Home Opini Dari Hikayat ke Instalasi Seni: Jejak Kreatif Agus PMTOH di Brazil

Dari Hikayat ke Instalasi Seni: Jejak Kreatif Agus PMTOH di Brazil

Dari Hikayat ke Instalasi Seni: Jejak Kreatif Agus PMTOH di Brazil
Muhammad Yusuf Bombang (Apa Kaoy). Seniman dan Budayawan Aceh. Foto: HO for Komparatif.ID.

Ketika melihat foto-foto kiriman Agus Nur Amal dari Brazil beberapa hari lalu, ingatan saya tiba-tiba melompat jauh, lebih dari tiga puluh tahun ke belakang.

Saya teringat masa-masa akhir tahun 1980-an ketika kami sama-sama bergabung di Teater Mata Banda Aceh di bawah pimpinan almarhum Maskirbi. Saat itu kami masih sama-sama belajar memahami dunia teater. Kami berlatih, berdiskusi, menyusun pertunjukan, dan sesekali berdebat tentang banyak hal yang berkaitan dengan seni dan kehidupan.

Di antara para anggota Teater Mata, Agus termasuk sosok yang selalu tampak gelisah mencari bentuk-bentuk baru dalam berkesenian. Ia tidak pernah puas hanya menjadi pemain yang mengikuti pola yang sudah ada. Sejak muda, ia memiliki kegemaran mengamati hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian orang lain, lalu mengubahnya menjadi gagasan kreatif.

Beberapa tahun kemudian ia hijrah ke Jakarta dan melanjutkan pendidikan di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Namun perpindahan itu tidak membuat hubungan dengan kawan-kawan di Banda Aceh terputus. Setiap kali pulang ke Aceh saat liburan kuliah, Agus selalu membawa sesuatu yang baru.

Saya masih ingat, duduk bersimpuh di atas rumput pelataran Taman Budaya Aceh, Agus sering menghidupkan suasana dengan cerita-cerita jenakanya. Dari obrolan ringan itulah berbagai gagasan tentang teater, seni pertunjukan, dan kreativitas mengalir tanpa terasa.

Apa yang diperolehnya di Jakarta tidak disimpannya sendiri. Ia membagikannya kepada kami melalui diskusi-diskusi panjang, latihan bersama, dan percakapan yang sering berlangsung hingga larut malam.

Saat itu mungkin kami belum sepenuhnya menyadari bahwa berbagai gagasan yang sedang ia eksplorasi akan menjadi fondasi bagi perjalanan kreatif yang kelak membuat namanya dikenal luas sebagai Agus PMTOH.

Karena itu, ketika hari ini saya melihat foto-foto instalasi yang sedang dipersiapkannya di Brazil—terbuat dari payung, boneka, pakaian bekas, mainan anak-anak, dan berbagai benda sederhana lainnya—saya tidak melihatnya sebagai sesuatu yang muncul secara tiba-tiba.

Saya melihatnya sebagai bagian dari perjalanan panjang seorang seniman yang sejak muda memang tidak pernah berhenti mencari kemungkinan-kemungkinan baru dalam berkesenian.

Di sebuah ruang pamer berwarna hitam di São Paulo, Brazil, ribuan benda tampak memenuhi ruangan. Mainan anak-anak, boneka tua, payung warna-warni, pakaian bekas, ember plastik, peralatan rumah tangga, huruf-huruf mainan, hingga berbagai benda yang bagi sebagian orang mungkin sudah tidak lagi memiliki nilai guna.

Di ruang inilah instalasi bertajuk Goodness and Disaster sedang dipersiapkan untuk sebuah pameran yang dijadwalkan dibuka pada 1 Juni 2026 mendatang.

Foto-foto yang ia kirimkan memperlihatkan sebuah instalasi berskala besar yang dibangun dari beragam benda sehari-hari, mulai dari mainan anak-anak hingga benda-benda bekas yang disusun menjadi lanskap visual yang unik.

Namun di ruang itu, benda-benda tersebut tidak sedang menunggu untuk dibuang. Mereka sedang menunggu untuk bercerita. Payung-payung tumbuh seperti pohon. Boneka-boneka tua membentuk lanskap kenangan.

Mainan anak-anak yang telah kehilangan pemiliknya menemukan kehidupan baru sebagai bagian dari sebuah dunia imajinatif. Benda-benda yang selama ini dianggap selesai justru memperoleh kesempatan untuk lahir kembali dalam bentuk yang sama sekali berbeda.

Di tengah kesibukan menata berbagai objek itu, Agus tampak sedang melakukan sesuatu yang sesungguhnya telah ia kerjakan selama puluhan tahun: menghidupkan benda-benda melalui cerita.

Masyarakat Aceh mengenal Agus PMTOH sebagai seniman tutur yang mampu menghidupkan berbagai karakter melalui suara, gerak tubuh, humor, dan interaksi spontan dengan penonton. Dalam setiap penampilannya, benda-benda sederhana sering berubah menjadi tokoh-tokoh yang mampu mengundang tawa, haru, bahkan renungan.

Baca juga: BPMA Hapus Ribuan Aset Hilang Eks PHE NSB Senilai Rp37,49 Miliar

Namun sesungguhnya kekuatan utama PMTOH tidak hanya terletak pada kemampuannya bertutur. Di balik setiap pertunjukan terdapat sebuah cara pandang yang khas terhadap dunia.

Bagi Agus, benda tidak pernah berhenti pada fungsi asalnya. Sebuah piring tidak selalu harus menjadi piring. Sapu tidak selalu harus menjadi sapu. Botol plastik tidak selalu harus menjadi botol. Payung juga dapat berubah menjadi pohon. Kardus juga dapat menjelma menjadi rumah. Sepasang sandal bahkan dapat menjadi kapal.

Benda-benda sederhana dapat berubah menjadi tokoh, lanskap, hewan, kendaraan, atau apa saja yang dibutuhkan oleh imajinasinya.

Pandangan semacam inilah yang kemudian menjadi fondasi penting dalam perjalanan kreatif PMTOH. Jejak pemikiran itu dapat ditelusuri dari hubungan Agus dengan almarhum Teungku Adnan PMTOH, maestro hikayat Aceh yang menjadi salah satu sumber inspirasi terpenting dalam perjalanan keseniannya.

Dari tradisi hikayat, Agus belajar bahwa kekuatan utama sebuah pertunjukan bukan terletak pada kemegahan panggung ataupun kelengkapan dekorasi, melainkan pada kemampuan membangkitkan imajinasi penonton.

Tetapi Agus tidak berhenti pada proses pewarisan tradisi semata. Ia mencari bentuk baru. Ia mencoba menjawab pertanyaan yang sederhana namun mendasar: bagaimana membuat penonton kembali menggunakan daya khayalnya?

Jawaban itu justru ditemukan dari dunia anak-anak. Anak-anak memiliki kemampuan luar biasa untuk mengubah makna benda. Sebatang kayu dapat menjadi pedang. Sebuah sandal dapat menjadi kapal. Kardus bekas dapat menjadi rumah. Mereka tidak terikat pada fungsi asli sebuah benda. Mereka bermain dengan kemungkinan. Mereka bermain dengan imajinasi.

Dari situlah lahir gagasan yang kemudian menjadi ciri khas Agus PMTOH: menghadirkan benda-benda sebagai bahasa visual yang hidup di atas panggung. Bukan sekadar alat bantu pertunjukan, melainkan bagian dari cerita itu sendiri.

Karena itu, apa yang sedang dipersiapkan Agus di Brazil sesungguhnya merupakan kelanjutan alami dari perjalanan kreatifnya yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Instalasi yang ia bangun menyerupai sebuah dunia permainan raksasa. Payung-payung berwarna-warni tumbuh menjadi pohon-pohon imajinatif. Boneka-boneka tua dan mainan anak-anak membentuk lanskap yang mengingatkan pada dunia kenangan. Pakaian bekas disusun menjadi bentuk-bentuk baru yang mengaburkan batas antara benda sehari-hari dan karya seni.

Ribuan objek kecil yang tampaknya tersusun secara bebas sesungguhnya membentuk sebuah narasi visual yang mengajak pengunjung menjelajahi ruang ingatan, permainan, dan imajinasi.

Dalam konteks ini, Agus tidak lagi sekadar tampil sebagai pendongeng. Ia menjadi penyusun dunia. Ia merangkai hubungan baru antara benda, cerita, dan manusia.

Yang menarik, sebagian besar material yang digunakan dalam karya-karya tersebut berasal dari benda-benda yang dianggap biasa, bahkan sering kali dipandang sebagai barang yang sudah tidak berguna. Ada mainan rusak, pakaian bekas, peralatan plastik, serta berbagai perabot rumah tangga yang telah kehilangan fungsi awalnya.

Dalam kehidupan modern, benda-benda semacam itu biasanya berakhir di tempat pembuangan. Namun melalui sentuhan kreativitasnya, Agus mampu menghadirkan kemungkinan lain. Ia tidak sekadar mendaur ulang benda secara fisik. Ia juga mendaur ulang makna. Benda-benda yang dianggap telah selesai masanya lalu diberi kesempatan untuk lahir kembali dalam bentuk yang sama sekali berbeda.

Tanpa banyak slogan dan kampanye, pendekatan seperti ini sesungguhnya berbicara tentang isu yang sangat relevan dengan dunia saat ini: keberlanjutan, konsumsi, lingkungan hidup, dan hubungan manusia dengan benda-benda yang mereka ciptakan.

Karya-karya tersebut mengingatkan bahwa sesuatu yang dianggap tidak berguna masih dapat memiliki kehidupan kedua jika disentuh oleh imajinasi.

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, manusia modern justru menghadapi satu kehilangan yang sering tidak disadari: menurunnya kemampuan untuk berimajinasi. Kita hidup di tengah banjir gambar, video, dan informasi yang hampir seluruhnya telah disiapkan untuk dikonsumsi.

Kita semakin terbiasa menerima makna yang sudah jadi. Padahal kebudayaan tumbuh dari kemampuan manusia untuk membayangkan sesuatu yang belum ada.

Dalam banyak hal, karya-karya Agus PMTOH justru mengajak kita kembali kepada kemampuan dasar tersebut. Ia tidak menawarkan jawaban-jawaban jadi. Ia juga tidak memaksa penonton menerima satu tafsir tertentu.

Sebaliknya, ia mengundang setiap orang untuk ikut menciptakan makna. Seperti anak-anak yang bermain dengan benda-benda sederhana, pengunjung diajak melihat dunia dengan cara yang lebih bebas dan lebih terbuka.

Bagi Aceh, kehadiran Agus PMTOH di Brazil memiliki arti yang melampaui pencapaian seorang seniman secara individual. Ini adalah perjalanan sebuah tradisi yang terus berkembang. Hikayat yang dahulu dituturkan dari kampung ke kampung kini menemukan bentuk baru dalam ruang seni kontemporer internasional.

Nilai-nilai yang lahir dari budaya lokal tidak berhenti menjadi kenangan masa lalu, tetapi terus bergerak mengikuti zaman. Dalam diri Agus PMTOH, tradisi dan pembaruan tidak saling bertentangan. Keduanya justru bertemu dan saling menghidupkan. Dari hikayat lahir teater. Dari teater lahir permainan benda. Dari permainan benda lahir instalasi seni.

Dan dari sebuah sudut di Aceh, gagasan itu kini menemukan ruang dialog yang lebih luas di Brazil. Mungkin di situlah letak makna paling penting dari perjalanan ini.

Di saat dunia semakin sibuk mengejar hal-hal yang serba baru dan serba cepat, seorang seniman dari Aceh justru datang membawa sesuatu yang sederhana: kemampuan untuk bermain, berimajinasi, dan melihat kemungkinan di balik benda-benda yang dianggap biasa.

Di ruang pamer itu, payung-payung berubah menjadi pohon. Mainan rusak berubah menjadi karya. Barang bekas berubah menjadi cerita.

Dan melalui semua itu, Agus PMTOH sedang menunjukkan bahwa kreativitas bukanlah kemampuan menciptakan sesuatu dari ketiadaan, melainkan kemampuan melihat kehidupan baru dalam hal-hal yang selama ini luput dari perhatian.

Dari masa-masa latihan di Teater Mata Banda Aceh pada akhir 1980-an, dari ruang-ruang diskusi kecil yang penuh semangat pencarian, dari hikayat yang diwariskan para pendahulu hingga instalasi seni yang kini dipersiapkan di Brazil, perjalanan kreatif Agus PMTOH memperlihatkan satu hal yang tetap konsisten: keyakinan bahwa imajinasi adalah kekuatan yang mampu mengubah cara manusia memandang dunia.

Dan mungkin karena itulah benda-benda yang tampak diam di ruang pamer tersebut sesungguhnya tidak pernah benar-benar bisu. Melalui tangan seorang seniman dari Aceh, benda-benda itu sedang berbicara kepada dunia.

Saat tulisan ini diselesaikan, pameran yang akan menampilkan karya Goodness and Disaster di São Paulo, Brazil, memang belum dibuka. Namun Agus telah berada di Amerika Selatan sejak beberapa pekan sebelumnya untuk mempersiapkan setiap detail instalasinya.

Sebuah proses yang menunjukkan bahwa karya seni tidak lahir dalam sekejap, melainkan melalui ketekunan, kesabaran, dan kesetiaan pada gagasan yang diyakini.

Dari Aceh, kita tentu berharap perjalanan kreatif ini berjalan lancar. Sebab yang sedang dibawa Agus PMTOH ke Brazil bukan hanya sebuah karya seni, melainkan juga jejak panjang imajinasi yang tumbuh dari tradisi hikayat dan kebudayaan Aceh.

Previous articleBupati Bireuen Salurkan Santunan untuk Kaum Difabel Jelang Iduladha
Next articleMenafsir Ulang Nyawoung: Aransemen sebagai Seni Memilih
Muhammad Yusuf Bombang (Apa Kaoy)
Seniman dan Budayawan Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here