
Sebuah jembatan raksasa sepanjang 300 meter akan dibangun di Enang-Enang. Estimasi Biayanya mencapai Rp729 miliar lebih. Jembatan raksasa ini akan menjadi ikon baru Tanoh Gayo.
Komparatif.ID, Redelong—Hujan baru saja usai mengguyur Kampung Blang Sentang, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah, Selasa, 7 Juli 2026.Jarum jam menunjukkan pukul 15.00 WIB. Mendagri H. Tito Karnavian, Dirjen Bina Adwil Kemendagri Dr. Safrizal ZA, Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, Plt Kepala BPJN Aceh Ir. Zulkarnain, dan Bupati Bener Meriah Tagore Abubakar, melangkah ke aula di belakang Pendopo Bupati negeri yang dijuluki Musara Mupakat.
Siang itu digelar rapat koordinasi Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pemulihan Bencana Hidrometeorologi di Kabupaten Bener Meriah. Ratusan undangan dari berbagai instansi hadir dalam rapat tersebut.
Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatra, Dr. H. Muhammad Tito Karnavian, membuka acara tersebut dengan komitmen bahwa pemerintah telah, sedang, dan terus bekerja melakukan pemulihan.
Ia memaparkan bahwa sebelum masuk ke rapat koordinasi, dirinya telah duduk dengan perwakilan masyarakat Bener Meriah,dan mencapai satu komitmen bahwa jembatan di Tajuk Enang-Enang di Kampung Arul Cincin, Kecamatan Pintu Rime Gayo, akan tetap diperbaiki.Pemerintah memberikan apresiasi kepada warga yang dimotori Syahrial, yang telah membuka secara darurat jembatan dan jalur tersebut.
“Warga harus membuka jalur tersebut karena jalan alternatif terlalu jauh dan sempit. Warga yang terdampak bencana harus mengeluarkan biaya lebih tinggi untuk kebutuhan transportasi,” kata Tito Karnavian.
Pemerintah tentu tidak membiarkan masyarakat bekerja sendirian menangani masalah tersebut. Kementerian Pekerjaan Umum akan menangani secara darurat jembatan dan jalan di Enang-Enang, sembari membangun jembatan baru di dekat jembatan eksisting lama yang telah rubuh sebagian.
Setelah membuka acara, Tito Mempersilakan Plt Kepala Balai Pelaksanaan Jalan dan Jembatan (BPJN)Aceh Ir. Zulkarnaini, S.P., S.T., M.Si, menyampaikan perkembangan penanganan sejumlah ruas jalan dan jembatan di Bener Meriah yang dihantam bencana tanah longsor dan banjir bandang Sumatra.
Penanganan Darurat Jembatan Enang-Enang
Dalam rangka meminimalisir potensi risiko bagi pengguna jalan dan jembatan Tajuk Enang-Enang, BPJN Aceh telah membangun besi penyangga di bawah jembatan. Tujuannya sebagai penguatan darurat untuk struktur jembatan yang telah rusak. Pada bagian abudment arah Bireuen, dibangun beton siklop dan bronjong.
Zulkarnain menyebutkan sejak bencana tersebut terjadi, pihaknya telah turun ke lokasi untuk melakukan pemetaan, koordinasi, penelitian, dan kemudian menyiapkan dokumen perencanaan.
Baca: Satgas PRR Perkuat Struktur Jembatan Enang-Enang Demi Jaga Stabilitas Mobilisasi Warga
Sebagai upaya memperlancar arus lalu lintas di dan ke Tanoh Gayo, Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Bina Marga, BPJN Aceh, telah membuka jalur alternatif ruas Weh Porak-Simpang Lancang. Saat ini jalur tersebut juga sedang dilakukan pelebaran ruas jalan supaya sesuai dengan standar jalan nasional.
Bergerak Sejak Awal Demi Memperlancar Arus Transportasi
Dalam satu bulan pertama pascabencana hidrometeorologi Sumatra, BPJN Aceh langsung melakukan penanganan darurat memperbaiki jalur transportasi darat, termasuk ruas nasional Bireuen-Takengon. Mereka bekerja cepat menyambungkan enam jembatan, membangun satu box culvert dan menangani 120 titik longsoran. Pada 27 Desember 2025, ruas jalan nasional Bireuen-Takengon telah berfungsi secara fungsional.
Setelah melakukan pekerjaan penanganan darurat sehingga jalur tersebut fungsional, BPJN Aceh yang dipimpin Ir. Zulkarnain mulai membangun komunikasi lanjutan dengan Pemkab dan warga Bener Meriah. Mereka melakukan kunjungan dan pertemuan pada 28 Mei 2026, kemudian kunjungan ke lokasi Enang-Enang pada 22 Juni 2026, serta kunjungan pada 24 Juni 2026.
Secara jarak, antara jalur alternatif dan jalur Enang-Enang, memiliki rentang panjang yang hampir sama. Bila untuk mencapai Simpang Layang dari Enang-Enang mencapai 8,5 kilometer, maka ruas alternatif Weh Porak-Simpang Lancang 8,1 kilometer.
Meskipun panjang lintasan alternatif tersebut relatif sebanding dengan jalur eksisting, kapasitas pelayanan jalannya jauh lebih rendah. Hal ini disebabkan oleh perubahan klasifikasi jalan dari jalan nasional dengan lebar perkerasan sekitar 9 meter menjadi jalan daerah dengan lebar efektif rata-rata sekitar 4 meter.
Kondisi tersebut mengakibatkan penurunan tingkat pelayanan jalan (level ofservice),terutama karena ruas alternatif harus mengakomodasi pergerakan kendaraan dari dua arah secara bersamaan pada lebar jalan yang terbatas.
Selain melayani lalu lintas masyarakat, ruas tersebut juga dilalui oleh kendaraan berat yang mendukung kegiatan pembangunan infrastruktur di lokasi lain, sehingga meningkatkan potensi terjadinya hambatan lalu lintas,penurunan kecepatan operasional, serta risiko konflik antarkendaraan.
Dengan demikian,keberadaan Jembatan Enang-Enang memiliki nilai strategis yang tinggi dalam menjaga kelancaran sistem transportasi regional dan menjamin keberlangsungan aktivitas sosial maupun ekonomi masyarakat di kedua wilayah.
Jembatan Raksasa untuk Masa Depan
Meski jalur alternatif Weh Porak-Simpang Lancang dibenahi untuk memperlancar lalu lintas, ditandai dengan akan dibangunnya jembatan permanen di beberapa titik, serta pelebaran luas badan jalan, Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum, telah menyiapkan sebuah rancang bangun jembatan raksasa di Enang-Enang. Jembatan raksasa ini digadang-gadang akan menjadi ikon baru Tanoh Gayo.
Zulkarnain menjelaskan, pemerintah telah menyiapkan tiga alternatif model jembatan yang dipilih untuk pembangunan jembatan raksasa di Enang-Enang. Pertama model Concrete Balanced Cantilever. Kedua, Steel Arch Bridge (Deck Arch Bridge), dan ketiga, Steel Arch Bridge (Through Arch Bridge).
Berdasarkan hasil evaluasi ketiga model jembatan raksasa tersebut, pihak Kementerian Pekerjaan Umum memilih yang ketiga. Mengapa?
Alternatif 1 (Concrete Balanced Cantilever)merupakan alternatif yang paling ekonomis dengan estimasi biaya sebesar Rp652 miliar dan kebutuhan pemeliharaan yang relatif rendah, namun memerlukan pilar setinggi 65 m serta pekerjaan jalan pendekat dan penanganan lereng yang lebih besar.
Alternatif 2 (Deck Arch Bridge) menawarkan durasi konstruksi yang lebih singkat, tetapi membutuhkan metode erection yang lebih kompleks, biaya investasi yang lebih tinggi, serta pemeliharaan struktur baja yang lebih intensif.
Berdasarkan kondisi eksisting lokasi, kawasan Jembatan Enang-Enang berada pada topografi pegunungan dengan lereng curam dan memiliki riwayat kejadian longsor yang berulang.
Oleh karena itu, aspek utama yang perlu diprioritaskan dalam pemilihan alternatif bukan hanya efisiensi biaya konstruksi awal, tetapi juga upaya meminimalkan intervensi terhadap lereng yang berpotensi memicu ketidakstabilan geoteknik.
Dalam hal ini, Alternatif 3 (Through Arch Bridge)dengan bentang tunggal 300 meter mampu mengurangi kebutuhan galian, timbunan, serta penanganan lereng secara signifikan dibandingkan alternatif lainnya.
Meskipun Alternatif 3 memerlukan investasi awal yang paling besar, tambahan biaya tersebut dipandang sebanding dengan manfaat yang diperoleh berupa pengurangan risiko geoteknik, peningkatan keandalan struktur, serta potensi penurunan biaya pemeliharaan dan gangguan operasional selama umur layanan jembatan.
Dengan mempertimbangkan karakteristik geologi kawasan Enang-Enang dan kebutuhan penyediaan infrastruktur yang berkelanjutan, Through Arch Bridge direkomendasikan sebagai alternatif yang paling layak untuk dikembangkan pada tahap perencanaan selanjutnya. Estimasi anggaran untuk jembatan raksasa altenatif tiga mencapai Rp729, 997,072,000.
Jembatan tersebut akan mulai dibangun pada tahun 2027, sesuai dengan Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Renduk PRRP) Pascabencana Sumatra 2026-2028.
Pada Rabu, 8 Juli 2026, Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia, Dody Hanggodo Lasmodo telah turun ke Enang-Enang. Bersama Plt Kepala BPJN Aceh Ir. Zulkarnain, ia menjumpai Syahrial dan teman-teman di hadapan ratusan pasang mata warga yang ikut meramaikan kunjungan itu. Syahrial dipakaikan rompi Kementerian PU, sebagai simbol ucapan terima kasih, dan komitmen pemerintah bahwa Syahrial dan seluruh rakyat terdampak bencana, tidak pernah ditinggalkan oleh Pemerintah Republik Indonesia.












