Komparatif.ID—Lelaki yang tak bahagia dalam pernikahan, potensi diserang stroke mencapai 69,2 %. Pria yang tak bahagia dalam pernikahan, memiliki peluang lebih besar kematian dini.
Sebuah studi baru yang diterbitkan di dalam Journal of Clinical Medicine, menyebutkan kondisi pria yang tak bahagia dalam pernikahan, menyebabkan ianya rentan diserang cerebrovaskular accident (CVA), seperti stroke, atau penyumbatan pembuluh darah.
Kegagalan dalam rumah tangga, kecewa dalam berumah tangga, menyebabkan potensi serangan CVA sama besarnya seperti melakukan kebiasaan buruk; merokok dan kurangnya aktivitas fisik.
Panji Nursamsi, seorang Marriage Practitioner, dalam utasnya di Threads, yang disitat Komparatif.ID, Selasa, 5 Mei 2026, menuliskan menurut penelitian Lev-ari, Gepner & Goldbourt (2021) yang tayang di Journal of Clinical Medicine, berdasarkan penelitian terhadap 8.945 pria selama 32 tahun, ditemukan hasil yang mencengangkan.
Pria yang tak bahagia dalam pernikahan memiliki risiko stroke 94% lebih tinggi, dan risiko kematiannya 21 % lebih tinggi.
Baca: Kiat Menjaga Pernikahan Makin Harmonis
Bila pernikahan itu runtuh, menurut penelitian Wilson (2025) melalui systematic review terhadap 75 studi dari 30 negara, dengan data lebih dari 106 juta pria, menemukan hasil yang lebih mencengangkan.
Pria yang tak bahagia dalam pernikahan kemudian bercerai memiliki risiko kematian akibat bunuh diri hampir tiga kali lipat lebih tinggi dari pria yang menikah. Pria yang berstatus pisah hampir lima kali lebih tinggi. Satu dari lima kematian akibat bunuh diri pada pria terjadi dalam konteks keretakan hubungan.
Timbul pertanyaan, mengapa pria lebih rentan secara psikologis ketika pernikahan mereka hancur?
Sebuah rangkuman yang disusun secara konsisten dalam Psychology Today (2021), mayoritas pria membangun seluruh jaringan dukungan emosional utamanya di dalam pernikahan. Ketika pernikahan runtuh, jaringan itu hampir seluruhnya runtuh bersamanya.
Dengan demikian, statemen “Cowok salah pilih istri bisa diperbaiki, tapi kalau cewek salah pilih suami hancurlah hidupnya.” Merupakan pernyataan yang tidak seluruhnya benar. Pernyataan itu mengandung kebenaran parsial.
Sesuai dengan penelitian Smock, Tzoc & Carr (2024) dalam Journal of Family and Economic Issues, berdasarkan data longitudinal selama 28 tahun, hasilnya perempuan secara konsisten mengalami penurunan pendapatan yang lebih tajam dari laki-laki, setelah bercerai.
Hal ini diakibatkan oleh beban pengasuhan dan kesenjangan upah yang sudah ada sebelumnya. Studi Lin & Brown (2022) memperkuat bahwa perempuan mengalami penurunan standar hidup 45% setelah bercerai. Laki-laki di angka 21%.
Secara structural, perempuan juga menanggung stigma sosial yang lebih besar. Bose (2024) dalam Frontiers in Sociology, menyebutkannya sebagai double burden. Di satu sisi menanggung kehilangan personal, di sisi lain menghadapi tekanan sosial, stigma, dan tuntutan untuk diam.
Di dalam konteks budaya Asia, termasuk Indonesia, beban tersebut terasa lebih berat.
Dengan demikian, dari dua fakta ilmiah tadi, dapat dilihat secara lebih adil, bahwa salah memilih pasangan, memiliki risiko yang harus ditanggung. Bahkan ternyata pria lebih rentan hancur berkali lipat bila hubungan di dalam pernikahan tidak bahagia.
Dalam konteks Islam, tidak ada pengajaran bahwa satu gender lebih hancur dari yang lain ketika pernikahan salah arah. Islam mengajarkan standar yang sama untuk semua, pilih dengan ilmu, bukan hanya perasaan.
Nabi Muhammad bersabda, “pilihlah pasangan karena agamanya, maka kamu akan beruntung.” HR. Nukhari & Muslim.
Kata beruntung berlaku untuk laki-laki dan perempuan. Konsekuensi salah pilih pun, ditanggung oleh keduanya.













