Komparatif.ID, Banda Aceh– Meuligoe Gubernur Aceh, atau yang lebih dikenal sebagai Pendopo Gubernur Aceh, bangunan warisan kolonial Belanda yang berdiri persis di pusat Kota Banda Aceh hingga kini terus digunakan sebagai rumah dinas gubernur.
Pendopo ini dibangun sekitar tahun 1880 pada masa kolonial Belanda, di atas lahan yang sebelumnya merupakan bagian dari kompleks istana Kerajaan Aceh Darussalam.
Pembangunan bangunan yang kini jadi pendopo Gubernur Aceh ini diprakarsai Letnan Karel van der Heijden, yang pada 1877 diangkat sebagai komandan militer sekaligus gubernur sipil Belanda pertama di Aceh.
Ia memerintahkan pendirian bangunan ini di lokasi strategis bekas keraton untuk memusatkan pemerintahan Belanda, setelah Aceh Besar berhasil diduduki menyusul perang berkepanjangan yang dimulai sejak 1873.
Pada awalnya bangunan ini difungsikan sebagai kediaman Residen Belanda. Setelah Indonesia merdeka, fungsinya beralih menjadi rumah dinas Gubernur Aceh, dan peran itu bertahan hingga sekarang.
Dalam perjalanannya, pendopo disebut menjadi saksi sejumlah peristiwa penting, termasuk pertemuan dan diskusi para pemimpin perjuangan di Aceh. Bangunan ini juga menjadi simbol bagi provinsi berjuluk Serambi Mekkah atas kekayaan sejarah dan budayanya.
Dari sisi arsitektur, pendopo memperlihatkan perpaduan gaya kolonial Belanda dan unsur tradisional Aceh. Jendela besar dengan kisi-kisi, pintu-pintu tinggi, dan atap yang menjulang mencerminkan pengaruh Eropa.
Di sisi lain, ukiran kayu pada bagian interior dan eksterior serta penggunaan bahan lokal pada konstruksinya menunjukkan sentuhan khas Aceh. Pengunjung yang tertarik pada arsitektur bersejarah dapat melihat bagaimana dua tradisi berbeda berpadu dalam satu bangunan.
Kompleks pendopo dikelilingi taman luas yang terawat dengan pepohonan besar dan beragam bunga, sehingga suasananya terasa sejuk dan asri. Di bagian belakang terdapat Anjong Mon Mata, gedung yang kerap digunakan untuk kegiatan pemerintahan penting seperti pelantikan pejabat dan acara budaya.
Baca juga: Menyusuri Makam Putroe Ijo di Gampong Pande
Kompleks ini juga dialiri Krueng Daroy, sungai yang sudah ada sejak masa Kerajaan Aceh pada era Sultan Iskandar Muda. Sungai tersebut memisahkan kompleks pendopo dari Makam Sultan Iskandar Muda yang berada persis di sebelahnya, sehingga kawasan ini menjadi titik temu situs sejarah yang menarik untuk dijelajahi.

Fungsi pendopo tidak berhenti sebagai tempat tinggal pejabat. Bangunan ini dipakai untuk menerima tamu penting dari dalam dan luar negeri, menggelar rapat, pelantikan, hingga resepsi kenegaraan.
Pendopo juga menjadi ruang bagi pameran seni, pagelaran musik, dan kegiatan budaya lain yang bertujuan melestarikan sekaligus memperkenalkan kebudayaan Aceh kepada generasi muda dan masyarakat luas.
Statusnya sebagai cagar budaya pun sudah diakui negara. Pada 1999, pendopo ditetapkan sebagai cagar budaya nasional melalui Surat Keputusan Penetapan Nomor 014/M/1999 tertanggal 12 Januari 1999.
Bagi warga, potensi bangunan ini sebagai tujuan wisata sejarah disambut positif. Erwinsyah, warga Merduati, Banda Aceh, menilai pengenalan Meuligoe Gubernur Aceh sebagai objek wisata merupakan langkah yang baik.
Menurutnya, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui sejarah bangunan tersebut secara rinci. “Saya pikir itu sangat positif, apalagi untuk mendongkrak pariwisata,” ujarnya, Sabtu (17/10/2026).
Dengan letaknya di jantung kota, dekat dengan sejumlah situs bersejarah lain, Meuligoe Gubernur Aceh layak masuk dalam daftar kunjungan bagi siapa saja yang ingin memahami perjalanan Aceh dari masa kerajaan, kolonial, hingga kemerdekaan.




