
Komparatif.ID, Washington— Pemerintah Donald Trump berencana menjual dua belas ribu badan bom kepada Israel. Meskipun tanpa persetujuan kongres, Trump telah menyetujui penjualan senjata senilai $151,8 juta untuk militer Israel. Jumlah tersebut setara dengan 2,57 triliun rupiah.
Menurut laporan yang disitat Komparatif.ID dari Anadolu Ajansi, Sabtu, 7 Maret 2026, tanpa persetujuan kongres, Presiden Donald Trump telah menyetujui penjualan persenjataan militer untuk Israel.
Disebutkan, dengan menggunakan wewenang darurat, Trump sepakat menjual 1000 pon (500 kg) bom. Persetujuan Trump disepakati pada Jumat, 6 Maret 2026.
Biro Urusan Politik-Militer Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyebutkan penjualan persenjataan kepada Israel terdiri dari 12 ribu badan bom serbaguna BLU-110A/B seberat 1.000 pon, bersama dengan layanan rekayasa, logistik, dan dukungan teknis.
Dalam pernyataannya, Biro Urusan Politik-Militer menerangkan, Menteri Luar Negeri Marco Rubio telah menetapkan dan memberikan pertimbangan/alasan secara terperinci, bahwa telah terjadi keadaan darurat.
Baca juga: Iran: 1.332 Warga Sipil Tewas Akibat Serangan AS–Israel
Kondisi keadaan darurat tersebut dapat mengenyampingkan persyaratan peninjauan Kongres Amerika. Aturan tersebut ditulis di dalam Pasal 36 (b) Undang-Undang Pengendalian Ekspor Senjata (of the Arms Export Control Act).
Kontraktor utama untuk penjualan 12 ribu badan bom serbaguna yang diusulkan adalah Repkon USA, yang berbasis di Garland, Texas. Sebagian badan bom diharapkan akan ditransfer dari stok AS yang ada.
Persetujuan ini datang di tengah meningkatnya ketegangan regional menyusul serangan udara gabungan AS-Israel terhadap Iran yang diluncurkan pada 28 Februari, menewaskan lebih dari 1.000 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, lebih dari 150 siswi, dan pejabat militer senior.
Konflik tersebut telah memicu ketidakstabilan regional yang meluas dan serangan balasan dari Teheran terhadap situs-situs yang terkait dengan AS di seluruh wilayah. Serangan pesawat tak berawak di Kuwait menewaskan enam anggota militer AS di pusat operasi taktis.
Langkah ini juga terjadi di tengah meningkatnya kritik di Kongres tentang transfer senjata AS ke Israel selama perang genosida Israel di Jalur Gaza.












