Tak Lulus PPS Karena Bukan Aneuk Keumun Cek Lah?

Dokumen Pelantikan PPS: Ketua KIP Bireuen Agusnis Ismail, beserta tiga perwakilan PPS, Selasa (24/1/2023) menandatangani dokumen pelantikan PPS di AAC Ampon Chiek Peusangan,Universitas Almuslim. Foto: HO for Komparatif.id.
Dokumen Pelantikan PPS: Ketua KIP Bireuen Agusnis Ismail, beserta tiga perwakilan PPS, Selasa (24/1/2023) menandatangani dokumen pelantikan PPS di AAC Ampon Chiek Peusangan,Universitas Almuslim. Foto: HO for Komparatif.id.

Komparatif.ID, Bireuen-Proses seleksi calon Panitia Pemungutan Suara (PPS)di Bireuen menuai protes. Ramai-ramai netizen menyebutkan kegagalan mereka menjadi anggota PPS bukan karena tak memiliki kemampuan, tapi disebabkan bukan aneuk keumun Cek Lah. Mereka gagal karena tidak memiliki people inside.

Beberapa orang menghubungi Komparatif.id pada Senin (23/1/2023) hingga Selasa (24/1/2023), menyoal ketidaklulusan mereka sebagai PPS di gampong masing-masing. Mereka menggerutu karena dari hasil computer Assisted test (CAT) nilai mereka mencapai 90. Tapi begitu pengumuman dilakukan oleh Komisi Independen Pemilihan (KIP), yang lulus justru peserta CAT dengan nilai alakadar.

Beberapa protes yang disampaikan kepada Komparatif.id, berasal dari anggota PPS pemilu yang lalu.

Baca juga: Ayah Merin Ditangkap KPK, Publik Aceh: Ada Film Baru!

“Saya merasa aneh saja, nilai CAT saya bagus. Dari proses wawancara, menurut saya juga bagus. Karena saya menguasai hal-hal teknis pelaksanaan kepemiluan, termasuk pilkada, pilpres, dan pileg. Mulai dari jumlah kursi di dapil saya, jumlah TPS di kampung saya, dan lain-lain. Tapi kala pengumuman, nama saya jadi cadangan mati,” sebut seorang sumber yang bermukim di salah satu kecamatan di Bireuen, Senin (23/1/2023).

Sumber tersebut mengaku kecewa, karena sosok yang lulus PPS di kampungnya, selain nilai CAT jauh lebih rendah, juga bukan individu yang memiliki kapasitas bagus. “Mengapa saya bilang seperti itu? Karena dalam beberapa kali bincang-bincang, mereka tak tahu apa-apa perihal kepemiluan,” sebutnya lagi.

Sumber lainnya juga menyampaikan kekecewaan senada. Nilai CAT-nya 85. Tapi yang lulus sebagai PPS justru yang nilainya jauh lebih sedikit. dirinya sekadar lulus cadangan, yang sampai pemilu usai tak punya kesempatan menjadi bagian PPS. Butuh peristiwa extra ordinary baru memungkinkan ia masuk. Tapi itu hil mustahal; hal yang mustahil.

“Saya sudah tanyakan kepada PPK, tapi mereka bilang CAT hanya formalitas. Penentuan lulus atau tidak pada proses wawancara,” sebut sumber tersebut.

Pria muda itu kecewa bukan karena ia tidak lulus. Tapi mengapa ketidaklulusannya dilakukan dengan cara menyakitkan. “Saya sudah berusaha mengikuti kompetisi ini dengan sangat fair. Tidak mengandalkan bekingan. Murni berlaga dengan cara-cara terhormat. Tapi fair play bukan tujuan KIP,” sebutnya lagi.

Di media sosial, ramai-ramai netizen menyoal integritas KIP. Mereka menyebutkan ketidaklulusan banyak orang yang dinilai memiliki kapasitas, murni karena bukan kemenakan Cek Lah. Cek Lah merupakan sosok imaginer dalam sebuah video komedi situasi yang akhir-akhir ini viral di Facebook.

Dalam video tersebut diperlihatkan proses wawancara dua orang pencari kerja. Satu orang memiliki rekam jejak pengetahuan yang bagus, pendidikan bagus, dan kemampuan bagus. Tapi ia ditolak secara halus. Tapi giliran satu orang lagi, tanpa pendidikan yang memadai, tak memiliki keahlian, akhirnya diterima bekerja, setelah dia menyebutkan nama Cek Lah.

Video komedi situasi tersebut dibagikan secara luas oleh netizen, sebagai bentuk mengolok-olok proses seleksi Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dan PPS di Aceh.

Selain itu, sepanjang proses seleksi PPK dan PPS di Bireuen dan sejumlah kabupaten lainnya di Aceh, tersebar isu telah terjadinya penempatan kuota untuk menampung “aspirasi” parapihak yang memiliki interest pada pemilu 2024.Baik dari unsur partai politik, kerabat penyelenggara, hingga individu stakeholder lainnya.

Ketua Komisi Independen Pemilihan (KIP) Bireuen Agusni Ismail, Selasa (24/1/2023) mengatakan nilai hasil CAT bukan penentu utama kelulusan calon PPS. Hal itu disampaikan seusai pelaksanaan pelantikan PPS se kabupaten Bireuen di AAC Ampon Chiek Peusangan, Universitas Almuslim.

Mantan Presiden Mahasiswa Universitas Almuslim tersebut menjelaskan, penentu utama lulus tidaknya menjadi penyelenggara pemilu seperti PPS, terletak pada kemampuan menguasai materi ketika proses wawancara.

Banyak peserta yang nilai CAT-nya bagus, tapi ketika wawancara tidak dapat menjawab dengan baik. Kebingungan saat ditanya syarat membuka TPS, jumlah kursi dapil, sumlah suara 1 kursi, dan lainnya.

“Bahkan, banyak juga peserta yang nilainya bagus di CAT, tapi tak tahu nama keuchik gampongnya sendiri,” sebut Agusni sembari terkekeh.

Agusni mengatakan protes-protes atas ketidaklulusan juga ia terima dari peserta atau kolega mereka. tapi sebagai penyelenggara ia harus tegas dan teguh pada keputusan.

“Hasil penetapan yang dilakukan sudah sesuai dengan prosedur. Oleh karena itu kami tetap melakukan pelantikan sesuai dengan jadwal yang telah disusun,” sebutnya.

Hingga hari ini protes atas kegagalan menjadi PPS masih mengalir di lini masa media sosial. Suara-suara tidak puas karena merasa dicurangi lewat pelaksanaan demokrasi yang dianggap sekadar formalitas masih terus terdengar.

Namun, beberapa warganet mengomentari kondisi tersebut dengan jenaka. Masih ada kesempatan mendaftar sebagai hansip TPS yang bertugas pada hari H. “Mari lobi keuchik masing-masing supaya aneuk keumun Cek Lah tidak memiliki peluang,” guyon beberapa warganet.

Artikel SebelumnyaAyah Merin Ditangkap KPK, Publik Aceh: Ada Film Baru
Artikel SelanjutnyaTahun 2022, Aceh Nomor 2 Paling Intoleran di Sumatera
Muhajir Juli
Jurnalis bersertifikat Wartawan Utama Dewan Pers dan penulis buku biografi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here