Komparatif.ID, Jakarta– Kepergian komedian Simson Rarameha Ngadang atau yang lebih dikenal sebagai Temon pada Minggu (12/7/2026), meninggalkan duka mendalam bagi dunia hiburan Indonesia. Di balik kabar wafatnya pada usia 59 tahun, Temon meninggalkan jejak karier panjang yang menjadikannya salah satu komedian dengan kiprah lintas generasi di industri hiburan Tanah Air.
Nama Temon mulai dikenal publik setelah meniti karier di Radio Suara Kejayaan (SK) pada awal 1990-an. Di stasiun radio tersebut, ia bertemu dengan Abdel Achrian. Pertemuan yang awalnya terjadi secara tidak sengaja kemudian berkembang menjadi kemitraan yang bertahan selama lebih dari tiga dekade dan melahirkan salah satu duet komedi paling dikenal di Indonesia.
Melalui Radio SK, Temon mengasah kemampuan membangun humor melalui dialog dan improvisasi. Pengalaman tersebut menjadi fondasi penting sebelum akhirnya ia beralih ke dunia televisi. Kemampuannya menciptakan karakter yang sederhana namun menghibur membuat namanya perlahan dikenal di kalangan pecinta komedi.
Popularitas Temon mencapai puncaknya ketika ia bersama Abdel membintangi sitkom, Abdel & Temon: Bukan Superstar yang tayang perdana pada 2008. Dalam serial tersebut, Temon memerankan karakter yang lugu, spontan, dan kerap memunculkan situasi jenaka. Chemistry yang telah dibangun sejak masih bersiaran di radio menjadi kekuatan utama sitkom tersebut hingga mendapat sambutan luas dari penonton.
Kesuksesan sitkom itu berlanjut dengan sejumlah sekuel, di antaranya Abdel dan Temon Masih Bukan Superstar, Bukan Abdel dan Temon Biasa, hingga Abdel dan Temon Reunian. Serial-serial tersebut semakin mengukuhkan nama Temon sebagai salah satu komedian televisi yang memiliki karakter khas dan mudah dikenali masyarakat.
Baca juga: Film Agak Laen Akan di-Remake Jadi Film Korea
Sebelum dikenal melalui sitkom tersebut, Temon juga telah tampil dalam sejumlah program televisi. Salah satu perannya yang cukup diingat publik adalah sebagai Kosyim dalam sinetron komedi Bajaj Bajuri. Peran itu menjadi salah satu pijakan awal sebelum kariernya semakin berkembang di dunia hiburan nasional.
Tidak hanya aktif di televisi, Temon juga merambah dunia perfilman. Ia membintangi sejumlah film layar lebar, seperti Setannya Kok Masih Ada, Operation Wedding, Epen Cupen The Movie, Comic 8: Casino Kings Part 1, dan Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1. Selain itu, ia juga tampil dalam sejumlah sinetron, antara lain Jawara, Jali Preman Sholeh, Menolak Talak, dan serial Ramadan Para Pencari Tuhan.
Kemampuan Temon beradaptasi di berbagai medium hiburan menjadi salah satu alasan kariernya mampu bertahan selama puluhan tahun. Saat tren media digital berkembang, ia turut memanfaatkan platform digital dengan membuat berbagai konten, termasuk podcast dan program hiburan yang tetap mengusung gaya komedi khasnya.
Di luar dunia seni peran, Temon sempat mencoba dunia musik. Pada 2014 ia merilis singel bertajuk Raja Disko. Setahun kemudian, ia kembali terlibat dalam proyek kolaborasi lagu Jangan Menangis bersama sejumlah musisi. Meski lebih dikenal sebagai komedian, langkah tersebut menunjukkan keinginannya untuk terus mengeksplorasi berbagai bidang di industri hiburan.
Di balik karakter jenakanya di layar, Temon memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda dari profesi yang dijalaninya. Ia merupakan lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Sebelum berkarier penuh di dunia hiburan, ia pernah bekerja di bidang sumber daya manusia serta memiliki pengalaman praktik di rumah sakit jiwa.
Latar belakang tersebut menjadi salah satu sisi menarik dari perjalanan hidupnya. Meski memiliki pendidikan di bidang psikologi, Temon memilih mengembangkan karier sebagai pelawak dan aktor. Selama lebih dari tiga dekade, ia konsisten tampil di radio, televisi, film, hingga media digital dengan karakter yang menjadi ciri khasnya.













