Komparatif.ID, Jakarta- Fans Arsenal di Indonesia berharap manajemen klub tersebut tetap mempertahankan Mikel Arteta, meski mantan gelandang asal Spanyol gagal mempersembahkan trofi Liga Champions UEFA untuk publik Kota London.
Kekalahan menyakitkan –lewat adu penalti- pada final Liga Champions UEFA di Budapest, Hongaria, Sabtu, 30 Mei 2026, menyisakan duka mendalam di hati fans Arsenal di seluruh dunia. Harapan mereka Mikel Arteta mampu mewujudkan capaian tertinggi di luar Premier League, tak tercapai.
Meski demikian, para fans Arsenal tidak menutup mata atas hasil kerja keras Mikel Arteta yang telah membangun kultur Arsenal sejak 2019.
Sejak mengambil alih tanggung jawab manajer Arsenal dari tangan Unai Emery yang dipecat oleh manajemen karena dinilai tak mampu meningkatkan prestasi Meriam London. Mikel Arteta bukan orang baru di dalam keluarga besar Arsenal. Dia pernah bermain cukup lama di sana, sekaligus pernah menjadi kapten tim.
Ia banyak mengetahui seluk beluk Arsenal, memahami filosofi klub secara utuh, serta memiliki karisma yang jauh lebih baik.
Sejak ditangani Arteta—ia ditetapkan sebagai manajer pada Desember 2019—pelan-pelan Arsenal bangkit dan percaya diri mengarungi kompetisi Liga Premier Inggris.
Sejak 2020 ia telah mempersembahkan Piala FA dan Community Shield untuk Meriam London. Pada 2023 Arsenal menutup kompetisi Liga Inggris sebagai runner up. Tahun 2024 kembali sebagai runner up Liga Inggris sekaligus berhasil bertahap di Liga Champions hingga babak delapan besar.
Tahun 2025, kembali sebagai runner up Liga Inggris, sekaligus berhasil masuk ke semifinal Liga Champions. Tahun 2026, mereka menjuarai Premier League, dan menembus final Liga Champions.
Dari statistik prestasi, para fans Arsenal berharap Mikel Arteta tetap diberikan waktu lebih panjang menukangi Arsenal.
Nanda Junius Riano, pada Senin malam, 1 Juni 2026 menyampaikan menurutnya Mikel Arteta masih sangat layak melanjutkan kepelatihannya di Arsenal.
Sejak ditukangi olehnya, ia telah berhasil mengubah kultur klub; bukan lagi sekumpulan bocah laki-laki, tapi telah menjadi sekumpulan laki-laki yang haus kemenangan. Perubahan itu dilakukan bukan sebatas tingkat pemain, tapi hingga ke tingkat staf.
“Ini jelas bagus banget. Karena itu kekurangan Arsenal dari semenjak ditinggal gerombolan Henry. No mental, no gelut seperti Vieira berantem sama Keane, meski setelah pensiun keduanya haha hihi,” kata Nanda Julio Riano.
Baca juga: Arsenal Setelah 20 Tahun
Meski sepakat Mikel Arteta telah mengubah kultur klub, bukan berarti tanpa kritik. Semenjak tiga kali berhasil menjadi runner up Liga Inggris, permainan Arsenal sangat pragmatis.
Di sisi lain seringkali pergantian pemain dilakukan pada saat kurang tepat dan kurang cepat. seperti waktu final [Liga Champions], menurut Nanda, Mosquera harusnya segera diganti karena kartu kuning.
Arsenal dua tahun lalu seingat Nanda, tidak pernah kalah ketika bertarung melawan Manchester City. Bahkan mampu menguasai pertandingan.
Kritik lain datang dari fans Arsenal yang lain. Pengelola akun Threads @kunyah_kunyah.id menyebutkan Mikel Arteta layak dipertimbangkan dipertahankan atau tidak, bilamana musim depan bisa mempertahankan gelar juara Liga Inggris, atau mampu merebut juara Liga Champions. Permainan haramball bukan masalah, selama mampu menyabet juara.
Pun demikian, dia mencatatkan beberapa kritik. Dalam beberapa match di English Premier League (EPL) Arsenal banyak kehilangan poin ketika melawan tim-tim kecil. Saat melawan yang kecil karena tidak mau kill the game lebih cepat. setiap kali sudah unggul, selalu datang perintah full defense.
Ia mencontohkan ketika pada musim 2025/2026, saat Arsenal melawan Wolves, Bournemouth, dan Sunderland. Andaikan bisa memetik poin penuh, sehingga tidak harus menghabiskan waktu hingga pekan terakhir untuk mengangkat tropi juara liga.
Para fans Arsenal sepakat tidak ada alasan untuk memecat Mikel Arteta. Semua yang ia persembahkan telah mengangkat martabat Arsenal sebagai tim besar. Sebuah kemegahan yang telah terlalu lama tak bersama klub tersebut.
Ia merupakan pelatih yang memiliki visi besar, mampu membawa klub kearah yang benar. Ia datang dengan proyek yang jelas, mengubah Arsenal menjadi juara —apa pun caranya.
Ketika dia pertama masuk sebagai pelatih, kondisi tim awut-awutan, ruang ganti pecah, pemain merasa lebih besar dari klub. Dia datang dan secara cepat mengubah kondisi.
Hasilnya, tiga kali runner ups Liga Inggris, lolos UCL hingga menembus semifinal dan setahun kemudian menembus final. Itu pertanda Arsenal telah hidup kembali sebagai sebuah klub besar. Hasil lainnya hanya menunggu waktu.
DNA main cantik era Wenger telah ditinggalkan. Dan kini Arsenal memasuki era baru, pemburu gelar yang serius.













