
Di sebuah lorong sempit di Banda Aceh, seseorang sedang mengetuk ritme rapa’i ke dalam sebuah sampler digital. Bukan untuk menghapus bunyinya, tapi untuk meneruskannya ke tempat yang belum pernah ia capai.
Pertanyaannya bukan apakah itu boleh dilakukan. Pertanyaannya adalah: apakah ia tahu apa yang sedang ia teruskan?
Tradisi Aceh bukan sesuatu yang perlu diselamatkan. Yang dibutuhkan adalah orang yang mau benar-benar memahaminya.
Menyentuh yang Tidak Terlihat dari Luar
Di Aceh, memahami tradisi bukan pekerjaan ringan. Saman bukan sekadar tari —ia adalah cara tubuh-tubuh bergerak bersama dengan makna. Didong bukan sekadar nyanyian —ia adalah cara orang Gayo menjaga ingatan dan meneruskan pertanyaan yang belum selesai dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Ketika seorang seniman muda menyentuh warisan ini, ia menyentuh sesuatu yang jauh lebih berat dari yang terlihat. Ada yang bisa dilihat dari luar —gerakannya, bunyinya, kostumnya.
Baca juga: Sanggar Mirah Delima Umuslim Curi Perhatian Ribuan Penonton PKB Bireuen 2025
Tapi ada yang hanya bisa dipahami dari dalam: mengapa ia lahir, dan apa yang hilang jika maknanya pergi.
Di sinilah masalah mulai terlihat. Ada yang memperbarui tradisi karena mengikuti tren, bukan karena benar-benar memahaminya. Ada yang menempelkan kata “kontemporer” pada sesuatu yang sebetulnya hanya tampilan baru tanpa isi lama.
Dua hal ini berbeda: yang pertama adalah memperbarui dengan kesadaran, yang kedua adalah memperbarui dengan penampilan. Memperbarui dengan kesadaran artinya tahu mengapa sebuah tradisi lahir, bukan hanya bagaimana cara melakukannya.
Artinya berani bertanya: untuk siapa tradisi ini masih hidup hari ini? Memperbarui dengan penampilan artinya mengambil kulitnya —irama, kostum, nama —lalu menyebutnya pembaruan. Hasilnya terlihat hidup dari jauh. Dari dekat, ia kosong.
Yang paling setia kepada tradisi bukan yang mengulang tanpa berpikir, melainkan yang tahu apa yang layak diteruskan dan berani bertanggung jawab atas pilihan itu. Seniman yang hanya hadir di atas panggung tanpa tahu apa yang sedang ia bawakan bukan pewaris. Ia tamu yang tidak tahu ia sedang bertamu.
Seudati dan Pertanyaan yang Sering Tidak Ditanyakan
Pertanyaan yang tepat tentang tradisi selalu soal kedalaman, bukan soal siapa yang boleh menyentuhnya. Apakah seniman ini sudah cukup memahami untuk tahu apa yang sedang ia ubah, dan mengapa? Ambil Seudati.
Bagi yang hanya menonton, ia adalah tarian laki-laki yang enerjik, hentakan kaki, tepukan dada, gerak yang ramai. Tapi hentakan itu bukan hiasan: ia adalah alat musiknya. Tidak ada rapa’i, tidak ada seurune, karena tubuh itu sendiri yang menjadi instrumen.
Syair yang dilantunkan bukan pengiring —ia adalah isi pertunjukan, narasi perjuangan yang dulu dipakai sebagai cara menyampaikan pesan ketika cara lain tidak bisa. Seniman yang tidak tahu ini bisa menarikan Seudati dengan sempurna secara teknis. Tapi ia sedang membawakan kulit tanpa tahu ada isi di dalamnya.
Kehilangan yang Tidak Terasa sebagai Kehilangan
Yang membuat ini berbahaya bukan ketika pembaruan itu gagal —tapi justru ketika ia terlihat berhasil. Saman masih tampil di panggung. Masih diakui UNESCO. Masih ditonton dan ditepuktangani.
Semua orang merasa tradisi itu hidup. Tapi syair yang dilantunkan sudah tidak lagi dipahami oleh yang melantunkannya —gerakannya diajarkan, kekompakkannya dilatih, urutannya dihafal. Yang tidak diteruskan adalah kemampuan memahami syair itu sebagai pesan, bukan sekadar melodi.
Dan karena tidak ada yang terlihat hilang, tidak ada yang merasa perlu memulihkan apa pun. Inilah kehilangan yang paling sulit disadari: kehilangan yang tidak terasa sebagai kehilangan.
Di lorong sempit itu, seseorang masih mengetuk rapa’i ke dalam sampler. Apakah ia orang yang benar-benar memahami —atau sekadar pengguna yang mahir? Jawabannya tidak bisa dilihat dari bunyinya. Yang bisa didengar hanya satu: apakah ia tahu ia sedang bertamu, atau tidak.












