Home Ekonomi Indonesia dan Brunei Puncaki Angka Pengangguran Pemuda di Asia Tenggara

Indonesia dan Brunei Puncaki Angka Pengangguran Pemuda di Asia Tenggara

pengangguran pemuda
Ilustrasi.

Komparatif.ID, Jakarta — Angka pengangguran pemuda Indonesia dan Brunei Darussalam kian mengkhawatikan. Pengangguran pemuda di kedua negara merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara.

Berdasarkan laporan kompilasi data ketenagakerjaan makro yang dirilis oleh lembaga riset kebijakan regional Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) serta data yang dihimpun oleh Data Commons (diperbarui Juni 2026), tingkat pengangguran angkatan kerja muda (usia 15–24 tahun) di kawasan ASEAN menunjukkan jurang pemisah yang tajam antarnegara.

Indonesia dan Brunei Darussalam tercatat sebagai negara dengan tingkat pengangguran pemuda tertinggi di kawasan.

Berikut adalah rincian tingkat pengangguran angkatan kerja muda di Asia Tenggara berdasarkan data resmi publikasi berkala dari kementerian ketenagakerjaan masing-masing negara dan organisasi internasional ILO (International Labour Organization):Brunei Darussalam: 17,8%,Indonesia: 17,3% Malaysia: 10,4%, Filipina: 7,9%,Vietnam: 6,8%,Singapura: 4,5%,Thailand: 4,2%, Kamboja: 0,7%.

RI Masuk Zona Merah Pengangguran Pemuda

Berdasarkan laporan kajian ERIA dan komparasi media melalui Kompas Bisnis, angka pengangguran terbuka pemuda di Indonesia bertengger di kisaran 17,3%. Lebih rinci, infografis berkala ketenagakerjaan per Agustus 2025 yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) RI mempertegas kondisi ini, di mana kelompok usia muda mendominasi hingga 51,51% dari total pengangguran terbuka nasional.

Data BPS yang diperbarui dalam rilis resmi pada 30 Januari 2026 menunjukkan bahwa TPT untuk usia 15–19 tahun berada di angka 23,34%, disusul usia 20–24 tahun sebesar 14,35%.Tingginya angka pengangguran usia pemuda ini selaras dengan fenomena Not in Education, Employment, or Training (NEET).

Baca: Pengangguran Merupakan Kebutuhan Struktural Kapitalisme

Laporan mencatat ada sekitar 9 juta anak muda di Indonesia yang masuk kelompok NEET, mencerminkan adanya ketidaksesuaian struktural (mismatch) antara kompetensi lulusan sekolah/universitas dengan kebutuhan riil pasar industri moderen.

Brunei Darussalam mengekor tipis di posisi atas dengan tingkat pengangguran pemuda sebesar 17,8%. Karakteristik ekonomi Brunei yang sangat bergantung pada sektor industri minyak dan gas bumi (migas) padat modal dinilai menjadi alasan utama. Sektor ini menyumbang porsi pendapatan besar bagi negara, namun memiliki kapasitas serapan tenaga kerja baru yang sangat rendah bagi para lulusan muda non-teknis.

Di kutub yang berbeda, Kamboja mencatatkan angka pengangguran muda terendah, yakni hanya 0,7%. Namun, para ekonom ketenagakerjaan regional mengingatkan bahwa angka rendah di negara dengan pendapatan domestik bruto (PDB) berkembang sering kali semu. Angka ini didorong oleh tingginya pekerja sektor informal di bawah standar kelayakan kerja (underemployment), di mana anak muda terpaksa mengambil pekerjaan apa saja untuk bertahan hidup.

Sementara itu, negara maju seperti Singapura (4,5%) berhasil menjaga kestabilan transisi kerja pemuda lewat integrasi kurikulum vokasi yang adaptif terhadap transformasi digital.

Hingga laporan kinerja makroekonomi terbaru per kuartal pertama tahun 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia meluncurkan data pada 5 Mei 2026 yang menyatakan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) secara umum di Indonesia berhasil turun tipis ke level 4,68%. Kendati angka pengangguran nasional secara makro melandai, tantangan penyerapan lapangan kerja formal berspesifikasi tinggi bagi lulusan muda baru (fresh graduates) dinilai masih membutuhkan reformasi kebijakan yang masif agar bonus demografi tidak berubah menjadi beban ekonomi jangka panjang.

Previous articleBila Kamu Pria Dewasa, Jangan Lakukan 7 Hal Ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here