dan keanggunan menghiasi alun-alun dan pedesaan; jalan-jalan dan jalan raya lebar, dan mata terpesona oleh keindahan lokasinya.
Ini adalah kota yang penuh keajaiban, dengan bangunan-bangunan yang mirip dengan Cordoba, dibangun dari batu kapur. Aliran air permanen dari empat mata air mengalir melalui kota. Ada begitu banyak masjid sehingga mustahil untuk dihitung. Sebagian besar juga berfungsi sebagai sekolah. Mata terpesona oleh semua kemegahan ini.
Sejarah mencatat, mulai abad XI, perpecahan mulai terjadi di internal elit Islam di Sisilia. Sengketa perebutan kekuasaan membuat kekuatan Islam secara perlahan meredup.
Tentara bayaran Normandia Kristen di bawah Roger I akhirnya menaklukkan pulau itu, mendirikan County Sisilia pada tahun 1071. Kota Muslim terakhir di pulau itu, Noto, jatuh pada tahun 1091, menandai berakhirnya pemerintahan Islam independen di Sisilia.
Sebagai Count Sisilia pertama, Roger mempertahankan toleransi dan multikulturalisme yang relatif; Muslim Sisilia tetap menjadi warga negara. Hingga akhir abad ke-12, dan mungkin hingga tahun 1220-an.
Muslim membentuk mayoritas penduduk pulau itu, dan bahkan menduduki posisi di istana kerajaan. Tetapi pada pertengahan abad ke-13, Muslim yang belum meninggalkan atau berpindah agama ke Kristen diusir, mengakhiri sekitar empat ratus tahun kehadiran Islam di Sisilia.
Lebih dari dua abad pemerintahan Islam telah meninggalkan beberapa jejak di Sisilia modern. Pengaruh Islam (Arab)—meskipun kecil- masih tersisa dalam bahasa Sisilia dan nama-nama tempat setempat; pengaruh yang jauh lebih besar terdapat dalam bahasa Malta yang berasal dari bahasa Sisilia-Arab. Sisa-sisa budaya lainnya dapat ditemukan dalam metode pertanian dan tanaman, masakan, dan arsitektur pulau tersebut.
Kini, Islam di Sisilia hanya tersisa jejak melalui bangunan-bangunan Mediterania-nya yang megah dan indah. Tinggalan peradaban tersebut menjadi daya tarik wisatawan berkunjung ke sana, menapaki kegemilangan masa lalu di tepi laut Mediterania, mengaguminya dengan perasaan campur aduk.
Sumber rujukan: William Dalrymple on Sicily’s Islamic past, The Peoples of Sicily: a Multicultural Legacy, Aljazeera, hiphen.com, dan sumber-sumber lain.












