Komparatif.ID, California— Seorang wanita KayLynne Felthager mengalami stroke usai mengkretek leher untuk meredakan ketegangan.
Peristiwa itu terjadi saat ia sedang mengemudi pulang dari sebuah pusat perbelanjaan Walmart, ketika ia mulai merasakan sakit kepala dan secara refleks menolehkan lehernya ke kanan untuk mengurangi rasa tidak nyaman.
Kebiasaan mengkretek leher sudah sering dilakukan KayLynne setelah seharian bekerja. Namun, kali ini ia langsung merasakan sesuatu yang berbeda. Sesaat setelah terdengar bunyi “krek” dari lehernya, rasa sakit tajam muncul dan terasa tidak seperti biasanya.
Meski demikian, ia tidak segera memeriksakan diri ke dokter. Selama beberapa hari berikutnya, rasa sakit di lehernya tidak juga hilang, tetapi ia hanya mengandalkan obat pereda nyeri yang dijual bebas.
Kondisinya memburuk lima hari kemudian. Saat itu, KayLynne sedang duduk di dapurnya, tiba-tiba cahaya terang menyambar di depan matanya dan penglihatannya menghilang.
Ia mencoba berkedip, namun tidak ada perubahan. Sekitar 15 menit kemudian, penglihatannya kembali, dan ia mengira kejadian tersebut hanya sesuatu yang aneh dan tidak berulang.
Tak lama berselang, KayLynne merasakan kesemutan di seluruh sisi kanan tubuhnya yang kemudian berubah menjadi mati rasa. Situasi menjadi semakin serius ketika ia mulai kesulitan berbicara.
Baca juga: Waspadai Stroke Setelah Lebaran
Alih-alih mengucapkan kata-kata dengan jelas, yang keluar hanyalah celoteh yang tidak dapat dipahami. Menyadari kondisi tersebut, suaminya segera membawanya ke rumah sakit.
Di rumah sakit, tim medis melakukan pemeriksaan CT scan dan menemukan KayLynne telah mengalami stroke.
Setelah mendengarkan penjelasannya mengenai rasa sakit di leher yang muncul setelah ia meregangkan leher beberapa hari sebelumnya, dokter menyampaikan gerakan tersebut menyebabkan diseksi arteri.
Kondisi itu memicu terbentuknya gumpalan darah yang kemudian mencapai otak dan menyebabkan stroke. Beruntung, gumpalan darah tersebut cepat larut sehingga tindakan operasi tidak diperlukan.
Kini, KayLynne Felthager telah pulih sepenuhnya. Ia mengaku kejadian tersebut mengubah cara pandangnya terhadap tubuh dan menyadarkannya bahwa kondisi serius dapat terjadi secara tiba-tiba.













