Tuesday, 20 October 2026

Komparatif.ID

Situs Berita Aceh Inspirasi Indonesia

Wisata

Mengintip Titik Nol Km Banda Aceh, Kini Jadi Taman Ramah Keluarga

Mengintip Titik Nol Km Banda Aceh, Kini Jadi Taman Ramah Keluarga
Foto: Komparatif.ID/Rizki Aulia Ramadan.

Komparatif.ID, Banda Aceh— Ketika orang mendengar kata “titik nol”, ingatan banyak orang di Aceh biasanya langsung melayang ke Sabang. Padahal, ada titik nol lain yang tak kalah layak disinggahi dan letaknya jauh lebih dekat dari pusat kota, yakni Tugu Kilometer Nol Banda Aceh. Situs sejarah ini kini menjadi salah satu destinasi wisata di Banda Aceh.

Tugu tersebut berada di sekitar perbatasan Gampong Jawa dan Gampong Pande, Kecamatan Kutaraja, tepat di ujung daratan Pulau Sumatra dan tidak jauh dari muara Krueng Aceh.

Jaraknya sekitar 50 meter dari pantai Gampong Jawa. Di kawasan yang dahulu berupa rawa ditumbuhi ilalang itu kini berdiri sebuah monumen berupa delapan tiang putih yang menyangga tulisan merah bertuliskan “Kilometer Nol Kota Banda Aceh”, dengan angka nol berukuran lebih besar di bagian tengahnya.

Plakat di lokasi menjelaskan bahwa tempat inilah awal mula Kota Banda Aceh didirikan oleh Sultan Johan Syah pada hari Jumat, 1 Ramadan 601 Hijriah, bertepatan dengan 22 April 1205 Masehi.

Sultan Johan Syah tercatat sebagai sultan pertama Kerajaan Darussalam, kerajaan Islam yang berdiri setelah runtuhnya Kerajaan Indra Purba. Kota ini kemudian menjadi ibu kota Kesultanan Darussalam yang di kemudian hari dikenal sebagai Aceh Darussalam.

Dengan usia lebih dari delapan abad, Banda Aceh pun disebut sebagai salah satu kota Islam tertua di Asia Tenggara.

Selain bernilai sejarah, kawasan ini dirancang menyerupai taman bermain. Ruang terbuka yang luas dan bangunan tanpa dinding membuat areal ini nyaman dipakai keluarga.

Pada sore hari, anak-anak terlihat berlarian bebas di halaman kompleks, sementara orang tua duduk beristirahat di bangunan terbuka yang tersedia. Bagi sebagian orang tua, tempat ini menjadi sarana sederhana untuk mengenalkan sejarah kota kepada anak sambil berekreasi.

Lokasinya yang dekat dengan pantai juga menambah daya tarik. Dari kawasan ini, pengunjung dapat menikmati panorama laut, melihat kapal-kapal nelayan berlabuh, dan menyaksikan tradisi tarek pukat, yakni para nelayan menarik jaring dari laut ke pantai.

Baca juga: Menyusuri Makam Raja-Raja Gampong Pande, Tempat Peristirahatan Para Sultan Aceh

Aktivitas tersebut menjadi hiburan tersendiri bagi pengunjung. Maimunah, warga Gampong Pande, mengaku kerap membawa anak-anaknya ke sana. “Sering ke sini bawa anak-anak main, kadang juga beli ikan hasil tangkapan nelayan,” ujarnya.

Kawasan Gampong Jawa sendiri sudah lama dikenal sebagai tempat menikmati matahari terbenam. Pengunjung biasanya mulai ramai pada sore hari, baik untuk menunggu senja sambil menyeruput kopi maupun menemani nelayan menarik pukat.

Akses jalan yang terhubung ke Pantai Ulee Lheue juga menjadikan lokasi ini tempat singgah favorit. Para pesepeda yang berolahraga di akhir pekan pun kerap berhenti di sini karena jalur tersebut memang menjadi salah satu rute mereka.

Lebih dari sekadar penanda awal pengukuran jarak, Kilometer Nol Banda Aceh menyimpan makna mendalam bagi masyarakat setempat. Letaknya yang strategis menjadikannya landmark penting bagi warga maupun wisatawan.

Tempat ini dipandang sebagai simbol ketangguhan rakyat Aceh dalam menghadapi berbagai ujian, mulai dari masa penjajahan hingga bencana besar. Pada 26 Desember 2004, gempa berkekuatan 9,1 skala Richter yang disusul tsunami menghantam Banda Aceh dan menjadikannya salah satu wilayah yang terdampak paling parah, dengan korban jiwa besar dan kerusakan infrastruktur yang meluas.

Karena itu, berkunjung ke Kilometer Nol tidak hanya soal berfoto di depan tugu. Pengunjung juga bisa menjadikannya ruang untuk merenung dan menghargai perjalanan panjang kota Banda Aceh, sambil menikmati hamparan laut dan embusan angin pantai.

Keberadaannya yang tak jauh dari pusat Kota Banda Aceh membuat kawasan ini mudah dijangkau. Pada hari libur, tempat ini ramai dikunjungi warga. Seiring pengembangan yang terus berjalan, Kilometer Nol Banda Aceh diharapkan dapat semakin berperan sebagai pintu masuk bagi wisatawan untuk mengenal akar sejarah kota sekaligus menikmati keindahan pesisir Gampong Jawa.

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *