BREAKING
Gaya Hidup

Thayeb Loh Angen Hidupkan Kembali Tradisi Baca Hikayat Bersama Pelajar di Banda Aceh

Thayeb Loh Angen Hidupkan Kembali Tradisi Baca Hikayat Bersama Pelajar di Banda Aceh
Foto: HO for Komparatif.ID.

Komparatif.ID, Banda Aceh– Sastrawan sekaligus penyair, Thayeb Loh Angen, menghidupkan kembali tradisi membaca hikayat Aceh dengan melibatkan pelajar di Mini Theatre Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah I Aceh, Kampung Mulia, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh, Sabtu, 1 Agustus 2026

Pembacaan hikayat tersebut dibalut dalam acara “Mimbar Penyair Nusantara Bersama Penyair dari Sumatra Thayeb Loh Angen”.

Dalam kegiatan tersebut, Thayeb bersama sejumlah pelajar membaca Hikayat Auliya Tujoh, karya ulama terdahulu yang belum diketahui namanya. Hikayat tersebut sebelumnya ditulis menggunakan aksara Jawi Aceh dan telah dialihaksarakan ke huruf Latin oleh Ayahanda T.A. Sakti.

Thayeb mengatakan, kegiatan tersebut menjadi upaya untuk menghidupkan kembali tradisi membaca hikayat yang merupakan bagian dari budaya Aceh. Menurutnya, hikayat merupakan cerita bernilai sastra yang dalam tradisi Aceh ditulis dalam bentuk bersajak dan dibacakan di hadapan khalayak.

“Saya menghidupkan kembali tradisi membaca hikayat. Hikayat adalah sebuah cerita yang dikarang bernilai sastera. Dalam budaya Aceh, hikayat adalah sebuah cerita yang ditulis bersajak, dibacakan di hadapan khalayak ramai,” kata Thayeb Loh Angen.

Ia mengatakan, pelibatan anak muda dalam kegiatan tersebut dilakukan secara langsung di panggung. Hal itu sekaligus menjadi cara untuk melihat ketertarikan generasi muda terhadap hikayat.

Baca juga: Peupok Boh Kreh, Permainan Aceh Masa Dulu

“Tradisi itu kita hidupkan kembali dengan melibatkan para muda remaja ke panggung secara langsung sebagai bukti bahwasanya anak muda menyukai hikayat,” ujarnya.

Pada kegiatan perdana tersebut, tiga pelajar peserta program Peuturi Hikayat dari Pustaka Kampung Impian, Komunitas Rumah Relawan Remaja, turut dilibatkan. Mereka adalah Maulidin, homeschooler berusia 16 tahun, Adli Salam, homeschooler berusia 7,5 tahun, dan Muhammad Afdhal, siswa kelas III SMP 15 Banda Aceh.

Thayeb menjelaskan, program Mimbar Penyair Nusantara tersebut direncanakan berlangsung setiap tanggal 1 setiap bulan, dimulai pada 1 Agustus 2026. Jika memungkinkan, kegiatan itu akan dikembangkan menjadi agenda mingguan. Pelajar atau mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan juga akan berganti-ganti.

Kegiatan berlangsung selama sekitar 90 menit, yang terdiri atas salam pembukaan sekitar lima menit, pembacaan puisi syair rubai sekitar 10 menit, pembacaan hikayat sekitar 45 menit, serta bincang sastra sekitar 30 menit.

“Program ini memusatkan isinya pada pembacaan hikayat dan syair karya Thayeb Loh Angen, dengan durasi 90 menit,” kata Thayeb yang juga Sekretaris Jenderal Perkumpulan Majelis Seniman Aceh (MaSA).

Thayeb Loh Angen merupakan sastrawan yang mulai berkarya sejak 2001. Sejumlah karyanya telah dibukukan, di antaranya novel Teuntra Atom, novel Aceh 2025, kumpulan cerpen, kumpulan puisi Hikayat Kasih untuk Puan Zahraini, serta kumpulan puisi Syair Rubai Syariat Musafir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *