Home Khazanah Jeritan Hati 31 Tahun Ditinggalkan, Anis Temukan Sang Ayah Telah Menikah Lagi

31 Tahun Ditinggalkan, Anis Temukan Sang Ayah Telah Menikah Lagi

Anis dan amha
Rapor (sebelah kiri) dan foto sebelah kanan, menjadi barang kenang-keangan Amha (kiri) kepada anak dan istrinya. Di dalam foto, istri Amha yang sedan jongkok memegang bocah cilik bernama Anis. Foto: Dok. Anis.

Demi merawat ingatannya terhadap sang ayah, Anis menyimpan dengan baik selembar foto dan rapor SD milik Amha. Pria yang teramat ia cintai, meski hatinya akhirnya luka.

Tahun 1995, ketika itu usia Amha bin Ali Ahmad bar 20 tahun, meninggalkan istri dan seorang putri yang berusia 11 bulan di Desa Gunung Batin Udik, Kecamatan Terusan Nunyai, Lampung Tengah, Provinsi Lampung.

Amha mengatakan akan merantau ke Jawa. Dia berjanji, akan secepat mungkin menjemput anak dan istrinya di Lampung.

Tapi, janji itu tidak pernah ditepati. Amha tak pernah kembali. Istri dan putri semata wayangnya puluhan tahun memendam rindu. Batin mereka tersiksa, tapi tak tahu harus mengadu ke mana.

Baca: Berpisah 23 Tahun, Dita Temui Temannya di Dusun Udik di Wonogiri

Amha bin Ali Ahmad, merupakan pria kelahiran Pandeglang, pada 17 Juni 1975. Dia mulai menapaki status sebagai murid SD pada tahun 1984. Dia dibawa merantau ke Lampung oleh kedua orangtuanya.

Setelah cukup umur, dia berkenalan dengan seorang dara bernama. Setelah menikah, mereka dikarunia seorang putri cantik yang diberi nama Anis.

Menjadi anak pertama tentu sebuah moment yang sangat istimewa. Demikian yang juga dirasakan oleh Anis. Tapi, menjadi yang istimewa di mata seorang ayah, tidak dapat ia rasakan.

Ia tidak tahu bagaimana kasih sayang seorang ayah. Dia tidak pernah merasakan betapa pelukan seorang ayah sangat berarti. Sang ayah meninggalkan dirinya ketika Anis berusia 11 bulan.

Kala itu Amha pamit kepada istrinya merantau ke Jawa, dengan janji akan secepatnya kembali, menjemput istri dan anaknya dan diboyong ke Jawa. Tapi janji itu tinggallah janji.

Setelah pergi dan diantar dengan penuh cinta ke tepi jalan negara, Amha tidak pernah kembali. Dia raib bak ditelan bumi. Tinggallah istri dan putrinya di Lampung, menanti sesuatu yang tak pernah kembali.

Di Lampung, istrinya harus banting tulang membesarkan anak semata wayang mereka. menjadi buruh tani di ladang orang, menanam singkong di kebun orang. Tak sekalipun sang suami mengirimkan kabar, konon lagi uang.

Anis kecil diejek teman-temannya sebagai anak yang tidak memiliki ayah. Tiap kali diejek, Anis menangis. Dia mengadu ke ibunya. Sang bunda hanya dapat membujuk sang putri cantinya, supaya bersabar. Suatu hari ayah pasti pulang.

Tiap malam mereka berdoa semoga Amha selalu dalam lindungan Tuhan di tanah rantau. Mereka selalu mendoakan semoga Amha dimudahkan rezekinya di perantauan.

Seiring waktu, Anis dan ibunya harus menerima kenyataan, bahwa Amha tidak pernah pulang. Tapi satu yang masih diyakini oleh Anis, bila ayahnya masih hidup.

Setelah menikah, dia ingin mencari lagi sang ayahanda. Dia berharap dapat bertemu meski hanya sekali.

Cinta dan Luka Anis 

Pencarian terhadap sang ayah tidaklah mudah. Berbekal alamat di rapor, ia menelusuri jejak sang ayah. Melalui laman group Facebook, Anis berhasil berkomunikasi dengan salah satu keluarga Amha.

Hingga suatu hari, Anis berhasil mendapatkan nomor kontak Amha. Anis teramat bahagia, hingga kemudian luka baru muncul.

Sang ayah menolak ditemui.Ternyata Amha telah menikah dengan perempuan lain. Makanya dia tidak pernah kembali.

“Nanti Ayah yang akan datang ke tempatmu. Kamu belum boleh ke sini,” kata Amha, kepada putrinya. Sang anak mengangguk. Meski kecewa, tapi dia menerimanya.

Pertemuan itu akhirnya wujud. Mereka saling melepas rindu. Kala mereka bertemu, usia Amha sudah 50-an, dan sang putri telah memiliki anak.

Anis tidak marah kepada ayahnya. Dia menerima semua yang telah terjadi. Rasa kecewa tentu saja ada. Rasa sakit tentu saja bangkit.

Puluhan tahun ditinggalkan tanpa kabar, akhirnya bertemu dan harus menerima fakta, bila Amha sengaja meninggalkan istri dan anaknya di Lampung, demi perempuan lain.

Luka makin dalam ketika Anis mendapat kabar bila Amha bukan menikah dengan perempuan di Jawa. Tapi menikah dengan perempuan di Lampung.

“Insyaallah Aku tidak membenci Bapak. Aku tidak dendam Aku Cuma ingin ketemu Bapak walau Cuma satu kali dalam hidupku,” tulisnya di kolom komentar.

Kini dia sedang berhemat. Menabung rupiah demi rupiah, supaya ongkos ke Jawa dapat dihimpun dalam jumlah yang cukup. Perempuan tersebut ingin berkenalan dengan keluarga ayahnya di Pulau Jawa. Dia boleh “kehilangan” sang ayah, tapi ia tak boleh kehilangan saudara dari keluarga Amha.

Previous articlePraperadilan Eks Menag Yaqut Ditolak PN Jaksel
Next articleNasir Nurdin 5 Tahun Menjaga Tradisi PWI Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here