Home Opini Setelah Kapalo Meledak

Setelah Kapalo Meledak

Ekraf dan Seniman: Antara Kemerdekaan Berkarya dan Logika Pasar Ratoh Jaroe, atau Aceh yang Diingat Tradisi yang Diperluas JKA pergub jka kesehatan seniman status Khanduri jazz Kota yang Menyewakan Pandangannya. Menafsir Ulang Nyawoung: Aransemen sebagai Seni Memilih Mantra yang Tidak Perlu Dimengerti DPKA: Lembaga Rekomendatif atau Dokumen Mati? Naskah album kapalo
Moritza Thaher adalah musisi, komposer, dan pendiri Sekolah Musik Moritza yang berbasis di Banda Aceh sejak 1991. Foto: Dok. Pribadi.

Album Kapalo meledak. Keberhasilannya dikenal luas di Aceh. Bertahun-tahun kemudian, studio-studio kecil di Banda Aceh masih mencoba mengulangi keberhasilan itu. Mereka mencari suara, suasana, dan pola produksi yang serupa.

Namun, cara untuk mengulanginya tidak pernah ditemukan. Sejak awal, keberhasilan yang hendak mereka tiru sebenarnya merupakan anomali. Keberhasilan itu bukan hasil sebuah formula.

Keberhasilan luar biasa tetap mempunyai sebab. Namun, penyebabnya merupakan gabungan keadaan yang sulit diciptakan kembali. Waktu, pelaku, dan kebutuhan emosional masyarakat bertemu dalam keadaan tertentu.

Kapalo bersama Said Jaya hadir saat masyarakat Aceh membutuhkan musik yang dekat dengan kehidupan mereka. Hasan Husen dan Rafly menghadirkan karakter Aceh yang mudah dikenali melalui suara mereka. Bek Panik dari Apache13 melekat dalam ingatan pendengar karena hadir pada momentum yang mendukungnya.

Masing-masing mencapai keberhasilan besar. Namun, keberhasilan serupa tidak pernah benar-benar terulang, bahkan oleh penciptanya sendiri.

Kemudian, Rialdoni meraih perhatian luas. Kutidhing yang dibawakan Liza Aulia terdengar di berbagai tempat. Lagu-lagu tersebut diterima luas oleh pendengar Aceh melalui jalannya masing-masing.

Keberhasilan itu tidak berasal dari riset pasar atau rumus produksi yang baku. Ia muncul dalam keadaan tertentu. Setelah momentumnya berlalu, keberhasilan serupa sulit dihadirkan kembali.

Namun, industri terus mengajukan satu pertanyaan yang berangkat dari asumsi keliru: Bagaimana kita mengulangi keberhasilan itu?

Pertanyaan tersebut menganggap keberhasilan besar dapat diproduksi kembali dengan cara yang sama. Asumsi itu memperlakukan anomali seolah-olah memiliki cetak biru.

Kita lalu mengira bahwa analisis terhadap Kapalo akan menghasilkan petunjuk untuk mengulang keberhasilannya. Industri rekaman Aceh telah lama mencari petunjuk tersebut. Namun, petunjuk yang dapat menjamin keberhasilan serupa tidak pernah ditemukan.

Kapalo dan Dua Jenis Warisan

Setiap karya yang meraih keberhasilan besar meninggalkan dua jenis warisan.

Pertama, warisan artistik. Warisan ini mencakup karakter bunyi, pilihan estetik, dan keberanian mengambil risiko kreatif. Unsur-unsur tersebut dapat dipelajari, dijadikan referensi, dan dikembangkan melalui karya baru.

Kedua, warisan mitos. Warisan ini melahirkan keyakinan bahwa peniruan dapat menghasilkan keberhasilan yang sama.

Industri rekaman Aceh terlalu lama bergantung pada keyakinan tersebut.

Saat sebuah lagu berhasil, industri segera mencari penyanyi dengan karakter serupa. Lagu baru kemudian dibuat dengan nuansa serupa. Hasilnya diharapkan mencapai keberhasilan yang sama.

Cara tersebut kadang memberi hasil jangka pendek melalui unduhan atau pemutaran radio. Namun, keberhasilannya biasanya lebih terbatas. Setiap peniruan berikutnya menghasilkan pengaruh yang semakin lemah. Pada akhirnya, pola tersebut kehilangan daya tarik.

Baca: Beasiswa Anak Yatim Setelah Dana Cair

Kemungkinan lahirnya keberhasilan baru justru berada pada bentuk yang berbeda. Bentuk itu dapat muncul melalui karakter suara yang belum dikenal luas. Ia juga dapat menjawab kebutuhan emosional masyarakat yang belum terpenuhi.

Keberhasilan baru lahir dari pertemuan keadaan yang berbeda dari sebelumnya. Namun, industri masih sibuk menganalisis dan meniru keberhasilan masa lalu.

Ekosistem Bisa Dibangun

Dalam memilih penyanyi dan karya, proses seleksi tetap mempunyai fungsi terbatas. Seleksi membantu kita menentukan kualitas yang dicari serta alasan memilihnya.

Tanpa ukuran yang jelas, pilihan mudah didasarkan pada kemiripan dengan keberhasilan masa lalu. Sebuah karya dipilih karena terdengar seperti Kapalo. Penyanyi dipilih karena suaranya mengingatkan orang kepada Hasan Husen. Pilihan akhirnya diarahkan kepada pola yang pernah berhasil.

Kita menjadikan anomali sebagai standar. Lalu kita heran ketika hasilnya hanya menjadi tiruan yang lebih lemah.

Dengan ukuran yang jelas, pilihan dapat diarahkan kepada tujuan artistik tertentu. Tujuannya ialah membuka kemungkinan lahirnya karya dengan karakter baru.

Anomali tidak bisa dipesan. Namun, ekosistem yang memungkinkan anomali muncul dapat dibangun.

Caranya ialah memperluas ukuran yang digunakan dalam memilih dan mengembangkan karya. Berikan ruang bagi karakter musik dan penyanyi yang belum dikenal luas. Berikan pula ruang bagi eksperimen yang belum pernah dicoba.

Kegagalan juga perlu diterima selama menghasilkan pelajaran bagi proses berikutnya.

Kapalo lahir dari keberanian membuat karya yang saat itu terdengar asing. Album Aceh berikutnya yang meraih keberhasilan besar tidak akan terdengar seperti Kapalo.Album itu akan membawa karakter yang hari ini belum dapat kita namai.

Moritza Thaher adalah musisi yang berbasis di Banda Aceh. Tulisannya berfokus pada ekosistem seni, budaya, dan pendidikan — khususnya jarak antara cara sistem itu diklaim bekerja dan cara ia benar-benar bekerja. Sekolah Musik Moritza didirikannya pada 1991, dan ia masih aktif mengajar.

Previous articleRehabilitasi dan Optimalisasi Sawah Rusak Ringan & Sedang di Bireuen Rampung
Next article4 Jenis Kentut untuk Membaca Kesehatan
Moritza Thaher
Moritza Thaher adalah musisi dan penulis yang berbasis di Banda Aceh. Selama lebih dari tiga dekade mengajar, ia tumbuh bersama generasi muda Aceh yang terus bernegosiasi dengan budayanya sendiri — antara mewarisi, meninggalkan, atau menemukan cara baru untuk meneruskannya. Ia mendirikan Sekolah Musik Moritza pada 1991.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here