
Komparatif.ID, Sigli– Plt Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, mengimbau pelajar dan tenaga pendidik untuk menumbuhkan rasa empati, khususnya dalam membantu sesama yang terdampak musibah dan bencana.
Hal itu ia sampaikan saat mengunjungi SMA Negeri 1 Mutiara, Kabupaten Pidie pada Senin (1/12/25).
Di hadapan puluhan siswa dan tenaga pendidik, Murthalamuddin menegaskan pendidikan tidak hanya berkutat pada ruang kelas dan nilai akademik. Ia menilai sekolah harus menjadi ruang pembentukan karakter, terutama dalam hal solidaritas sosial.
“Dari sini sejarah modern Aceh ditulis. Dari sini juga kesukarelawanan insan pendidikan kami cetus. Maka dalam kesempatan ini, dari SMA 1 Mutiara Pidie, saya serukan ayo kita mulai sebuah pekerjaan memuliakan mereka yang sedang musibah,” katanya.
Ia mendorong siswa untuk tidak hanya berempati, tetapi juga terlibat langsung melalui aksi nyata. Murthalamuddin menyampaikan siswa tidak perlu menunggu instruksi ketika melihat sekolah lain terdampak bencana.
Baca juga: Gampong Alue Gandai Gunakan Dana Desa Untuk Kebutuhan Sembako Warga
Baginya, membersihkan sekolah korban banjir atau membantu pelajar lain merupakan bagian dari esensi pendidikan yang sebenarnya.
Selain bantuan tenaga, Murthala juga mengimbau agar siswa yang memiliki rezeki lebih dapat menyalurkan bantuan logistik. Ia mengusulkan agar donasi diperuntukkan bagi sekolah-sekolah yang membutuhkan, terutama yang berada di daerah terdampak.
Bantuan yang diminta mencakup perlengkapan sehari-hari pelajar, seperti tas, buku pelajaran, buku tulis, hingga sepatu.
“Jika ada kelebihan, bersedekahlah. Kalian boleh memilih ke sekolah mana yang akan dibantu. Pilihlah sebuah sekolah yang kira-kira membutuhkan,” ujarnya.
Murthalamuddin menjelaskan gerakan ini lahir dari keyakinan bahwa dunia pendidikan merupakan entitas hidup yang harus membawa manfaat bagi masyarakat luas. Ia meyakini nilai kebaikan hanya akan bermakna jika disuarakan dan diwujudkan melalui tindakan.
Gerakan tersebut diharapkan tidak berhenti pada jenjang SMA saja, tetapi berlangsung di seluruh tingkatan pendidikan mulai dari SD, SMP hingga SMA di Aceh.
Melalui inisiatif ini, Pemerintah Aceh berharap terbentuknya ekosistem pendidikan yang bukan hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki kepedulian sosial yang kuat dalam merespons situasi kemanusiaan di lingkungan sekitar.












