Home Opini Benarkah Rezeki Susah Ditakar dan Tidak Bisa Tertukar?

Benarkah Rezeki Susah Ditakar dan Tidak Bisa Tertukar?

Benarkah rezeki Susah Ditakar dan Tidak Bisa Tertukar?
Mas Dion, seorang spiritual coach dan digital strategist. Foto: HO for Komparatif.ID.

“Rezeki sudah dibagikan oleh Tuhan kepada manusia. Tapi karena ada sistem yang macet—kita tidak memberikannya secara adil—”

Kamu percaya atau tidak kalau rezeki itu sudah ditakar dan tidak bakal tertukar? Kebanyakan orang bilang iya sambil memegang erat-erat Surat Hud ayat 6.

وَمَا مِنْ دَآ بَّةٍ فِى الْاَ رْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَ يَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

“Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya.”

Sepintas, kedengarannya sangat menenangkan. Tapi coba kamu lihat ke luar jendela. Di luar sana, masih ada anak kecil yang perutnya kembung karena lapar. Masih ada orang yang tidur di emperan toko. Masih ada keluarga yang pagi ini bingung mau makan apa.

Bila rezeki sudah ditakar dan tidak mungkin tertukar, kenapa takarannya ada yang sangat kosong?

Mengapa ada yang kelebihan—rezekinya—sampai busuk di gudang?

Jangan-jangan kita selama ini salah baca ayat? Atau lebih parah: kita salah pakai ayat demi menutupi rasa bersalah.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita gemar mempersempit rezeki menjadi nominal yang masuk rekening. Uang, rumah, kendaraan, barang mewah yang kasat mata, yang bisa dipamerkan.

Baca juga: Arah Rezeki Suami Tergantung Posisi Tidur Istri

Padahal rezeki itu luas: kesehatan, ketenangan, nafas, bahkan masalah yang bikin kita dewasa.

Secara teori itu benar. Tapi coba kamu bayangkan: ada anak di daerah konflik, perutnya keroncongan, matanya sayu. Kita bilang, “Kamu dapat rezeki jiwa, Nak. Kesabaran itu rezeki.”

Bila kamu mendengar ada orang yang mengatakan demikian, apakah kamu mau menamparnya?

Kesabaran tidak bisa dimakan. Rezeki jiwa tidak bisa mengisi perut kosong.

Nah, di sinilah kegilaan kita. Kita menggunakan konsep “rezeki jiwa” untuk membungkam rasa bersalah, bukan untuk membantu.

Rezeki ego: yang membuat kamu puas secara duniawi. Duit, jodoh, karir, barang mewah.

Rezeki jiwa: yang bikin kamu tenang, ikhlas, sabar, dekat sama Tuhan.

Keduanya penting, tapi jangan pernah, sekalipun jangan pernah bilang kepada orang yang sedang kelaparan, “yang penting kamu dapat rezeki jiwa.”

Kalimat itu bukan nasihat bijak. Itu merupakan bentuk penghalalan ketidakadilan. Kita yang perut kenyang enak-enak saja bicara begitu.

Tuhan sudah menakar rezeki kita. Tapi Tuhan juga mengirimkannya rezeki melalui tangan manusia. Lalu mengapa sistem rezeki sangat timpang di dunia ini? jawabannya tidak populer tapi jujur. Karena kita macet di saluran.

Rezeki sudah dibagikan oleh Tuhan kepada manusia. Tapi karena ada sistem yang macet—kita tidak memberikannya secara adil—

Kalau ada orang kelaparan, jangan tanya, “kenapa Tuhan tidak kasih makan?”. Tapi tanyalah kepada diri sendiri,” kapan terakhir kali aku kasih makan orang lapar.”

Supaya kita tidak munafik soal rezeki, berhentilah menggunakan dalil takaran rezeki, demi bisa tidur nyenyak saat melihat kemiskinan.

Surat Hud ayat 6 bukan obat penenang. Itu peringatan bahwa rezeki sudah diatur, tapi caranya sampai ke sana harus lewat sistem. Kalau ada orang butuh, bantulah dia, jangan tanya apakah dia layak. Rezeki bukan hadiah untuk orang baik. Rezeki adalah hak setiap orang.

Jangan meromantisasi kemiskinan. Miskin bukan tanda kesalihan. Kaya juga bukan tanda keburukan. Tapi miskin di tengah kelimpahan adalah kegagalan sistem, sekaligus kegagalan kita sebagai manusia.

Percaya rezeki sudah tertakar, silakan. Tapi jangan jadikan keyakinan itu sebagai bantal empuk untuk tidak peduli.

Rezeki jiwa tanpa rezeki ego yang cukup untuk hidup layak, itu namanya romantisasi kemiskinan. Dan romantisasi itu hanya enak diucapkan oleh orang yang perutnya sudah kenyang.

Sekarang tanya pada dirimu, rezeki siapa yang tertahan di tanganmu hari ini?

Artikel ini ditulis oleh Mas Dion, seorang spiritual coach dan digital strategist. Ditulis di linimasa Threads. Disitat dengan penyesuaian bahasa, tanpa pengurangan makna dan tujuan.

Previous articlePolisi Ungkap Kasus Sabu di Seunuddon, 3 Pelaku Diamankan
Next articleSaputra FC Menang Tipis Atas Sido Mulyo FC di HUT Rampak FC IV

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here