Home Opini Ketika Banjir Merenggut Jambo Bata dan Harapan Warga Blang Panjoe

Ketika Banjir Merenggut Jambo Bata dan Harapan Warga Blang Panjoe

Ketika Banjir Merenggut Jambo Bata dan Harapan Warga Blang Panjoe
Mahasiswa Prodi Ilmu Administrasi Negara UIN Ar-Raniry. Foto: HO for Komparatif.ID.

Bagi masyarakat Desa Blang Panjoe, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, banjir pada akhir November 2025 lalu meninggalkan trauma, terutama karena menghancurkan sumber penghidupan utama warga. Di Blang Panjoe, sebagian besar masyarakat menggantungkan hidupnya dari bekerja di jambo bata atau pabrik bata.

Selama bertahun-tahun, sebagian besar masyarakat Blang Panjoe menggantungkan hidup pada pekerjaan di jambo bata. Dari sanalah kebutuhan sehari-hari dipenuhi, anak-anak disekolahkan, dan kehidupan rumah tangga dijalani.

Namun, setelah banjir datang, semua itu berubah drastis. Banyak jambo bata tertimbun endapan tanah, rusak diterjang arus, bahkan hancur hingga tak lagi dapat digunakan.

Area kerja dipenuhi lumpur, kayu, dan pohon tumbang yang terbawa arus, membuat aktivitas produksi terhenti total. Berhentinya jambo bata berarti berhentinya denyut ekonomi desa, dan bagi warga, itu sama artinya dengan hilangnya pegangan hidup.

Dampak dari kondisi ini tidak hanya terasa secara ekonomi, tetapi juga secara psikologis. Banyak kepala keluarga kini tidak memiliki penghasilan tetap, sementara kebutuhan hidup tidak pernah berhenti.

Trauma akibat banjir berpadu dengan kecemasan akan masa depan, menciptakan tekanan yang berat bagi masyarakat. Di sisi lain, ketidakpastian tentang kapan pekerjaan bisa kembali berjalan membuat warga berada dalam situasi yang serba sulit dan penuh kekhawatiran.

Meski demikian, harapan seharusnya tidak dibiarkan padam. Masyarakat tidak hanya membutuhkan bantuan darurat sesaat, tetapi juga pendampingan jangka panjang agar dapat bangkit kembali, baik secara ekonomi maupun psikologis.

Salah satunya melalui kehadiran mahasiswa Program Studi Ilmu Administrasi Negara Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh yang melaksanakan Kuliah Pengabdian Masyarakat Tematik Kebencanaan di Desa Blang Panjoe sejak Rabu, 14 Januari 2026.

Upaya tersebut tidak berjalan sendiri. Mahasiswa bekerja sama dengan Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Aceh serta Satgas RAPI Aceh, yang telah lebih dahulu terjun ke lapangan sejak hari-hari awal banjir dan masa tanggap darurat.

Baca juga: UIN Ar-Raniry Jadi Kampus Performa Riset Terbaik di Luar Jawa

Bersama pemerintah, mahasiswa IAN UIN Ar-Raniry ikut membantu penyaluran bantuan kepada masyarakat hingga saat ini.

Namun, hingga kini, Desa Blang Panjoe masih menghadapi kebutuhan yang sangat mendesak. Tanah yang menimbun lokasi jambo bata tidak mungkin dibersihkan hanya dengan tenaga manual.

Pohon-pohon besar dan kayu yang tumbang masih berserakan, menghambat akses dan aktivitas warga. Tanpa kehadiran alat berat untuk mengangkut tanah dan membersihkan sisa-sisa banjir, proses pemulihan ekonomi akan berjalan sangat lambat. Setiap hari keterlambatan berarti semakin panjang pula waktu warga harus bertahan tanpa penghasilan, dan semakin dalam rasa putus asa yang mereka rasakan.

Kekhawatiran ini semakin terasa menjelang datangnya bulan suci Ramadan. Dalam kondisi normal, Ramadan adalah bulan yang penuh keberkahan dan ketenangan batin. Namun bagi masyarakat Blang Panjoe yang terdampak banjir, Ramadhan justru memunculkan kecemasan baru.

Mereka khawatir tidak mampu memenuhi kebutuhan sembako dan konsumsi harian keluarga, sementara sumber penghasilan belum kembali pulih. Kekhawatiran ini nyata, sederhana, dan dirasakan hampir di setiap rumah.

Bantuan sembako untuk memenuhi kebutuhan dasar selama Ramadan menjadi harapan besar masyarakat. Bantuan tersebut bukan sekadar soal materi, tetapi juga tentang menjaga martabat warga agar dapat menjalani ibadah dengan lebih tenang.

Di saat yang sama, bantuan alat berat untuk mempercepat pembersihan desa harus menjadi prioritas, agar aktivitas ekonomi, khususnya jambo bata, dapat segera kembali berjalan.

Bencana memang telah meninggalkan luka yang dalam bagi masyarakat Blang Panjoe. Namun, luka itu tidak harus berakhir pada keputusasaan. Dengan dukungan nyata dari pemerintah, kepedulian relawan, dan kerja bersama yang berkelanjutan, harapan masih bisa ditanam dan dirawat.

Penulis: Toufiqul Hafizh, dkk. Mahasiswa Prodi Ilmu Administrasi Negara UIN Ar-Raniry.

Previous articleAnjing Itu Bernama Bandit
Next articledr. Supandi Hasan, Sp.PD, Dokter Ganteng Hafiz Quran Alumnus Universitas Muhammadiyah Surakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here