Lagu dangdut Delima yang didendangkan oleh Jotha RG dan Yulia Citra pada 1996, menjadi salah satu favorit penggemar dangdut kala itu. Delima menjadi media penyalur aspirasi mereka yang kecewa, baik karena ditinggalkan, maupun dibiarkan menunggu dalam ketidakpastian.
Delima! Abang pulang!
Lirik pembuka lagu tersebut begitu memesona. Seorang pria yang membawa pulang berjuta-juta ton rindu kepada sang kekasih, akhirnya kembali ke kampung halaman, tempat ia dan belahan jiwanya bertumbuh bersama, dan kemudian mengikat janji untuk saling setia.
Kepulangan yang seharusnya membawa bahagia, ternyata harus berakhir duka bagi sang pria dan wanita.
Baca: Abang Kandung Rhoma Irama Dicampak Fans di Aceh
Dum! Ketika sang kekasih kembali, sang belahan jiwa telah menikah dengan pria pilihan orang tuanya. Jotha RG dalam lagu itu bukan lelaki yang ditolak oleh orang tua sang kekasih. Ini terucap dalam lirik selanjutnya.
“Aduh Mak, Abang pulang tuh, Mak.” Lirik itu menyiratkan bahwa sang pria merupakan lelaki yang dulunya diterima di keluarga perempuan.
Sang wanita bangkit dari duduknya. Membuang tampi berisi beras. Ia berlari ke tepian telaga, tempat si pria berteriak memanggil namanya.
Demikian juga si pria, dia berlari kecil mencapai sang belahan jiwa. Kala sang pria berlari, dia melintasi kebun sayur, tempat suami sang kekasih sedang menyiangi gulma.
Pertemuan yang bertahun-tahun dinantikan oleh Jotha, harus berakhir kecewa. Sang Rembulan telah menjadi istri orang lain, dan telah memiliki satu orang anak.
Delima, Sebuah Dilema Cinta
Di sini waktu seakan membeku untuk sesaat. Lalu muncul pertanyaan yang bersifat paradigmatik. Mengapa Delima membangun asumsi bahwa pacarnya tidak akan kembali dari perantauan:
“Aku tak menyangka Abang akan kembali,”ujarnya.
Pernyataan Delima itu menunjukkan beberapa hal, baik secara teknis maupun subtansil.
Pertama, teknologi informasi di zaman itu sangat terbatas. Besar kemungkinan, pacarnya Delima hanya mengandalkan surat untuk memberi kabar bahwa dia masih eksis dan ada.
Jika benar dugaan saya, pekerjaan pacarnya si Del tidak begitu jelas di perantauan. Besar kemungkinan, dia tidak memiliki pekerjaan tetap, terutama di awal masa perantauannya, sehingga agak susah baginya untuk memberi kabar kepada Delima tentang keberadaannya tersebut.
Jika asumsi saya benar, maka Delima tidak ingin berjudi. Penjelasan akan posisi Delima tersebut bisa dijelaskan dalam berbagai perspektif pada bagian kedua.
Secara kebudayaan, si perempuan hidup dalam masyarakat yang kental dengan nuansa partiarkis dalam masyarakat rural. Tentu, keadaan itu akan sulit baginya untuk menentukan pilihan terbaik untuk dirinya.
Apalagi, di zaman itu, advokasi untuk perempuan tidaklah sekencang sekarang. Itulah mengapa ketika dia harus menikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya, Delima tidak bisa menolak. Tentu sulit hidup dalam masyarakat rural yang partiarkis dengan menanggung beban budaya sebagai “perawan tua.”
Apalagi, dalam video klip asli lagu ini, Delima dinikahkan dengan laki-laki yang lebih baik kondisi ekonominya dibandingkan pacarnya yang sedang merantau. Berarti, Delima juga ikut membebaskan beban orang tuanya dengan kesediaan dinikahkan dengan laki-laki, yang besar kemungkinan, tidak dia cintai.
Di ujung video klip muncul tulisan, siapa yang salah? Sebuah tanya yang tidak perlu. Karena ini bukan soal siapa yang tidak setia. Keduanya korban dari sang waktu dan realita kehidupan.
Lagu ini tentu bukan monopoli pacarnya Delima. Banyak laki-laki di luar sana yang merasakan derita cinta ketika harus berlomba dengan kejammya waktu.
Di saat harus memperbaiki keadaan ekonomi, dalam waktu yang sama pula, tambatan hatinya telah berpindah ke dimensi cinta yang lain. Akhirnya, sebagaimana lirik terakhir lagu ini, “Ke mana ku bawa hati yang terluka. Ke mana ku bawa diri yang merana.”
Artikel ini ditulis oleh Bung Alkaf. Seorang akademisi di IAIN Langsa.













