Tuesday, 20 October 2026

Komparatif.ID

Situs Berita Aceh Inspirasi Indonesia

Wisata

Jejak Atjeh Tram: Monumen Kereta Api Kutaraja di Jantung Kota Banda Aceh

Jejak Atjeh Tram: Monumen Kereta Api Kutaraja di Jantung Kota Banda Aceh
Monumen Kereta Api Jepang BB84. Foto: Komparatif.ID/Rizki Aulia Ramadan.

Komparatif.ID, Banda Aceh— Lokomotif uap BB84 yang terparkir di seberang Masjid Raya Baiturrahman bukan sekadar patung besi tua. Monumen Kereta Api Banda Aceh ini berdiri di bekas Stasiun Kutaraja, stasiun kelas A terbesar di Aceh pada masanya, dan kini menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang mudah dijangkau di pusat kota Banda Aceh.

Monumen Kereta Api Banda Aceh, yang juga dikenal sebagai Monumen Kereta Api Kutaraja, kini menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang layak dikunjungi bagi siapa pun yang berada di ibu kota Provinsi Aceh.

Monumen ini berada di Kampung Baru, Kecamatan Baiturrahman, tepat di seberang Masjid Raya Baiturrahman. Kini kawasan tersebut telah berubah menjadi taman kota yang nyaman dan menjadi ruang publik bagi warga maupun wisatawan.

Posisinya di halaman Barata Departement Store membuatnya mudah dijangkau, baik oleh pengunjung yang baru selesai menikmati arsitektur Masjid Raya maupun mereka yang sedang berbelanja di pusat kota.

Sosok utama monumen ini adalah lokomotif uap bernomor seri BB84 buatan Jepang, yang dipajang bersama sebuah gerbong kereta api yang didatangkan dari Jerman. Keduanya menjadi simbol perjalanan panjang transportasi rel di Aceh sekaligus pengingat zaman ketika kereta uap menjadi andalan mobilitas dan distribusi barang.

Kisah di balik monumen ini berawal pada 1874, ketika pemerintah kolonial Belanda membangun jalur kereta api sepanjang sekitar lima kilometer dengan lebar rel 1,1 meter.

Baca juga: Mengintip Titik Nol Km Banda Aceh, Kini Jadi Taman Ramah Keluarga

Jalur itu menghubungkan pusat Kutaraja dengan pelabuhan Ulee Lheue. Pada tahap awal, jalur tersebut difungsikan untuk mendukung distribusi logistik militer Belanda, mulai dari pasukan hingga peralatan perang, dalam menghadapi perlawanan rakyat Aceh.

Seiring waktu, kereta api juga melayani masyarakat sipil. Jalur ini resmi dibuka untuk lalu lintas umum pada 12 Agustus 1876, lalu diperluas hingga ke Lambaro, Lamyong, dan rumah sakit militer di Pante Pirak.

Dalam perkembangannya, jaringan yang dikenal dengan nama Atjeh Tram ini mulai berfungsi sebagai transportasi umum pada 1889 setelah dibangun beberapa rute yang menghubungkan daerah seperti Seulimeum, Sigli, Pidie, dan Lhokseumawe.

Pada 1916, namanya berganti menjadi Atjeh Staatsspoorwegen. Operasionalnya sempat terhenti pada 1942 akibat Perang Dunia II dan pengambilalihan oleh Jepang. Setelah Indonesia merdeka, asetnya dinasionalisasi dan dikelola Djawatan Kereta Api.

Sejumlah catatan menyebutkan layanan ini kembali beroperasi pada 1982, sebelum jaringan kereta api di Aceh akhirnya dihentikan pada 1974 karena kalah bersaing dengan transportasi jalan raya dan sulitnya memperoleh suku cadang.

Bangunan stasiun asli kemudian tidak lagi berfungsi dan terdampak gempa bumi serta tsunami 2004, sebelum kawasannya ditata menjadi taman kota seperti yang terlihat sekarang. Monumen inilah yang dibangun untuk mengenang dan melestarikan sejarah perkeretaapian Aceh, sekaligus menjadi salah satu bukti yang tersisa dari masa itu.

Bagi wisatawan, monumen ini menawarkan pengalaman yang sederhana namun bermakna. Pengunjung dapat mengamati langsung bentuk lokomotif uap dari dekat, membaca jejak sejarahnya, dan mengabadikan momen dengan latar bangunan bersejarah di sekitarnya.

Suasana taman yang terbuka juga cocok untuk bersantai sejenak setelah menjelajahi kawasan pusat kota. Bagi keluarga, tempat ini bisa menjadi ruang belajar yang menyenangkan agar anak-anak mengenal perkembangan transportasi dan peran kereta api dalam sejarah Aceh.

Di tengah gempuran teknologi modern, keberadaan monumen ini mengingatkan bahwa Banda Aceh pernah memiliki sistem transportasi rel yang menopang aktivitas ekonomi dan mobilitas warga.

Merawat dan mengunjungi situs seperti ini menjadi bagian dari upaya menjaga ingatan kolektif tentang perjalanan Aceh dari masa ke masa.

Dengan lokasinya yang strategis dan nilai sejarahnya yang kuat, Monumen Kereta Api Banda Aceh layak masuk daftar kunjungan, terutama bagi wisatawan yang ingin memahami Banda Aceh lebih dalam, tidak hanya dari sisi religi dan alamnya, tetapi juga dari jejak sejarah transportasinya.

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *