Thursday, 15 October 2026

Komparatif.ID

Situs Berita Aceh Inspirasi Indonesia

Opini

Bireuen Mencintai Sepak Bola

Bireuen Mencintai Sepak Bola
Feri Irawan, Kepala SMK Negeri 1 Gandapura. Foto: Dok. Penulis.

Seputaran Ruang Terbuka Hijau (RTH) Cot Gapu, Kota Juang, Bireuen, seperti biasa, terlihat sibuk dan penuh hiruk-pikuk setiap insan mencari pundi-pundi rupiah. Tapi untuk kali ini, RTH Cot Gapu menjadi “rumah istimewa” bagi 17 klub sepakbola kecamatan. Pasalnya, RTH ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Bupati Bireuen 2026 dalam rangka HUT ke-27 Kabupaten Bireuen.

Lapangan RTH Cot Gapu, seolah-olah berubah menjadi panggung gladiator dan memperebutkan singgasana yang pantas untuk diduduki. Satu yang pasti, Jangka FC dan Gandapura FC sudah mempersiapkan semuanya secara matang. Mulai persiapan taktik, teknik, strategi, visi misi, dan tak ketinggalan anggaran di tarung final sore ini, Kamis (15/10/2026).

Pertandingan final hari ini akan menghiasi riuhnya suara penonton dari empat sisi lapangan. Mereka datang bukan mencari kegaduhan. Mereka datang untuk mendukung tim yang dicintainya. Datang jauh-jauh bahkan sampai puluhan kilometer demi laskar panji kecamatannya masing-masing berlaga di lapangan hijau untuk meraih yang terbaik. Kompetisi antarkecamatan ini selalu dipadati penonton.

Ya, Bireuen dikenal sebagai salah satu “rumah sepak bola Aceh” yang selalu menyatukan gairah, cinta, dan loyalitas suporter, terutama melalui klub kebanggaannya.

Urat Nadi dan Identitas Bireuen

Bireuen dan sepak bola memang dua hal yang tidak bisa dipisahkan, karena olahraga ini sudah menjadi urat nadi dan identitas bagi masyarakat “Kota Juang”. Menyebut Bireuen tanpa sepak bola terasa hambar karena daerah ini memiliki sejarah panjang yang sangat kuat di panggung sepak bola nasional.

Bireuen adalah jantung sekaligus ikon tak terbantahkan dari sepak bola Aceh dan Sumatera. Julukan “Kota Juang” tidak hanya tercermin dari sejarah perjuangan kemerdekaan, tetapi juga dari bagaimana masyarakatnya merawat fanatisme, sejarah, dan ekosistem sepak bola yang mengakar sejak era kolonial.

Bireuen pernah melahirkan klub legendaris seperti Voetbal Organisatie Bireuen (VOA) di masa lalu serta PSSB Bireuen yang melegenda.

Namun, seiring semakin banyaknya klub sepak bola lahir di Tanah Air, riwayat VOA Bireuen justru meredup bahkan kini tak terdengar lagi. Padahal, klub ini dulu terkenal tangguh tak terkalahkan untuk wilayah Sumatera dan pulau Jawa, terutama pada era penjajahan Belanda.

Baca juga: Tundukkan Kota Juang, Jangka Lolos ke Final Piala Bupati Bireuen 2026

Sementara, Persatuan Sepak Bola Seluruh Bireuen (PSSB) pernah mencapai masa keemasannya saat berhasil menembus kompetisi kasta tertinggi Liga Indonesia (Divisi Utama) pada era 2000-an. Kehadiran PSSB di level nasional sempat melambungkan nama Bireuen secara nasional dan menjadikannya kiblat sepak bola di Pantai Utara-Timur Aceh

Bireuen dikenal sebagai pabrik pesepak bola berbakat yang menghiasi tim nasional Indonesia dan klub-klub besar Liga 1, mulai dari era Ismed Sofyan, Zulkifli Syukur, Syakir Sulaiman, Zulfiandi, Syahrizal, hingga talenta-talenta muda saat ini.

Salah satu catatan emas dalam sejarah sepak bola Bireuen adalah keterlibatan para pemain mudanya dalam program Aceh-Paraguay pada tahun 2008. Banyak talenta asal Bireuen yang dikirim oleh Pemerintah Aceh untuk berguru ilmu sepak bola di Amerika Latin. Sekembalinya ke tanah air, alumni Paraguay ini menjadi tulang punggung kekuatan PSSB Bireuen dan klub-klub besar Indonesia lainnya.

Bireuen dikenal tidak pernah kehabisan talenta muda karena memiliki ekosistem pembinaan yang berjalan aktif melalui Sekolah Sepak Bola (SSB) dan kompetisi kelompok umur.

Meskipun saat ini infrastruktur legendaris seperti Stadion Cot Gapu telah dialihfungsikan menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH)—yang sempat memicu kerinduan masyarakat akan fasilitas stadion yang representatif—serta adanya dinamika tensi tinggi di lapangan, kecintaan masyarakat Bireuen terhadap si kulit bundar tidak pernah padam

RTH Cot Gapu kerap menjadi saksi bisu pertandingan-pertandingan atmosfer tinggi. Antusiasme masyarakat Bireuen terhadap sepak bola sangat fanatik, di mana setiap laga lokal maupun regional selalu dipadati oleh ribuan penonton setia.

Bireuen selalu mencintai dunia sepak bola seutuhnya tanpa memandang suku, agama, dan ras.

Kawasan Segitiga Emas Aceh

Posisinya yang berada di jalur trans-Sumatera menjadikannya titik temu pergerakan logistik, barang, dan jasa antarwilayah.

Secara geografis, Bireuen menjadi kawasan segitiga emas Acèh yang selalu menjadi titik temu bagi kawasan Acèh bagian barat, bagian tengah, dan bagian timur. Hal ini juga Bireuen selalu diuntungkan dari bidang ekonomi, sosial, budaya, dan politik.

Bireuen tempat nyaman untuk mengais rezeki dan mencari ilmu. Mencintai Bireuen tidak harus melulu dari kacamata sepak bola. Bireuen, dengan makna filosofis keberanian dalam menghadapi tantangan, rasa suka maupun duka, terbit hingga terbenam di setiap harinya, serta berani mengalami pasang surut di setiap problematika kota tercinta.

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *