
Komparatif.ID,Bireuen—Ratusan siswa di Kecamatan Simpang Mamplam, Kabupaten Bireuen,diduga keracunan MBG. Mereka harus dilarikan ke klinik kesehatan terdekat, setelah tumbang satu-persatu seusai berbuka puasa.
Kamis malam, 26 Februari 2026, satu persatu orangtua murid di Kecamatan Simpang Mamplam dilanda kepanikan. Tiba-tiba putra-putri mereka muntah-muntah beberapa saat setelah berbuka puasa.
Kepanikan tingkat keluarga, kemudian berubah menjadi kepanikan massal. Satu persatu—kemudian menjadi sangat banyak—murid TK dan siswa SD di Simpang Mamplam, harus dilarikan ke Puskesmas Simpang Mamplam, karena diduga keracunan MBG (Makan Bergizi Gratis).
Baca: Wakil Kepala BGN: Keracunan MBG Karena SOP Tidak Dijalankan Dengan Benar
Hingga pukul 23.00 WIB, jumlah pasien anak di Puskesmas Simpang Mamplam membludak. Tenaga medis kewalahan. Ambulans silih berganti keluar masuk pekarangan puskemas. Ibu-ibu terlihat panik.
Ada yang menangis, ada yang berwajah tegang. Mereka tak melepas pandang sedetik pun dari anak-anak mereka yang terbaring lemas di atas ranjang puskemas.
Wajah para ayah juga demikian; tegang. Gurat kekhawatiran terlukis jelas di wajah mereka.
Bupati Bireuen H. Mukhlis, yang mendapatkan kabar tersebut seusai pelaksanaan Salat Tarawih langsung bergerak ke Simpang Mamplam. Begitu sampai ia langsung masuk ke dalam Unit Gawat Darurat (UGD) Puskesmas.
Hingga dinihari, anak-anak yang keracunan MBG terus berdatangan. Banyak yang dirujuk ke RSUD dr. Fauziah.
Hingga Jumat, 27 Februari 2026, pukul 02.30 WIB, ambulans masih terus silih berganti keluar masuk puskemas, mengantar siswa yang keracunan MBG.
“Jumlahnya sudah ratusan. Ada yang sudah dirujuk ke rumah sakit di kabupaten, ada yang masih dirawat di sini, dan ada yang dirawat di sejumlah klinik,” sebut seorang sumber di Puskesmas Simpang Mamplam.
Keracunan MBG, Diduga dari Bakso
Menurut informasi, sumber keracunan MBG di Simpang Mamplam, diduga dari empat butir bakso yang dibagikan kepada tiap-tiap siswa.
Menu MBG yang dibagikan pada Kamis sore, sekitar pukul 16.00 WIB, yang diperuntukkan untuk tiga hari ke depan, yaitu empat butir bakso kering yang dibungkus plastik bening, kerupuk tempe, dua butir telur, tiga butir kurma, satu butir jeruk, tiga potong roti, satu bungkus jeli, dan satu kotak susu UHT berperisa ukuran 250 gram.
Sampai saat ini belum diketahui jumlah pasti korban keracunan. Dari 2.200 porsi yang dibagikan pada Kamis, belum diketahui berapa banyak yang keracunan.
“Mungkin besok sudah ada datanya,” sebut seorang petugas.
Sejumlah warga meminta pemerintah mengusut tuntas kasus tersebut. Karena keracunan massal terhadap siswa merupakan bentuk kelalaian pengelola dapur MBG.












