Home Opini Jazz & Tepuk Tangan yang Paling Aceh

Jazz & Tepuk Tangan yang Paling Aceh

Ekraf dan Seniman: Antara Kemerdekaan Berkarya dan Logika Pasar Ratoh Jaroe, atau Aceh yang Diingat Tradisi yang Diperluas JKA pergub jka kesehatan seniman status Khanduri jazz
Moritza Thaher adalah musisi, komposer, dan pendiri Sekolah Musik Moritza yang berbasis di Banda Aceh sejak 1991. Foto: Dok. Pribadi.

Dari kursi piano di panggung Khanduri Jazz 2026, saya menyaksikan sesuatu yang tidak terlihat dari kursi penonton.

Ketika Puan — kelas 5 SD — maju ke mikrofon, dan ketika Aisyah — kelas 1 SMP — mengikutinya, penonton di Banda Aceh malam itu bertepuk dengan cara yang berbeda.

Bukan sopan. Bukan sekadar apresiasi. Sesuatu yang lebih keras dari itu, dan lebih hangat dari sekadar kagum pada anak kecil yang lucu di panggung. Saya merasakannya dari posisi yang tidak biasa: duduk di belakang piano, di samping orang-orang yang tiga puluh tahun lalu datang ke Sekolah Musik Moritza sebagai murid pertama.

Jazz punya konotasi yang tidak perlu dijelaskan panjang-panjang. Rumit. Serius. Milik mereka yang sudah cukup piawai untuk masuk. Puan dan Aisyah masuk tanpa tahu konotasi itu ada. Dan penonton yang tahu konotasi itu — yang tahu betul ruang apa yang sedang dimasuki dua anak ini — justru yang paling keras bertepuk.

Satu Kalimat dari 1991

Tahun 1991. Saya berusia 22 tahun dan baru saja membuka sekolah musik di Banda Aceh.

Waktu itu saya masih mahasiswa kedokteran di Universitas Syiah Kuala. Seorang teman menyindir dengan cara yang tidak sepenuhnya salah: “yang lebih jago aja nggak buka sekolah musik, sedangkan kamu.”

Saya tidak menulis ini untuk membela diri — kejadian itu sudah terlalu jauh untuk perlu dibela. Saya menulisnya karena kalimat itu adalah pembanding yang berguna: keberanian masuk ke ruang yang dianggap bukan milikmu selalu punya harga di awalnya. Puan dan Aisyah belum tahu harga itu. Tapi malam itu, penonton menanggungnya untuk mereka — dengan cara paling sederhana yang tersedia: tepuk tangan.

Rantai yang Terlihat Satu Malam

Malam itu panggung diisi oleh Teuku Mahfud, Ewin, Yudi Amirul, Afrizal Masni, Teuku Dedenio, dan Akhyar — sebagian besar teman seperjalanan yang sudah bersama saya sejak awal SMM berdiri. Juga dua tamu istimewa: Dedi Syukur dari Odezza, dan Yudi Kurnia, yang dulu pernah berhadapan dengan saya di festival musik akhir tahun 1980an.

Baca: Seniman Sakit, Negara Bertanya Apa Pekerjaanmu

Tiga nama di antaranya membuat malam itu terasa seperti sesuatu yang lebih dari konser.

Teuku Mahfud bergabung dengan SMM pada 1993 sebagai pemain drum. Ia kini Ketua PDI-P Banda Aceh — tapi malam itu ia duduk di drum, di tempat yang sama seperti tiga puluh tahun lalu.

Akhyar bukan murid SMM. Ia bermain bersama saya sejak 1990 — sebelum sekolah itu bahkan berdiri. Pintu yang terbuka bukan hanya pintu sekolah.

Erlinda Sofyan masuk SMM setelah tsunami 2004. Tahun 2014, ia tampil solo di Yogyakarta selama 45 menit membawakan karya orkestra bertajuk “Sultan Iskandar Muda” — karyanya sendiri, sebagai komposer. Malam ini ia adalah dosen di ISBI Aceh. Dan malam ini pula, ia yang membimbing Puan dan Aisyah ke panggung — sekaligus membawakan sebuah lagu berjudul “Mulia Tamu di Puan Perak,” musik funk jazz berakar etnik Aceh, yang ia persembahkan kepada gurunya.

Jazz & Peumulia Jamee

Ada nilai dalam tradisi Aceh yang disebut peumulia jamee — memuliakan tamu. Artinya memberi ruang kepada yang masuk ke tempatmu, bahkan ketika mereka belum tahu cara berjalan di sana — lebih dari sekadar keramahan biasa.

Malam itu, saya pikir, nilai itu hidup dalam tepuk tangan untuk Puan dan Aisyah. Penonton memuliakan dua tamu kecil yang masuk ke ruang jazz — ruang yang punya konotasi, punya hierarki, punya ekspektasi — tanpa beban semua itu di pundak mereka. Itu adalah tepuk tangan yang paling Aceh yang pernah saya dengar di panggung jazz.

Dan nilai yang sama hidup dalam sebuah lagu yang malam itu dibawakan seorang murid kepada gurunya.

Pintu yang Dibiarkan Terbuka

Musisi yang berkata itu — saya tidak tahu ke mana perjalanannya berujung. Mungkin jauh lebih jauh dari saya. Tapi ada satu hal yang berbeda di antara kami: ia tidak membuka pintu untuk siapapun.

Bukan pertanyaan yang menghakimi siapa pun. Tapi pertanyaan yang tinggal setelah malam itu: yang membuat ruang tumbuh bukan selalu yang paling piawai — tapi yang paling berani tidak memasang larangan di pintu.

Puan dan Aisyah masuk karena ada pintu yang dibiarkan terbuka.

Previous articleKita Disetting untuk Gagal Sejak Awal
Next articlePers Vs Media Baru, Siapa Menang?
Moritza Thaher
Moritza Thaher adalah musisi dan penulis yang berbasis di Banda Aceh. Selama lebih dari tiga dekade mengajar, ia tumbuh bersama generasi muda Aceh yang terus bernegosiasi dengan budayanya sendiri — antara mewarisi, meninggalkan, atau menemukan cara baru untuk meneruskannya. Ia mendirikan Sekolah Musik Moritza pada 1991.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here