Komparatif.ID, LA— Virus COVID-19 subvarian BA.3.2 yang dijuluki ‘Cicada’ dilaporkan merebak di sejumlah kota di Amerika Serikat. Varian ini diketahui memiliki gejala yang serupa dengan varian Omicron, seperti nyeri tenggorokan, demam, batuk kering, dan kelelahan.
Varian BA.3.2 merupakan turunan dari Omicron dengan jumlah mutasi yang cukup tinggi, yakni berkisar antara 70 hingga 75 mutasi. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran karena berpotensi membuat virus lebih mampu menghindari kekebalan yang terbentuk dari vaksinasi maupun infeksi sebelumnya.
Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, menjelaskan varian ini sebenarnya bukan varian baru.
Menurutnya, BA.3.2 telah terdeteksi sejak 2024, namun pada saat itu tidak menjadi varian dominan. Varian ini kemudian kembali muncul dan mulai menyebar secara global pada akhir 2025.
“Dalam epidemiologi, virus ini ada tetapi level rendah dan tidak terdeteksi begitu luas kemudian bergeser. Sudah terdeteksi di 23 negara, dan WHO masih mengklarifikasi varian ini dalam status pengawasan, sehingga belum terbukti berbahaya, tetapi memiliki potensi epidemiologi yang signifikan,” ujar Dicky dalam keterangannya, Rabu (1/4/2026).
Baca juga: Akibat Covid-19, 1 dari 3 Anak di Dunia Idap Rabun Jauh
Ia menambahkan salah satu karakter utama varian ini adalah kemampuannya dalam menghindari antibodi, baik dari vaksin maupun infeksi sebelumnya. Selain itu, terdapat indikasi adanya peningkatan kemampuan penularan, meskipun belum disertai bukti peningkatan tingkat keparahan penyakit.
“Bukan yang mematikan, tetapi lebih licin secara imunologis,” kata Dicky.
Terkait gejala klinis, ia menegaskan hingga saat ini belum ditemukan perbedaan signifikan dibandingkan dengan varian Omicron. Selain itu, belum ada laporan peningkatan angka kematian atau fatality rate akibat varian ini.
Di negara dengan sistem surveilans yang baik, terutama di kawasan Eropa, varian BA.3.2 disebut telah mencapai sekitar 30 persen dari keseluruhan kasus varian COVID-19 yang beredar. Meski demikian, varian ini belum menunjukkan tanda-tanda menjadi dominan secara global.
Dicky mengimbau masyarakat agar tetap waspada, meskipun situasi tidak diperkirakan akan separah masa awal pandemi. Ia menilai tingkat imunitas masyarakat saat ini sudah lebih baik, baik dari vaksinasi maupun paparan sebelumnya.













