Angka perceraian di Mauritania tertinggi di dunia Arab. Tapi janda Mauritania diakui lebih menggoda di mata pria. Banyak anak-anak nakal di jalanan berasal dari keluarga broken home. Sungguh miris!
Republik Islam Mauritania merupakan sebuah negara di Afrika Barat. Di negara ini jumlah penduduk beragama Islam mencapai 99,9 persen, disusul Kristen 0,1 persen. Umumnya yang non Muslim merupakan para ekspatriat yang menetap sementara waktu karena pekerjaannya di negara itu.
Baca: Derita Janda India, Tak Pantas Hidup dan Diusir dari Keluarga
Secara kebudayaan, Republik Islam Mauritania dipengaruhi oleh Berber kuno, Moor, dan Prancis. Terutama dalam bidang musik dan kuliner.
Menurut catatan situs iExplorer.com, yang disitat Komparatif.ID, Minggu, 24 Mei 2026,Berber merupakan suku pertama yang datang dari wilayah sub Sahara utara. Nama negara tersebut juga berasal dari bahasa Berber. Menurut catatan sejarah, mereka pertama kali datang ke sana pada abad-3, kemudian diikuti oleh suku Arab pada abad-8.
Selama 500 tahun berikutnya, negara ini tetap menjadi salah satu pusat perdagangan terpenting di wilayah Sub-Sahara. Kekaisaran Almoravid menguasai wilayah tersebut selama abad ke-11 dan ke-12, termasuk perdagangan budak, emas, dan garam, menjadikan dinasti tersebut sangat kuat.
Awal abad ke-19 Prancis yang memiliki kepentingan lain di Afrika Barat datang ke sana. Namun, Mauritania diperlakukan berbeda dari koloni Prancis lainnya, karena tidak berada di bawah pemerintahan langsung, tetapi dikendalikan melalui para pemimpin Islam. Banyak yang berpendapat bahwa perbedaan inilah yang membantu melestarikan sebagian besar budaya dan cara hidup tradisional negara tersebut.
Pasar Para Janda Mauritania
Angka perceraian di Mauritania sangat tinggi dibandingkan dengan negara-negara Arab di sekitarnya. Mencapai 31 persen dari total pernikahan. Bahkan mencapai 60 persen bila diukur dari usia pernikahan satu sampai lima tahun. Setiap perceraian tetaplah sebuah luka. Para janda Mauritania memilih melupakan semua kenangan dari pernikahannya yang gagal sebelum kembali ke keluarganya.
Para janda akan menjual semua harta benda isi rumah yang menjadi haknya di sebuah pasar yang kemudian dikenal dengan sebutan Widows Market –Pasar Para Janda—meskipun tidak semua pedagang di sana merupakan janda.
Para janda Mauritania menjual barang-barang rumah tangga dari pernikahan sebelumnya, dengan harga murah. Itulah yang menyebabkan pasar tersebut diserbu oleh kalangan ekonomi menengah-bawah.
Satu kehormatan bagi perempuan yang luar biasa di sana. Setiap kali seorang perempuan diceraikan, atau memilih bercerai, maka ia akan pulang ke keluarganya. Setibanya di rumah, dia akan disambut dengan pesta sebagai bentuk sambutan, sekaligus menyelamatkan nama baiknya di tengah komunitas sosial.
Secara umum para pria di Mauritania lebih menyukai para janda ketimbang gadis. Akan tetapi bagi para janda Mauritania, mereka lebih menyukai pria lajang, karena dianggap lebih menjanjikan, dan tidak memiliki pengalaman KDRT.
Di mata para janda di sana, kegagalan pernikahan sebelumnya akibat dari lelaki yang tidak mampu memikul tanggung jawab, atau karena sudah sering melakukan KDRT terhadap pasangannya.
Bagi para janda Mauritani, menikah berkali-kali bukanlah sebuah aib. Justru menjadi pengakuan bahwa sebenarnya mereka menarik di mata para pria. Jadi, berkali-kali janda, dan berkali-kali menikah kemudian cerai, tidaklah dianggap sebagai sebuah cemar.
Pun demikian, dalam banyak perceraian, selalu saja menimbulkan dampak buruk bagi anak-anak. Di Mauritania, kebanyakan anak jalanan dan anak nakal di jalanan berasal dari keluarga yang ayah dan ibunya bercerai. Pertikaian kedua orang tua mereka, telah menyebabkan anak-anak itu tak terawat dan terluka, kemudian mencari pengakuan lain di jalanan.
Mauritania bukan saja tentang janda. Banyak hal lain yang dimiliki oleh negara itu. Termasuk keberagaman kebudayaan. Sama seperti di negara-negara Arab lainnya, perempuan Mauritania yang telah menikah harus menaikkan berat badannya.
Dalam sudut pandang orang-orang –khususnya Arab Mauritius—perempuan bertubuh montok memiliki status yang lebih bernilai, seksi dan semlohai. Hal ini dipengaruhi oleh cara pandang lama, serta tingkat pendidikan yang lebih rendah.
Perempuan berusia 19-49 tahun di sana umumnya memiliki berat badan berlebih. Fakta tersebut telah memicu berbagai persoalan kesehatan terhadap wanita di sana.
Berdasarkan sebuah penelitian, tingginya prevalensi kelebihan berat badan, obesitas, dan obesitas perut di kalangan wanita usia subur yang tinggal di Nouakchott, Mauritania, merupakan penyebab kekhawatiran serius.
Menurut peneliti, salah satu pekerjaan rumah besar bagi pemerintah di sana yaitu mempromosikan perubahan gaya hidup dan cara pandang terhadap kasus berat badan berlebih. Di sana, kelebihan berat badan perempaun bukan lagi sesuatu yang patut dianggap biasa.
Berdasarkan penelitian terhadap seribuan wanita di Kota Nouakchott, menunjukkan bahwa kelebihan berat badan dan obesitas sangat umum terjadi, masing-masing mempengaruhi 31,6% dan 39,0% wanita, sementara obesitas abdominal bahkan lebih umum, mempengaruhi hingga 85,4% wanita berdasarkan lingkar pinggang (WC).
Kondisi ini secara signifikan terkait dengan faktor-faktor seperti usia, status perkawinan, perilaku sedentari, dan tingkat pendidikan yang rendah.
Sumber: iExplorer, bmh.or.id, observer.co.uk, pmc.ncbi.nlm.nih.gov.













