Komparatif.ID, Bireuen— Sejak 2023, SMAN 1 Peudada menjalankan program baca Iqra untuk membantu siswa yang belum mampu membaca Alquran. Program tersebut jadi upaya sekolah memastikan setiap siswa memiliki kemampuan membaca Alquran sebelum menyelesaikan pendidikan.
Siswa diwajibkan bisa membaca Alquran sebelum menerima ijazah. Aturan tersebut disiapkan agar siswa memiliki bekal ketika melanjutkan kuliah, berumah tangga, maupun melamar pekerjaan.
Program tersebut mulai dijalankan saat SMAN 1 Peudada dipimpin Yuslina, S.Pd., M.M. Kini, program itu dilanjutkan oleh Kepala SMAN 1 Peudada selanjutnya, Fadli, S.Pd., M.M.
Koordinator program yang juga Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Tarwiyah, S.Pd., M.M., menjalankan program tersebut bersama tiga guru pembimbing. Mereka yakni Cut Fitriana, S.Pd.I., dari jurusan Bahasa Arab, Husna, S.Pd., dari jurusan Pendidikan Agama Islam, serta Yuliana, S.Pd., dari jurusan Bahasa Inggris.
Sekolah tidak hanya menunjuk guru Pendidikan Agama Islam atau Bahasa Arab untuk membimbing siswa. Guru dari jurusan lain juga dapat dilibatkan selama memiliki kemampuan dan waktu untuk mendampingi siswa belajar membaca Alquran.
Baca juga: MBG Bantu Siswa SMAN 1 Peudada Pangkas Pengeluaran Jajan
Untuk operasional guru pembimbing, sekolah menggunakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Sementara hadiah yang diberikan kepada siswa setelah menyelesaikan pembelajaran Iqra berasal dari iuran guru dan staf sekolah.
“Kami sediakan celengan saat pencairan gaji. Ini murni amal bersama, tanpa paksaan, penyumbang tidak ada patokan,” ujar Tarwiyah, Senin (10/8/2026).
Pada tahap awal program, hanya tiga siswa yang berhasil menyelesaikan pembelajaran dari jilid pertama hingga jilid keenam. Mereka adalah Muksalmina, Firman, dan Suci Rahmadani.
Tarwiyah mengatakan, pada awal pelaksanaan program masih ada siswa yang merasa malu mengakui bahwa mereka belum mampu membaca Alquran. Namun, kondisi tersebut mulai berubah pada 2024 dan 2025. Siswa mulai berani melaporkan kepada sekolah bahwa mereka belum bisa membaca Alquran.
Pada 2026, terdapat 26 siswa kelas 1 SMAN 1 Peudada yang dilaporkan belum mampu membaca Alquran. Mereka kemudian diarahkan mengikuti pembelajaran Iqra yang disiapkan sekolah.
“Remaja sudah malu belajar Iqra di gampong. Orang tua juga tidak bisa memaksa seperti saat SD,” kata Tarwiyah.
Melalui program tersebut, sekolah berharap siswa tidak hanya memiliki kemampuan dalam pelajaran umum, tetapi juga memiliki kemampuan membaca dan memahami Alquran.
