Mengenang Durian Juli yang Tinggal Kenangan

Durian Juli dikenal besar, legit, daging buahnya tebal, serta manis. Tetapi sekarang tinggal kenangan seiring perubahan zaman. Foto: Ilustrasi dikutip dari Pexel.com.
Durian Juli dikenal besar, legit, daging buahnya tebal, serta manis. Tetapi sekarang tinggal kenangan seiring perubahan zaman. Foto: Ilustrasi dikutip dari Pexel.com.

Sepanjang 70 sampai 80-an, Juli dikenal sebagai penghasil durian terbaik di Bireuen. Sejak 90-an kebun-kebun durian di sana beralih fungsi menjadi permukiman. Sejumlah orang mengenang kembali era kejayaan durian di sana.

Diskusi tentang durian Juli dimulai ketika Komparatif.id mengirimkan foto durian ke dalam grup WhatsApp Warga Ikmali—ruang komunikasi Ikatan Masyarakat Juli di Banda Aceh. Postingan foto pada Kamis (22/9/2022) jelang siang, disambut dengan cerita tentang kemasyuran durian di Juli pada masa lampau.

Postingan foto durian pertama kali disambut oleh ustad Ghazali, seorang PNS yang berkhidmat di lingkungan Kemenag Aceh. Dia mengomentari foto durian dengan kalimat,”Buah durian di Juli tinggal kenangan.”

Dari komentar itu kemudian muncul beragam tanggapan. Rata-rata mengisahkan tentang buah durian yang terkenal di masa lalu, sekitar tahun 70-sampai akhir 80-an.

M. Yani, seorang pekerja swasta yang telah lama menetap di Banda Aceh mengisahkan sekitar tahun 84, kala ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), setiap pagi pada musim durian, ia berangkat ke kebun durian di Gampong Meunasah Jok.

“Kebun durian itu berada di kilometer 3, di dekat rumah Mukim Syamaun H. Arifin.”

Ia menyebut beberapa jenis durian yang terkenal kala itu. Mulai umpang duk, drien kunyet, drien saka, drien madu, drien ramphak, dan jenis lainnya. Jangan tanya rasa dan ukuran buahnya. Durian Juli dikenal legit, tebal dagingnya, manis, dan aromanya aduhai.

Konon, menurut cerita Teungku Murdhani M. Amin yang pernah bekerja di PT Arun, durian di kampungnya digemari oleh etnis Aceh keturunan Tionghoa yang bermukim di Kota Bireuen, yang kala itu masih berada di bawah Kabupaten Aceh Utara.

Durian yang ditanam di Juli dikenal memiliki daging tebal, beraroma harum, manis, dan legit. Foto: Ilustrasi dikutip dari Vstory.
Durian yang ditanam di Juli dikenal memiliki daging tebal, beraroma harum, manis, dan legit. Foto: Ilustrasi dikutip dari Vstory.

“ketika saya kecil, durian asal Juli sangat digemari oleh orang Tionghoa di Bireuen. Nama-nama durianya pun keren. Ada durian jantong, drien teumaga, drien eumpang duk. Tumbuhnya di Gampong Meunasah Seutuy, Meunasah Tambo, Meunasah Baroe, Meunasah Tanjoeng, Meunasah Seupeng, Meunasah Lampoh, dan sekitarnya,” kisah Murdhani.

Ghazali juga punya rekaman serupa. Dulu, durian dari wilayah Juli diborong oleh Tionghoa yang bermukim di Bireuen. Bahkan meteka memesan pada agen-agen buah yang berdagang di sana.

Kisah Murdhani dan Gazali diperkuat oleh Saiful Amri. Guru madrasah ibtidaiyah di Banda Aceh tersebut menyebutkan, ketika ia kecil, ayahnya seringkali menjual durian hasil kebun mereka ke Kota Bireuen. Orang-orang Tionghoa sangat menggemari durian dari kawasan permukiman menuju Tanoh Gayo.

Ayahnya Saiful, setiap panen durian akan menjualnya ke Bireuen menggunakan sepeda. Saiful diajak serta. Pria berkulit gelap itu ditaruh di dalam keranjang. Saiful menikmati perjalanan ke Kota Bireuen yang eksotis itu.

“Durian paling terkenal miliknya Nek Yakop Teupin, ayah dari Hasan Baka,” kenang Saiful Amri.

Kenangan yang sama disampaikan oleh Ana. Ia menyebutkan ketika masih kecil, ia sering dibawa ke kebun durian oleh abangnya. Kebun mereka ada di dekat sebuah alur air di Gampong Meunasah Tanjong.

Demikian juga kisah yang disampaikan Khaled Abdullah. Tahun 1970-an di Juli Tambo Tanjong, kebun durian ada di mana-mana. Bila ada warga yang tidak memiliki kebun durian, mereka bisa menikmati buahnya dari hasil kebun milik meunasah gampong.

Kapan durian mulai memudar di Juli? Mereka punya ikatan nyaris seragam. Buah surga itu mulai hilang secara perlahan sejak era 90-an. “Di Juli, sekitar tahun 90, durian sudah tidak ada lagi,” sebut Abu Gong Juli.

Menurut Misbah, pria kelahiran Juli Cot Mesjid, tahun 2000-an, rambutan telah menggantikan durian.

Mengapa hilang? Pendapat mereka nyaris seragam. Mulai dengan kisah alih fungsi lahan karena bertambahnya permukiman, hingga hilangnya hutan di sekitar akibat deforestasi.

“Durian merupakan tanaman hutan. Bila habitatnya tidak lagi mendukung maka akan mati satu persatu,” kata M. Yani.

Pendapat jenaka nan mengulik kesadaran sosial disampaikan oleh Saiful. “Durian merupakan buah beraroma kuat. Harus dibagi kepada tetangga. Bila tidak, satu persatu dahannya akan rontok.”

Kini, era keemasan durian di Juli tinggal sejarah. Masih ada satu dua di beberapa desa, tapi tidak lagi diperbincangkan, karena jumlahnya yang tidak banyak. Sesekali masih juga disebut durian Krueng Simpo. Tapi dengungnya kecil, karena jumlahnya yang terbatas. Sehingga tidak mampu menjadi primadona di dunia perdurianan Serambi Mekkah.

Sejak tahun 2000-an, Juli yang telah menjadi kecamatan, dikenal sebagai sentra rambutan binjai. Orang-orang di Bireuen menyebutnya boh rambot binje.

Apakah durian dapat dijadikan kembali sebagai produk pertanian unggulan di Juli? Entahlah.

Artikel SebelumnyaAulia Sofyan Bicara isu Kemiskinan Dalam Pembangunan Urban
Artikel SelanjutnyaHina Ketua DPRK Bireuen, Seorang Warga Samuti Aman Ditangkap
Muhajir Juli
Jurnalis bersertifikat Wartawan Utama Dewan Pers dan penulis buku biografi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here