Komparatif.ID, Banda Aceh— Di banyak kota, pukul lima pagi adalah waktu jalanan masih lengang dan kedai-kedai belum membuka pintu. Di Banda Aceh, jam yang sama justru menjadi awal denyut kehidupan di warung kopi.
Selepas salat subuh, warga berdatangan, memesan kopi, lalu duduk berbincang bersama kenalan lama maupun teman baru. Tradisi ngopi subuh ini kini mulai dilirik wisatawan sebagai pengalaman budaya yang berbeda.
Bagi masyarakat setempat, ngopi selepas subuh bukan sekadar menikmati secangkir kopi. Warung kopi berfungsi sebagai ruang bertemu, bertukar kabar, dan menikmati suasana pagi bersama. Kebiasaan ini tumbuh secara alami dan telah berlangsung lama, sehingga tidak dirancang khusus untuk kepentingan pariwisata.
Wisatawan yang ingin mencobanya punya sejumlah pilihan. Kupi Kubra di kawasan Beurawe menyajikan menu sarapan berupa canai dan martabak yang cocok disantap bersama kopi pagi.
Warkop Solong di Ulee Kareng dikenal sebagai destinasi ngopi yang bertahan lintas zaman. Sementara itu, Dhapu Kupi di Simpang Surabaya menjadi salah satu warung kopi yang dipilih warga Banda Aceh sendiri.
Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Banda Aceh, Rosdi ST MSi, menyebut tradisi ini sebagai bagian dari identitas sosial masyarakat Aceh. Menurut dia, keunikan tersebut dapat menjadi kekuatan untuk memperkenalkan Banda Aceh sebagai destinasi yang menawarkan pengalaman berbeda.
“Ngopi subuh di Banda Aceh bukan dibuat-buat untuk wisata, ini memang budaya masyarakat kita sejak dulu. Justru karena alami dan unik, orang luar merasa tertarik dan penasaran untuk berkunjung,” ujar Rosdi.
Suasana warung kopi yang sudah ramai sejak pukul lima pagi, kata Rosdi, kerap mengejutkan tamu dari luar daerah. Setelah menunaikan salat subuh, warga dari berbagai kalangan berkumpul dan membicarakan beragam hal, mulai dari olahraga, isu sosial, agama, hingga kegiatan sehari-hari.
“Banyak tamu dari luar Aceh yang heran melihat pukul lima pagi warung kopi sudah penuh. Mereka merasa ini unik karena di banyak daerah lain, aktivitas seperti itu biasanya terjadi malam hari,” katanya.
Baca juga: Taman Putroe Phang: Ruang Hijau yang Menyimpan Kisah Cinta Sultan Iskandar Muda
Keunikan itu semakin dikenal setelah foto dan video suasana ngopi subuh di Banda Aceh ramai dibagikan di TikTok, Instagram, YouTube, dan platform media sosial lainnya. Kota yang masih tenang, nuansa religius, serta keakraban warga menjadi cerita yang menarik untuk dibagikan.

Rosdi menilai fenomena ini menjadi bentuk promosi yang kuat, sebab calon wisatawan tidak hanya membaca informasi, tetapi melihat langsung pengalaman nyata para pengunjung.
“Sekarang promosi terbaik itu ketika orang datang, merasakan sendiri suasananya, lalu mereka upload ke media sosial. Itu lebih kuat karena publik melihat pengalaman nyata,” ujarnya.
Menurut Rosdi, konsep Charming Banda Aceh tidak hanya mengajak wisatawan mengunjungi masjid, museum, dan situs sejarah. Wisatawan juga diajak menikmati kehidupan dan budaya masyarakat yang menjadi bagian dari karakter kota.
“Wisata hari ini bukan hanya soal bangunan atau tempat indah. Orang juga mencari pengalaman dan cerita. Banda Aceh punya itu semua melalui budaya kopi dan kehidupan masyarakatnya,” kata Rosdi.
Karena itu, wisatawan dapat memasukkan ngopi subuh ke dalam agenda perjalanan. Setelah menikmati suasana pagi di warung kopi, perjalanan bisa dilanjutkan ke berbagai destinasi sejarah, budaya, kuliner, dan religi yang tersebar di Kota Banda Aceh.
Interaksi langsung dengan warga lokal pun memberi kesempatan mengenal cerita, kebiasaan, dan keramahan masyarakat yang mungkin tidak ditemukan hanya dengan mengunjungi objek wisata.
Tradisi ini juga membawa dampak bagi pelaku usaha lokal. Keramaian sejak pagi membuat warung kopi, usaha kuliner, dan berbagai UMKM ikut merasakan perputaran ekonomi dari aktivitas wisata berbasis pengalaman tersebut.
Rosdi menilai budaya seperti ngopi subuh perlu terus dijaga karena tumbuh dari masyarakat sendiri dan memiliki karakter yang sulit ditiru daerah lain.
“Kalau bicara kopi, mungkin banyak daerah punya kopi enak. Tapi suasana ngopi setelah subuh dengan nuansa religius dan kebersamaan masyarakat seperti di Banda Aceh, ini yang menjadi kekuatan khas kita,” tuturnya.
Melalui tradisi sederhana tersebut, Banda Aceh menawarkan cara lain menikmati perjalanan: bukan sekadar datang untuk melihat, tetapi duduk bersama, menyeruput kopi, berbincang, dan merasakan langsung denyut kehidupan kota sejak pagi.
“Budaya seperti ini harus kita rawat bersama. Karena yang membuat wisatawan tertarik datang ke Banda Aceh bukan hanya tempatnya, tetapi suasana dan pengalaman yang mereka rasakan,” tutup Rosdi.




