
Komparatif.ID, Bireuen— Jalur darat dari Gampong Calok, Kecamatan Peudada, menuju ke kawasan laut sempat terputus akibat banjir dan longsor yang melanda Kabupaten Bireuen pada 26 November 2025 lalu.
Para nelayan Gampong Calok lalu bersama pihak gampong berinisiatif membangun satu unit jembatan darurat sebagai penghubung dari Dusun Kuala, Gampong Calok, menuju Pangkalan Pendaratan Ikan Gampong Pulo, Kecamatan Peudada.
Jembatan darurat tersebut dibangun dari material kelapa dengan panjang sekitar lima belas meter.
Keuchik Gampong Calok, Hardani, mengatakan pembangunan jembatan darurat itu merupakan hasil kebersamaan seluruh warga, khususnya nelayan. Menurutnya, setiap pihak berkontribusi sesuai kemampuan masing-masing, baik dalam bentuk tenaga, dana, maupun sedekah makanan untuk para pekerja.
Ia berharap jembatan tersebut dapat difungsikan agar aktivitas nelayan kembali berjalan meski dengan kondisi terbatas.
“Pihak gampong bersama seluruh nelayan bantu membantu sesuai kemampuan masing-masing,” ungkapnya Sabtu (29/1/2026).
Baca juga: IPeKB Aceh dan POGI Aceh Hadirkan Layanan USG Gratis
Saat ini, upaya perbaikan baru mampu menyelesaikan satu jalur penghubung. Masih terdapat dua jalur lain menuju pantai Gampong Matang Pasi yang belum dapat dikerjakan karena keterbatasan sumber daya.
Kondisi ini membuat akses nelayan ke wilayah pantai masih belum sepenuhnya pulih seperti sebelum bencana.
Hardani berharap kerusakan jalan akibat banjir dapat segera diperbaiki dengan pengaspalan hotmix. Selain itu, ia juga mengharapkan tiga unit jembatan yang amblas akibat banjir dapat diusulkan untuk dibangun secara permanen.
Hal tersebut dinilai penting mengingat sekitar 90 persen warga di wilayah tersebut bekerja sebagai nelayan dan sangat bergantung pada akses darat menuju laut.
Ia juga berharap Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bireuen (BPBD) dapat meninjau kondisi lima muara baru di Gampong Matang Pasi. Menurutnya, saat ini tidak ada lagi pertahanan yang memadai jika banjir rob terjadi secara tiba-tiba, terlebih tanggul tambak masyarakat seluas sekitar dua puluh hektar telah roboh akibat banjir.
Kekhawatiran warga terhadap kondisi pantai terus meningkat karena area tersebut kini terbuka tanpa perlindungan.












