“Lembaga pendidikan tinggi kita tampak hidup secara administratif, tetapi pelan-pelan kehilangan daya gugah intelektualnya.”
Hampir setiap pagi dan sore, sepulang atau sebelum berangkat mengajar atau sesudah menyelesaikan urusan kampus, saya bersama beberapa teman biasa duduk di warung kopi sekitar Banda Aceh atau Aceh Besar.
Di Aceh, warung kopi bukan sekadar tempat minum kopi semata. Ia adalah ruang kecil tempat orang-orang membicarakan banyak hal: politik, agama, harga ikan di pelabuhan, anak muda yang semakin sibuk dengan gawai, hingga kegelisahan tentang pendidikan dan masa depan daerah ini.
Dari obrolan-obrolan sederhana itulah, satu pertanyaan perlahan terus mengganggu pikiran kami: mengapa lembaga pendidikan tinggi hari ini terlihat semakin sibuk, tetapi terasa semakin kehilangan jiwa?
Kampus-kampus tumbuh cukup cepat. Gedung baru berdiri. Program studi bertambah. Seminar nasional dan konferensi internasional hampir rutin digelar. Publikasi ilmiah terus didorong. Administrasi akademik semakin digital. Para dosen berlomba memenuhi target penelitian dan pengabdian. Universitas sibuk mengejar akreditasi unggul dan kerja sama internasional. Dari luar, dunia akademik tampak bergerak maju dengan penuh percaya diri.
Namun semakin lama diperhatikan, semakin terasa ada sesuatu yang kosong di tengah semua keramaian itu.
Lembaga pendidikan tinggi kita tampak hidup secara administratif, tetapi pelan-pelan kehilangan daya gugah intelektualnya. Diskusi semakin banyak, tetapi sedikit yang benar-benar meninggalkan bekas dalam kesadaran publik. Tulisan akademik terus diproduksi, tetapi jarang melahirkan gagasan yang membantu masyarakat membaca perubahan zaman.
Mahasiswa sibuk mengejar sertifikat dan CV organisasi. Dosen sibuk mengejar luaran penelitian. Universitas sibuk mengejar ranking. Tetapi ruang-ruang percakapan yang jujur, mendalam, dan gelisah justru semakin jarang ditemukan.
Kita mulai melihat kampus yang ramai kegiatan, tetapi miskin perdebatan.
Fenomena ini mengingatkan saya pada lahirnya mesin dalam sejarah modern. Sejak Revolusi Industri di Eropa abad ke-18, mesin tidak lagi sekadar alat bantu manusia, tetapi perlahan mengubah cara manusia bekerja, berpikir, bahkan memandang hidup. Pabrik-pabrik modern menuntut keteraturan, efisiensi, pengulangan, target produksi, dan disiplin waktu yang ketat. Dalam sistem seperti itu, manusia sering hanya menjadi bagian kecil dari rantai kerja yang besar. Ia tetap bergerak, bekerja, dan produktif, tetapi perlahan kehilangan hubungan batin dengan pekerjaannya sendiri.
Baca: Pers Vs Media Baru, Siapa Menang?
Kritik terhadap keadaan ini pernah disampaikan banyak pemikir modern. Karl Marx menyebutnya sebagai alienasi: ketika manusia terasing dari makna kerja yang ia lakukan sendiri. Sementara Max Weber menggambarkan modernitas sebagai “sangkar besi” birokrasi, ketika kehidupan semakin rasional, teratur, dan efisien, tetapi perlahan kehilangan ruh kemanusiaannya.
Barangkali Lembaga pendidikan tinggi hari ini sedang bergerak ke arah yang serupa. Universitas perlahan berubah menjadi mesin akademik. Seminar diproduksi, publikasi diterbitkan, laporan diselesaikan, akreditasi dikejar, dan angka-angka kinerja terus dipantau. Aktivitas akademik tetap berjalan dengan sibuk, tetapi daya reflektifnya perlahan melemah. Yang hidup adalah sistemnya, sementara kegelisahan intelektualnya mulai mengering.
Di Aceh, gejala ini sebenarnya mulai mudah dibaca. Banyak Lembaga pendidikan tinggi sibuk menyelenggarakan kegiatan seremonial, tetapi sepi tradisi membaca yang serius. Diskusi ilmiah kadang lebih ramai dokumentasi dan spanduk daripada pertukaran gagasan. Tidak sedikit seminar akademik terasa lebih sibuk mengurus absensi, sertifikat, dan unggahan media sosial dibanding memperdalam substansi pembicaraan.
Padahal Aceh hari ini sedang menghadapi begitu banyak persoalan yang seharusnya mengundang kegelisahan intelektual. Angka pengangguran sarjana meningkat. Anak-anak muda semakin jauh dari tradisi membaca yang mendalam. Ruang publik dipenuhi cang panah, brôh-putôh dan pertengkaran dangkal di media sosial. Konflik identitas mengeras.
Ketimpangan ekonomi masih sangat terasa. Kerusakan lingkungan terus terjadi di banyak tempat di Aceh hari ini.
Lembaga pendidikan tinggi sering tampak berjalan di jalur yang berbeda dari denyut persoalan masyarakatnya sendiri.
Penelitian terus diproduksi, tetapi masyarakat jarang benar-benar merasakan kehadiran pemikiran kampus dalam kehidupan sehari-hari.
Meski demikian, kita juga patut mengapresiasi berbagai bentuk kegelisahan yang masih hidup di lingkungan kampus. Demonstrasi mahasiswa Aceh yang baru-baru ini mengkritisi kebijakan terkait Jaminan Kesehatan Aceh (JKA), misalnya, menunjukkan bahwa fungsi kritis kampus belum sepenuhnya padam. Terlepas dari perdebatan mengenai substansi tuntutannya, gerakan tersebut menjadi pengingat bahwa kegelisahan intelektual masih dapat hadir dan memengaruhi ruang kebijakan publik. Dalam batas tertentu, penarikan kembali atau setidaknya penundaan pelaksanaan kebijakan tersebut menunjukkan bahwa suara mahasiswa tetap memiliki arti dalam kehidupan demokrasi.
Perubahan Orientasi Lembaga Pendidikan Tinggi
Salah satu persoalan paling mendasar dalam dunia akademik hari ini adalah perubahan orientasi universitas itu sendiri. Dahulu Lembaga pendidikan tinggi dibayangkan sebagai ruang pencarian kebenaran, tempat lahirnya kritik sosial, dan arena pergulatan pemikiran. Universitas bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi juga tempat manusia belajar mempertanyakan dunia.
Kini perlahan-lahan universitas bergerak menjadi institusi managerial. Bahasa akademik mulai digantikan oleh bahasa korporasi: efisiensi, performa, target, produktivitas, branding, kompetisi, unggul.
Universitas tidak lagi terutama diukur melalui kualitas percakapan intelektualnya, tetapi melalui indikator-indikator kuantitatif.
Akademisi akhirnya hidup di bawah tekanan budaya “publish or perish”: menulis dan menerbitkan artikel atau perlahan tersingkir. Dalam kondisi seperti itu, publikasi sering berubah menjadi aktivitas mekanis. Artikel ditulis demi kenaikan pangkat. Penelitian dilakukan demi laporan administrasi. Seminar diselenggarakan demi dokumentasi dan formalitas. Bahkan diskusi akademik kadang terasa lebih sibuk membicarakan teknis indeks jurnal dibanding substansi gagasan itu sendiri.
Kita akhirnya menyaksikan fenomena yang ironis: tulisan akademik semakin banyak, tetapi pemikiran segar semakin langka. Pengetahuan diproduksi seperti barang pabrik. Yang lebih problematis adalah ketika mahasiswa mulai diposisikan sebagai “konsumen pendidikan”. Kampus menjadi penyedia layanan, sementara mahasiswa dianggap pelanggan yang harus dipuaskan. Relasi intelektual berubah menjadi relasi transaksional.
Pendidikan dipahami sebagai investasi ekonomi semata, bukan lagi proses pembentukan kesadaran. Dalam situasi demikian, dosen tidak hanya dituntut mengajar, tetapi juga menjaga “kepuasan pelanggan”. Kampus sibuk membangun citra dan reputasi pasar. Ruang akademik perlahan kehilangan keberanian untuk menghadirkan ketidaknyamanan intelektual, padahal ilmu pengetahuan justru tumbuh dari pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu kenyamanan.
Ironisnya, masalah ini bukan semata-mata karena dosen atau mahasiswa malas berpikir. Banyak akademisi sebenarnya sadar bahwa sistem pendidikan tinggi hari ini bergerak terlalu birokratis dan melelahkan. Dosen dibebani laporan tanpa akhir, tuntutan publikasi, administrasi yang menumpuk, penilaian kinerja, hingga kecemasan ekonomi rumah tangga yang tidak sederhana.
Dalam situasi seperti itu, banyak orang akhirnya bekerja sekadar untuk bertahan hidup.
Mereka mengajar karena kewajiban. Menulis karena tuntutan jabatan. Menghadiri seminar karena formalitas. Membaca hanya ketika diperlukan untuk akreditasi atau penelitian. Bahkan ada yang hadir di sebuah forum bukan karena ingin berdialog, melainkan sekadar “memberi wajah atau nyetor muka” kepada pimpinan.
Di titik inilah dunia akademik mengalami alienasi: manusia mulai terasing dari makna pekerjaannya sendiri. Ilmu pengetahuan yang seharusnya menjadi jalan pencarian makna perlahan berubah menjadi rutinitas administratif. Kampus akhirnya lebih sibuk memproduksi dokumen daripada melahirkan kesadaran.
Yang paling mengkhawatirkan sebenarnya bukan kelelahan fisik para akademisi, melainkan matinya rasa ingin tahu.
Sebab universitas hanya akan benar-benar hidup jika orang-orang di dalamnya masih memiliki kegelisahan intelektual. Ketika dosen tidak lagi membaca di luar kewajiban, ketika mahasiswa belajar hanya demi nilai dan ijazah, ketika penelitian dilakukan hanya demi hibah, dan ketika seminar lebih ramai kamera daripada dialog, maka sesungguhnya kampus sedang bergerak menuju kekeringan ruh akademiknya sendiri.
Kita akhirnya menghasilkan banyak informasi, tetapi sedikit kebijaksanaan. Padahal sejarah membuktikan bahwa kampus besar tidak lahir dari budaya administratif semata. Universitas pernah menjadi ruang lahirnya kritik sosial, gerakan moral, dan perubahan peradaban. Dari ruang-ruang akademik lahir gagasan yang mengubah cara manusia memandang dunia. Kampus dahulu bukan hanya tempat mencari pekerjaan, tetapi tempat manusia belajar mempertanyakan kehidupan.
Karena itu, kritik terhadap “mesin akademik” sejatinya bukan kebencian terhadap kampus. Ia justru bentuk kecintaan terhadap dunia intelektual yang perlahan kehilangan ruhnya.
Universitas seharusnya kembali menjadi ruang yang memungkinkan manusia berpikir bebas, merawat rasa ingin tahu, dan membaca realitas secara jernih. Kampus tidak boleh hanya menjadi pabrik gelar, industri publikasi, atau tempat produksi tenaga kerja administratif. Ia harus tetap menjadi rumah bagi kegelisahan intelektual.
Di Aceh, hal itu terasa semakin penting. Daerah ini memiliki sejarah panjang tentang perjuangan identitas, pendidikan, dan keislaman. Aceh pernah dikenal bukan hanya karena simbol religiusitasnya, tetapi juga karena tradisi keilmuan dan keberanian intelektual para ulama serta cendekiawannya. Warung kopi dahulu hidup dengan perdebatan pemikiran. Dayah-dayah melahirkan tradisi membaca yang kuat. Diskusi tentang agama, masyarakat, dan politik tumbuh bersama denyut kehidupan rakyat.
Tetapi hari ini, kita perlahan terjebak dalam budaya formalitas. Banyak orang lebih sibuk menjaga citra daripada merawat kedalaman berpikir. Gelar akademik kadang lebih dihargai daripada keluasan wawasan. Jabatan lebih diperebutkan daripada gagasan.
Padahal profesor hanyalah posisi akademik. Sementara intelektual adalah keadaan jiwa.
Kampus yang sehat bukan kampus yang paling megah gedungnya atau paling ramai acaranya, melainkan kampus yang paling hidup percakapan intelektualnya. Universitas tidak cukup hanya menghasilkan lulusan, sertifikat, dan laporan kinerja. Yang jauh lebih penting adalah apakah ia masih mampu melahirkan manusia-manusia yang berpikir kritis, memiliki imajinasi moral, dan berani membaca zamannya dengan jujur.
Sebab peradaban tidak berubah hanya karena banyaknya administrasi pengetahuan. Peradaban berubah karena lahirnya gagasan-gagasan yang hidup. Gagasan tidak pernah lahir dari budaya akademik yang sepenuhnya mekanis. Ia tumbuh dari keberanian berpikir, tradisi membaca yang mendalam, kebebasan intelektual, dan ruang dialog yang sehat.
Karena itu, tantangan terbesar Lembaga pendidikan tinggi hari ini bukan sekadar meningkatkan ranking global atau memperbanyak publikasi ilmiah. Tantangan terbesarnya adalah menghidupkan kembali jiwa intelektual kampus. Sebab tanda paling jelas dari matinya sebuah universitas bukan ketika gedungnya runtuh, melainkan ketika orang-orang di dalamnya tidak lagi memiliki kegelisahan untuk memahami dunia. Waallahu’alam.
Oleh: Faisal Kuba, Akademisi STISNU Aceh.














> Kini perlahan-lahan universitas bergerak menjadi institusi managerial. Bahasa akademik mulai digantikan oleh bahasa korporasi: efisiensi, performa, target, produktivitas, branding, kompetisi, unggul.
Ya mau gimana bang, outputnya kan memang untuk menghasilkan pekerja yang “bekerja”, jadilah sistemnya dibuat kyak gitu. jadi ya terima nasib aja. wkwkwkwk
> Pendidikan dipahami sebagai investasi ekonomi semata
Ya mau gimana, mau lamar kerja diminta S1, klo nggak punya nggak keterima. jadi nggak mengherankan lah.
—
saya kira, kalau saya mau meng-counter tulisan ini, cukup banyak sebenarnya, karena banyak narasi yang lemah (flaw) dan bertolak-belakang dengan realitas hidup, klo bicara idealis ya bisa, tapi tetap harus realistis.