Home Entertainment Anjing Itu Bernama Bandit

Anjing Itu Bernama Bandit

Anjing Itu Bernama Bandit
Ilustrasi. Foto: HO for Komparatif.ID.

Ini cerita tentang seekor anjing jantan bernama Bandit. Bandit tersebut hidup di era 2000-an di sebuah desa di Aceh.

Cerita ini disampaikan oleh Rahmat, putra dari pemilik anjing tersebut. Ya, pria 35 tahun tersebut menceritakan kisah Bandit, ketika ia sedang ngaso di sebuah warkop di Bireuen, Aceh.

Rahmat tak ingat secara utuh hal ihwal dari mana anjing itu berasal. Kemungkinan besar berasal dari kawasan pemukiman tempat ia menetap kala itu.

Suatu hari ayahnya Rahmat membawa pulang seekor anak anjing jantan yang sangat ganteng. Anjing itu dipelihara dengan baik, hingga tumbuh sebagai seekor anjing yang sangat cerdas, setia, dan tangkas.

Ketika besar, tubuh Bandit sangat kekar, berisi dan bersih. Anjing itu sangat menghormati teritorialnya. Dia tidak akan keluar dari halaman rumah, bila tidak ada kepentingan mendesak.

Bandit keluar dari halaman bilamana sang tuan mengajaknya berburu babi bersama kelompok pemburu babi di kampung. Meskipun perburuan babi berlangsung satu hari penuh, Bandit tetap berpatokan pada sang pemilik. Bila tuannya pulang, ia tak peduli keseruan berburu. Ia langsung pulang.

Diam-diam Bandit menaruh hati pada seekor betina kampung yang dikenalnya saat “mencari angin” kala sangat suntuk berdiam di halaman.

Bandit benar-benar sangat bucin kepada betina yang ia taksir. Ketika cintanya bersambut, ia pun memperlakukan sang kekasih dengan sangat istimewa.

Pada suatu hari istri sang tuan memberikannya makanan berupa kerak nasi yang berbentuk bulat–sesuai bentuk periuk nasi.

Baca juga: Harga Emas Meroket, Penjualan Emas BSI Tembus 2 Ton

Setelah menerima kerak nasi, Bandit segera menggali tanah. Kemudian menguburkan kerak nasi. Setelah tugas menyembunyikan kerak nasi selesai, Bandit segera berangkat keluar halaman.

15 menit kemudian dia kembali sembari mengajak sang kekasih. Bandit menggali kembali tanah tadi, dan mengambil kerak nasi. Mereka pun santap bersama. Saat santap siang itu, kedua anjing tersebut menunjukkan kemesraan.

Suatu hari, pasangan kekasih tersebut memadu cinta di tepi jalan kampung. Seorang pria dewasa melihat kedua anjing itu sedang indehoi. Timbul niat jahil. Pria tersebut melempari Bandit dan kekasihnya menggunakan batu.

Setelah hari itu, ternyata Bandit menyimpan amarah kepada lelaki dewasa yang telah merusak suasana. Baginya aksi pria itu tidak dapat dimaafkan. Di mata Bandit, pria itu merupakan seorang penjahat yang tidak dapat dimaafkan.

Setiap kali bertemu sang pria, Bandit langsung bereaksi. Bukan sekadar menggonggong, tapi lebih dari itu. Pria tersebut pasti akan dikejar.

Suatu ketika, pria tersebut merasa tidak aman lagi. Dia mulai ketakutan. Karena setiap bertemu dengan Bandit, pasti dia harus lari pontang-panting.

Setelah berdiskusi dengan sejumlah orang, akhirnya pemilik harus mengambil keputusan paling pahit. Demi kemaslahatan bersama, si Bandit harus dipindahkan. Meskipun berat, keputusan itu harus diambil.

Rahmat mengenang, Bandit bisa membedakan antara orang dewasa dan anak-anak.

Seringkali anak-anak mengganggu sang anjing jantan. Tapi dia tak ambil peduli. Paling, bila melihat anak yang pernah mengganggunya, si Bandit hanya menyalak sembari tiduran.

“Anjing itu tahu yang mana anak-anak dan yang mana orang dewasa. Ia tak melawan bila anak-anak yang melemparinya dengan kerikil. Tapi kepada pria dewasa yang satu itu, si Bandit sangat marah,” kata Rahmat sembari mengenang anjing terhebat yang pernah dipelihara di halaman rumahnya.

Previous articleAceh Tamiang Buka Lowongan Kerja Pembersihan Sisa Banjir
Next articleKetika Banjir Merenggut Jambo Bata dan Harapan Warga Blang Panjoe

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here