G-Cov, Detektor Covid-19 Hasil Temuan Mahasiswa USK Banda Aceh

G-Cov Bisa Digunakan Mandiri

Tim mahasiswa USK yang mengikuti PKM-KS berhasil menemukan detektor Covid-19 dengan keakuratan mencapai 92,45%. Alat itu dapat digunakan secara mandiri oleh siapa saja. Foto: Dok. USK
Tim mahasiswa USK yang mengikuti PKM-KS berhasil menemukan detektor Covid-19 dengan keakuratan mencapai 92,45%. Alat itu dapat digunakan secara mandiri oleh siapa saja. Foto: Dok. USK

Komparatif.ID, Banda Aceh– G-Cov merupakan alat detektor mandiri Covid-19. Dengan alat tersebut semua orang dapat memeriksa diri secara mandiri. Tingkat keakuratan melebihi 92,45%.

G-Cov merupakan karya yang lahir dari penelitian mahasiswa yang mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa-Karsa Cipta (PKM-KS) yang diselenggarakan oleh Simbelmawa di bawah Kemenristekdikti. 

Baca juga: Dunia Bersiap Menyambut Metaverse

“G-Cov dapat mengukur tingkat keparahan virus Corona-19 di dalam tubuh manusia,” kata Ketua Tim Adinda Zahra Ayufi Ramadhani, Sabtu (8/10/2022). 

G-Cov juga dapat memberikan panduan kesehatan secara asynchronous telemedicine.

Dengan menargetkan masyarakat umum, alat detektor ini dapat menentukan adanya infeksi COVID-19,  kemudian mengklasifikasikan derajat keparahan berdasarkan citra foto toraks, keluhan klinis serta hasil tanda-tanda vital (suhu, denyut nadi dan saturasi oksigen).

G-Cov dapat dipergunakan secara mandiri oleh setiap orang, sehingga setiap individu dapat mendeteksi infeksi COVID-19 tanpa perlu memeriksa diri ke dokter.  

Tim peneliti di bawah bimbingan Dr. dr. Budi Yanti Sp.P(K) yang terdiri dari Adinda Zahra Ayufi Ramadhani dari Pendidikan Dokter,  Zarfan Fawwaz Muhamad   dari Pendidikan Dokter, Al Yafi dari Teknik Komputer, dan Rahmad dari Teknik Elektro, dibentuk Maret 2022.

Tim mahasiswa USK yang mengikuti PKM-KS berhasil menemukan detektor Covid-19 dengan keakuratan mencapai 92,45%. Alat itu dapat digunakan secara mandiri oleh siapa saja. Foto: Dok. USK
Tim mahasiswa USK yang mengikuti PKM-KS berhasil menemukan detektor Covid-19 (G-Cov) dengan keakuratan mencapai 92,45%. Alat itu dapat digunakan secara mandiri oleh siapa saja. Foto: Dok. USK

Penemuan G-Cov bermula dari  diskusi proses perjalanan COVID-19, kemudian menelaah permasalahan yang berkaitan dengan COVID-19 berdasar  literatur dan teknologi terbaru, agar dapat melakukan pemecahan terhadap permasalahan COVID-19.

Dalam penyusunan prototipe, juga dilakukan pengurusan izin etik dan pengumpulan 800 dataset foto toraks pasien COVID-19 yang terkonfirmasi di RSUDZA Banda Aceh.

Setelah aplikasi dan alat detektor berhasil dibuat, Tim PKM-KC ini memberikan nama prototipe tersebut menjadi G-COV atau Grouping COVID-19.

G-Cov Telah Diuji Pada Pasien 

Pengujian alat dilakukan pada pasien yang dicurigai terindikasi COVID-19, serta pasien yang datang berobat ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) atau Poli Pinere RSUDZA Banda Aceh. 

Dari hasil dataset simulation, G-COV dapat menentukan seseorang terinfeksi COVID-19 dan mengklasifikasikan derajat keparahan pasien dengan akurasi lebih dari 92,45%. Sedangkan jika menggunakan real-testing, akurasi G-COV mencapai 95%. 

Saat ini, G-COV telah memiliki hak cipta dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, dan telah mendapat letter of acceptance untuk publikasi di jurnal ilmiah. 

Untuk dapat dipasarkan ke publik, G-Cov masih membutuhkan usability test dan pilot testing.  Bila itu sudah selesai, akan dipasarkan kepada khalayak.

Apakah kehadiranG-Cov akan membuat tes swab dan rapid test  yang telah ada akan ketinggalan zaman? Semoga.

 

Artikel Sebelumnya11 Sungai di Aceh Utara Alami Sedimentasi Parah
Artikel SelanjutnyaSuhaimi Hamid di Ujung Tanduk?
Muhajir Juli
Jurnalis bersertifikat Wartawan Utama Dewan Pers dan penulis buku biografi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here