Komparatif.ID, Banda Aceh– Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Banda Aceh menggelar atraksi seni budaya di PLTD Apung sebagai bagian dari promosi sekaligus edukasi kepada masyarakat dan wisatawan.
Kepala Bidang Promosi Dispar Kota Banda Aceh, Azwar, mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk memperkenalkan seni dan budaya Aceh kepada generasi muda serta wisatawan, termasuk wisatawan mancanegara, khususnya dari Malaysia.
“Acara atraksi seni budaya yang digelar di PLTD Apung dan Taman Putroe Phang bagian dari promosi dan juga sekaligus edukasi, apalagi untuk generasi-generasi baru serta wisatawan dari luar negeri, khususnya Malaysia,” kata Azwar, Senin (19/10/2026).
Menurutnya, pemilihan PLTD Apung sebagai salah satu lokasi kegiatan juga berkaitan dengan upaya menghidupkan kembali aktivitas di kawasan destinasi tersebut. Kegiatan seni budaya diharapkan dapat menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan yang datang untuk melihat kapal pembangkit listrik raksasa yang terseret ombak tsunami 2004 yang kini menjadi salah satu destinasi wisata sejarah di Banda Aceh.
Azwar menjelaskan, atraksi budaya tersebut juga berkaitan dengan pengembangan pendapatan asli daerah (PAD), karena pengunjung yang menyaksikan kegiatan di PLTD Apung perlu membeli tiket masuk.
“Intinya kan nonton atraksi budaya di PLTD Apung pakai tiket. Yang niatnya lihat PLTD Apung, ada acara lain juga,” ujarnya.
Kegiatan tersebut dilaksanakan selama empat hari, yakni Sabtu dan Minggu selama dua pekan. Dispar sebelumnya sempat menggelar atraksi pada sore hari di Taman Putroe Phang.
Azwar mengatakan waktu pagi dipilih dengan mempertimbangkan pola kunjungan wisatawan, terutama rombongan wisatawan asal Malaysia yang biasanya tiba di PLTD Apung sekitar pukul 10.00 WIB. Waktu kunjungan tersebut dinilai menjadi momentum yang tepat untuk menghadirkan atraksi seni budaya.
Baca juga: Menikmati Syahdunya Masjid Raya Baiturrahman
“Kemarin kita coba buat sore seperti di acara Putroe Phang, kayaknya tidak cocok kalau sore, kayaknya sudah agak sepi. Makanya kita coba jam 10 pagi. Ada kemarin wisatawan dari Malaysia, setelah atraksi baru dia masuk ke dalam lihat yang lain,” katanya.
Selain atraksi seni budaya, Dispar Kota Banda Aceh juga menyiapkan sejumlah kegiatan pendukung. Salah satunya lomba storytelling sejarah dan kebudayaan Aceh tingkat SD/MI yang dirancang untuk mengajak pelajar mengenal lebih dekat sejarah dan budaya daerah.
Lomba tersebut semula dijadwalkan berlangsung pada 18 Oktober 2026 di PLTD Apung. Namun, kegiatan itu kemudian diundur menjadi Sabtu, 24 Oktober 2026, menyusul kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang sempat melanda Banda Aceh dalam beberapa hari terakhir.
Perubahan jadwal dilakukan dengan mempertimbangkan kesehatan, keselamatan, dan kenyamanan peserta serta pihak yang terlibat dalam kegiatan.
Selain storytelling, Dispar Banda Aceh menyiapkan lomba swafoto atau selfie di kawasan PLTD Apung. Peserta nantinya dapat mengunggah foto melalui Instagram dan memperoleh hadiah hiburan berdasarkan mekanisme yang ditentukan.
Azwar menjelaskan, kegiatan di PLTD Apung juga menjadi kesempatan untuk mengenalkan sistem tiket digital yang telah diterapkan di destinasi tersebut. Menurutnya, sebagian wisatawan dari luar Banda Aceh sudah mengetahui adanya tiket masuk, sementara sebagian masyarakat lokal mungkin belum mengetahuinya.
“Kenapa kita buat di PLTD Apung karena sebagian yang tahu PLTD Apung ada tiket. Ini juga kasih informasi bahwa PLTD Apung sudah ada tiket digital. Yang tahu-tahu ini orang luar, orang Banda Aceh mungkin tidak tahu kalau tidak dibuat acara,” ujarnya.
Ia berharap keberadaan kegiatan seni budaya dapat mendorong lebih banyak masyarakat untuk datang dan mengenal destinasi wisata yang ada di Banda Aceh. Menurutnya, kota tersebut memiliki potensi wisata yang cukup besar, baik dari sisi sejarah, budaya maupun destinasi yang telah tersedia.
Azwar juga mengajak masyarakat untuk hadir menyaksikan atraksi seni budaya yang digelar Dispar. Kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenalkan kembali sejarah dan kebudayaan Aceh kepada generasi muda serta wisatawan yang berkunjung ke Banda Aceh.




