Komparatif.ID, Jakarta— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kejatuhan tajam pada perdagangan Rabu, 28 Januari 2026. Hingga siang hari, tekanan jual di pasar saham domestik belum mereda meskipun Bursa Efek Indonesia (BEI) telah memberlakukan penghentian sementara perdagangan atau trading halt selama 30 menit.
IHSG tercatat anjlok hingga 8,76 persen ke level 8.193,77, sekaligus menjadi posisi terendah sejak November 2025 dalam satu hari perdagangan.
Sejak pembukaan perdagangan pagi, IHSG langsung bergerak di zona merah dan terus memperdalam pelemahan hingga siang hari.
Rentang perdagangan terjadi pada kisaran 8.596,17 di level tertinggi harian hingga menyentuh titik terendah 8.187,73.
Aktivitas transaksi saham didominasi aksi jual dengan volume perdagangan mencapai 49,15 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp35,53 triliun. Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 3,21 juta kali.
Dari seluruh saham yang diperdagangkan, hanya 28 saham yang mampu menguat, sementara 768 saham melemah dan delapan saham lainnya stagnan.
Bursa Efek Indonesia secara resmi melakukan trading halt setelah IHSG mengalami penurunan hingga menyentuh ambang batas pertama kebijakan tersebut, yakni penurunan 8 persen.
Baca juga: Sejarah, Valuasi Saham Apple Capai Rp45.000 Triliun Dollar
Dalam pengumuman BEI disebutkan pembekuan sementara perdagangan dilakukan pada pukul 13:43:13 waktu Jakarta Automated Trading System. Perdagangan kemudian dilanjutkan kembali pada pukul 14:13:13 waktu JATS tanpa perubahan jadwal perdagangan.
Tekanan terhadap IHSG pada perdagangan hari ini salah satunya dipicu oleh pengumuman terbaru dari MSCI terkait perlakuan free float di Bursa Saham Indonesia.
Melansir Bloomberg, BRI Danareksa Sekuritas mencatat aksi jual asing yang masif dengan nilai mencapai Rp5,63 triliun. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed yang cenderung bertahan tinggi dalam jangka waktu lebih lama serta rotasi dana menjelang rebalancing indeks MSCI.
Dari dalam negeri, aksi ambil untung, minimnya katalis jangka pendek, pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati Rp17.000 per dolar AS, serta tekanan pada sektor perbankan turut membatasi ruang gerak IHSG.
MSCI mengumumkan pembekuan sementara terhadap sejumlah penyesuaian pada indeks saham Indonesia. Phintraco Sekuritas menyebut kebijakan tersebut mencakup tidak adanya kenaikan Foreign Inclusion Factor dan jumlah saham dalam indeks, tidak adanya penambahan saham Indonesia ke dalam MSCI Investable Market Index, serta tidak adanya peningkatan klasifikasi saham dari Small Cap ke Standard.
MSCI menilai transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia masih belum memadai apabila hanya mengacu pada data kategorisasi pemegang saham dari KSEI.
Langkah sementara tersebut bertujuan untuk mengurangi risiko perputaran indeks dan masalah investability, sambil memberikan waktu bagi otoritas pasar untuk melakukan perbaikan.
MSCI juga menyatakan akan meninjau ulang status aksesibilitas pasar Indonesia pada Mei 2026 apabila tidak terdapat kemajuan signifikan, yang berpotensi berdampak pada bobot saham Indonesia di indeks MSCI Emerging Markets.
Sejumlah rumah riset sekuritas memproyeksikan pergerakan IHSG masih akan dibayangi volatilitas tinggi.













