
Komparatif.ID, Bireuen– Dua warga lansia yang sakit, termasuk penderita stroke berat, masih bertahan di posko pengungsian Gampong Neubok Naleung, Kecamatan Peudada, Bireuen, hingga Selasa (9/12/2025).
Mereka membutuhkan bantuan kursi roda serta kebutuhan medis lainnya. Kedua lansia itu masih berada di lantai dua gedung serbaguna yang dijadikan tempat pengungsian sejak banjir melanda wilayah Peudada empat belas hari lalu.
Salah satu di antaranya adalah Jufri Affan (65), penderita stroke berat yang sudah enam bulan mengalami kelumpuhan sebagian. Kondisinya semakin memburuk setelah ia terjatuh saat berjalan beberapa waktu lalu.
Nada bicaranya kini kurang jelas, kaki kirinya lemas, dan tangan kirinya selalu menggenggam. Untuk berpindah tempat, ia membutuhkan kursi roda, namun hingga kini belum tersedia. Selain itu, popok dewasa juga sulit diperoleh karena keluarganya tidak memiliki biaya.
Saat banjir setinggi orang dewasa menggenangi seluruh kawasan itu, Jufri dievakuasi dari rumahnya menggunakan fiber tempat tampung ikan secara gotong royong oleh warga. Ia kemudian digotong menaiki tangga ke lantai dua gedung serbaguna.
Baca juga: 2 Jenazah Tanpa Identitas Ditemukan Tertimbun Lumpur di Peudada
Hingga dua pekan setelah banjir surut, ia belum dapat kembali ke rumah karena kondisinya dan rumahnya yang masih berlumpur.
“Musibah ini bukan pertama. Kami sudah pernah kehilangan rumah akibat tsunami 2004 di Krueng Mane. Jadi kami mencoba sabar karena ini ujian kedua,” ucap Jufri Affan pelan.
Safiah Abdullah, istrinya, mengaku kewalahan mengurus suaminya. Ia harus menggendong Jufri naik turun tangga setiap kali diperlukan. Ia berharap ada bantuan obat-obatan, kursi roda, kelambu, serta sembako karena persediaan makanan mereka hanya cukup untuk dua hari ke depan.
Selain Jufri, seorang lansia lain bernama Maryam (90) juga masih bertahan di lantai dua pengungsian. Ia mengalami patah tangan kanan, tidak mampu menggenggam, dan kedua kakinya tidak lagi aktif. Maryam dievakuasi oleh anak dan cucunya saat banjir terjadi.
Hingga kini ia menangis karena masih trauma setiap kali hujan turun.
“Saya sedih melihat anak-anak saya. Mereka harus menyelamatkan diri, keluarga, dan harta, tapi tetap mendahulukan saya,” ujarnya tersendat sambil mengusap air mata.
Hingga kini, keduanya masih menunggu bantuan yang lebih layak agar dapat melanjutkan hidup dengan kondisi lebih manusiawi pascabencana.












