
Viral penting, tapi jangan manipulasi ekspektasi jika tidak punya kapasitas untuk merealisasi. Bisnis suistainable dibangun di atas empati, bukan sensasi.
Komparatif.ID–Bayangkan, bisnis kuliner milikmu viral di media sosial. Ketika komsumen ramai, kamu gagal mengelolanya, dan kemudian bisnis kulinermu itu tumbang dalam tempo cepat dan sangat tragis.
Pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) kita masih banyak yang memiliki banyak masalah. Mereka hanya tahu menjual produk, ya hanya sebatas itu. Bila usahanya maju, pelayanannya berkurang. Sebelum maju promonya “gila-gilaan”. Begitu ramai konsumen, langsung berubah.
Tysadi Eko Muhammad, seorang Strategic & Product Marketing Specialist Kara Anom Production mencakup digital marketing, marketing communication, digital creative, ikut memperhatikan perilaku para pelaku UMKM di Indonesia menjalankan bisnisnya.
Banyak pelaku UMKM melakukan sesuatu yang menjadikan bisnisnya viral di media sosial. Tapi di sisi lain, begitu viral, mereka tidak mau mendengar konsumen. Pengelolaan bisnis seperti itu, maka siap-siap bisnis akan secepatnya rontok.
Dalam postingannya di Threads yang disitat Komparatif.ID, Jumat, 15 Mei 2026, Tysadi mengambil contoh bisnis kuliner gerobak berinisial SG yang menjadi kejamnya expectation gap. Di video yang dibuat untuk marketing, somaynya kelihatan jumbo menggoda. Harganya Rp10 ribu per porsi.
Somay tersebut pun viral, tapi kemudian dikritik luas karena harga Rp10 ribu tidak sebanding dengan ukuran somay yang kecil. Konsumen merasa tertipu. Otak bawah sadar manusia didesain menolak keras saat pain (harga) yang dikeluarkan lebih besar daripada reward (kepuasaan). Konsumen merasa dicurangi.
Baca: Balada UMKM Aceh, Keluar Tak Tersambung, ke Dalam Kalah
Eforia viral pasti membuat omzet meroket tajam di hari-hari pertama. Itulah faktanya. Tapi bayangkan jika momentum emas itu justru mengecewakan gelombang pelanggan pertamamu yang datang karena penasaran dan disertai ekspektasi besar.
Nah di sinilah persoalannya. Banyak yang -tanpa sadar– menggunakan viral sebagai garis finis. Harusnya viral digunakan sebagai hook pembuka, supaya inovasi terus berjalan.
Sady menyampaikan secara psychography marketing, konsumen tidak anti dengan barang mahal. Mereka Cuma benci “merasa rugi”. Jalan ninjanya: berikan justifikasi logis, kalau berani pasang harga Rp10 ribu per pcs, rasakan tekstur ikan tenggirinya, atau buat bumbu kacangnya super medok.Eksekusi ini meredam resistensi otak rasional secara otomatis.
Stop! Jangan sekadar berpikir bagaimana caranya masuk for you page (FYP). Pattern interrupt sangat vital di sini. Saat traffic meledak, langsung aktifkan taktik costumer retention. Dengarkan komplain. Misal komplain terlalu mahal. Eksekusi paket bundling atau perbaiki gramasi. Jangan defensive, realisasikan kebutuhan mereka.
Target market jajanan pinggir jalan itu sangat price-sensitive. Kalau nekat main premium pricing, experience visual juga harus dinaikkan. Gerobak harus kinclong, packaging rapi, dan higienis ekstra. Ini memanipulasi persepsi bawah sadar, bikin konsumen rela merogoh kocek lebih dalam karena tervalidasi oleh suasana.
Sekarang, coba bayangkan saat warungmu viral dan antrean mengular. Alih-alih Cuma fokus menghitung cuan di laci, kamu keluar memberikan segelas teh hangat gratis buat yang antre. Rasakan efek hipnotiknya. Konsumen tiba-tiba merasa sangat dihargai.
“Koneksi emosional yang terbangun ini akan mengunci loyalitas mereka selamanya,” tulis Sady.
Viral dan Feedback Loop
Ia memberikan pengetahuan bisnis, bahwa rahasia viral yang suitainable murni ada di feedback loop. Ubah hujatan pedas netizen jadi data riset gratis. Somay ini dikritik? Langsung pivot. Buatkan pengumuman “kami mendengar kalian.” Lalu upgrade kualitasnya.
Haters yang dirangkul dan didengarkan akan berbalik 180 derajat menjadi pembela brand garis keras.
Jangan pernah tumbalkan usia bisnismu demi shor-time greed. Viral itu sifatnya cuma amplifier, memperbesar apa yang sudah ada. Kalau kualitas aslinya zonk, matinya juga makin tragis. Validasi dulu core product-mu, pastikan rasanya pantas, baru injak gas promosi. Ini eksekusi bisnis yang sehat dan panjang umur.
Sebagai signature insight dari Sady, ia menyampaikan viralitas adalah tiket undangan untuk datang, tapi konsistensi kualitas adalah alasan konsumen menolak pulang. Jangan manipulasi ekspektasi jika tidak punya kapasitas untuk merealisasi. Bisnis suistainable dibangun di atas empati, bukan sensasi.
“Harga dan rasa itu pengadilan paling jujur,” tulisnya.
Point lainnya, Sady mengatakan hal yang menyedihkan lainnya, pedagang dimanfaatkan konten kreator manipulatif. Mereka membuat konten tidak sesuai fakta, hanya demi mengejar kontennya viral semata.












