Sudah lebih 2 bulan pasca musibah banjir besar yang melanda sebagian besar wilayah Aceh. Pemulihan daerah-daerah terdampak masih terus berlanjut hingga kini. Kolaborasi serta sinergi yang baik seluruh pihak mulai dari masyarakat, para relawan dan juga pemerintah berdampak positif bagi para korban banjir.
Situasi yang begitu memprihatinkan di masa-masa awal bencana perlahan-lahan mulai berangsur pulih dan membaik.
Akses jalan yang sudah sepenuhnya terhubung juga sangat berpengaruh terhadap kelancaran aktivitas ekonomi masyarakat terutama di daerah-daerah yang sempat terisolir akibat banjir.
Tidak hanya itu, pembangunan Rumah Hunian Sementara hingga perbaikan akses listrik juga terus dikebut oleh pemerintah guna memenuhi kebutuhan masyarakat. Terhitung per tanggal 21 Januari 2026, tersisa 60 desa yang masih belum teraliri listrik dengan sebagian besar desa-desa tersebut berada di kabupaten Aceh Tengah.
Belum sampainya listrik ke desa-desa tersebut disebabkan oleh akses jalan yang masih belum terbuka atau terisolir. Hal ini diutarakan oleh Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo dalam rapat jajak pendapat bersama Komisi XII DPR RI pada Rabu (21/1/2026).
Selain listrik yang belum sepenuhnya pulih, hal lain yang dihadapi pascabencana adalah masih adanya lumpur tebal di beberapa tempat yang belum dibersihkan hingga kini. Beberapa tempat yang masih tertutup lumpur seperti Pasar Inpres Aceh Tamiang yang menyebabkan terhambatnya aktivitas ekonomi masyarakat disana.
Baca juga: Belajar Menjadi Manusia di Tengah Bencana Pidie Jaya
Tidak hanya di Aceh Tamiang, lumpur tebal juga masih menutupi fasilitas umum seperti sekolah dan ratusan rumah warga di kabupaten Pidie Jaya.
Ratusan rumah yang masih tertutup lumpur tersebut menyebabkan para warga masih mengungsi. Sebagian mereka ada yang mengungsi ke tempat-tempat kerabatnya, sebagian lainnya ada juga yang memilih bertahan di tenda-tenda pengungsian yang disediakan pemerintah.
Tidak hanya lumpur tebal, sisa dari musibah banjir yang melanda adalah masih adanya begitu banyak gelondongan batang kayu yang tak terhitung jumlahnya. Di beberapa tempat seperti Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara; ratusan bahkan ribuan batang kayu tergeletak di tanah datar tanpa batas sepanjang mata memandang.
Kayu-kayu itu seakan memanggil para pemiliknya untuk mengambil dan memindahkan mereka dari tempat tersebut. Namun sayang hingga kini bongkahan kayu tersebut masih tergeletak tanpa tuan, ia menjadi saksi bisu atas dosa para oknum yang membabat hutan Aceh, merusak alam, ekosistem lingkungan dan memperparah dampak bencana yang terjadi.
Selain di Kecamatan Langkahan, Aceh Utara. Daerah lain yang masih menyisakan begitu banyak kayu gelondongan sisa banjir adalah Desa Rantau Panjang Beudari, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur.
Sudah 2 bulan lamanya kayu-kayu yang dibawa hanyut oleh banjir tidak ada yang menyentuh. Alat berat sangat dibutuhkan disana untuk memindahkan tumpukan kayu-kayu tersebut.
Bagi masyarakat, kayu-kayu tersebut merupakan bukti belum datangnya penanganan secara optimal serta simbol dari sebuah harapan yang belum sepenuhnya terjawab.
Pemulihan pasca banjir memang masih terus dilakukan dan diupayakan oleh semua pihak. Namun tak dapat dipungkiri bahwa kondisi Aceh pascabencana saat ini belum sembuh 100 persen.
Masih banyak Pekerjaan Rumah yang menunggu andil semua pihak untuk saling bahu membahu membantu para korban terdampak agar kembali ke kondisi semula seperti sebelum datangnya bencana.
Semuanya harus memahami bahwa musibah bencana banjir dan tanah longsor yang menimpa Aceh 2 bulan lalu memang sudah terlewati. Sudah terlewati bukan berarti telah selesai, dampak dari musibah tersebut masih benar-benar nyata dan terasa bagi mereka yang masih mengungsi di tenda-tenda pengungsian dan berjuang melewati malam-malam tanpa cahaya dikarenakan listrik yang belum teraliri sepenuhnya.
Di sisi lain, pemandangan jalan-jalan di Aceh hari ini mulai berbeda dengan situasi awal dimana bencana tersebut terjadi. Di jalanan Aceh, sudah mulai jarang terlihat mobil-mobil relawan yang bergerak untuk membantu para korban.
Kepedulian terhadap mereka yang terdampak banjir tidak bisa dicukupkan sampai disini, mereka yang sedang berusaha memperbaiki serta menata ulang hidupnya masih memerlukan uluran tangan kita semua.
Apalagi kedepan bulan Ramadan akan tiba, bagaimana nasib masyarakat yang hari ini masih tinggal di tenda-tenda pengungsian? Tanpa listrik, tanpa fasilitas penerangan. Bagaimana mereka akan melalui Ramadan, puasanya, tarawihnya serta ibadah-ibadah yang lainnya?
Menjadi bagian dalam memberikan kebahagiaan kepada mereka menjadi tugas dan tanggungjawab kita semua. Jangan dulu berpindah fokus; teman-teman relawan, aparat pemerintahan dan seluruh rakyat Indonesia khususnya Aceh harus terus bersatu padu dalam pemulihan Aceh pascabencana.
Memberikan apa yang bisa diberi, membantu apa yang bisa dibantu. Rasa peduli antar sesama yang pernah dibangun jangan sampai memudar.
Saat ini kekompakan, solidaritas, rasa peduli dan empati atas dasar kemanusiaan harus lebih kuat dari sebelumnya guna memberikan yang terbaik bagi mereka yang sedang berjuang melewati titik terendah dalam perjalanan hidupnya.
Penulis, Hafizhuddin Islamy, pemuda Aceh di Istanbul, Turki.













