Di Aceh, Asi Kalah Populer Ketimbang Susu Formula

AIMI Provinsi Aceh menggelar kampanye menyusui ASI kepada bayi. Angka partisipasi pemberian ASI di Aceh masih berada di bawah Nasional. Foto: Ist.
AIMI Provinsi Aceh menggelar kampanye menyusui ASI kepada bayi. Angka partisipasi pemberian ASI di Aceh masih berada di bawah Nasional. Foto: Ist.

Komparatif.ID, Banda Aceh–Air susu ibu (asi) eksklusif kalah populer ketimbang susu formula. Akibatnya cakupan pemberian asi di Aceh hanya 66,6 %. Berada di bawah target Nasional yang menetapkan 80 % cakupan.

Ketua Asosiasi Ibu Menyusui (AIMI) Aceh dr. Niken Asri Utami, Sp. OG (K) – KFM., IBCLC, Minggu (7/8/2022) mengatakan untuk menggalakkan semangat menyusui para ibu, mereka perlu mendapatkan dukungan dari semua pihak.

“Bukan semata dari keluarga, juga dari berbagai stakeholder terkait,” kata Niken.

Hal itu disampaikan Niken pada Peringatan Pekan Menyusui Dunia (PMD) 2022. Di Aceh, AIMI menyelenggarakan Kampanye Payung Putih, sebagai upaya menghimpun dukungan kepada ibu menyusui.

“Ibu menyusui dan bayinya harus dilindungi dari hujan kritikan, bahwa asi tidak baik. Susu formula tidak lebih unggul ketimbang asi. Hal yang tidak diketahui adalah satu botol susu formula akan menghambat pemberian asi. Dari satu botol lalu dua botol dan seterusnya hingga mengalahkan air susu ibu.

Mari kita lindungi proses menyusui agar tunas bangsa mendapatkan gizi yang cukup dan memadai dalam 1000 hari pertama kehidupan hingga SDM Indonesia berkualitas,” sebut dr. Niken dalam orasinya.

Usai orasi dr. Niken kegiatan dilanjutkan dengan penandatanganan komitmen Payung Putih Edukasi, yang diteken oleh perwakilan berbagai lembaga. Penandatangan dimulai oleh dr. Niken mewakili AIMI Aceh, lalu dilanjutkan oleh Yusti Hadi Basuki dari Persit Kartika Chandra Kirana Iskandar Muda, Ayu Khaira Farida mewakili Dinas Kesehatan Aceh, dr. Natasya Phebe dari UNICEF Perwakilan Aceh, Rizki Fauzan sebagai Pimpinan Dompet Dhuafa Cabang Aceh, Putri mewakili Flower Aceh, serta berbagai elemen lainnya.

Setelah penandatanganan komitmen, dilanjutkan dengan senam oksitosin massal. Senam diikuti 300 peserta dari kalangan AIMI dan keluarga, anggota Persit Kartika Chandra Kirana Kodam Iskandar Muda, tenaga medis Fakultas Kesehatan Universitas Syiah Kuala, mahasiswa Poltekkes Aceh, dan masyarakat umum.

Pijat oksitosin adalah pijatan yang dilakukan di punggung. Tepatnya di sepanjang tulang belakang sebagai upaya melancarkan keluarnya ASI dari payudara ibu menyusui.

Pijatan tersebut dapat menjadi satu solusi ibu menyusui yang mengeluhkan asi sedikit atau tidak lancar. Waktu pijatnya pun tidak lama, hanya tiga menit saja. Untuk mempermudah, peran sertasuami sangat penting, yaitu dengan memberikan pijatan kepada sang istri.

“Kami berharap, lebih banyak ibu yang berhasil menyusui bayinya dengan baik dan dengan durasi yang lebih panjang. Namun hal ini cukup menantang karena pemahaman ibu yang rendah dan pengaruh industri susu formula yang menyebabkan orangtua terjebak dalam kampanye industri”, tutur dr. Niken, seusai senam.

Imam Maulana, Ketua Panitia Pekan Menyusui Dunia (PMD) 2022 yang jatuh pada tanggal 1-7 Agustus 2022, menyebutkan edukasi menyusui harus terus dilakukan dengan berbagai cara yang menarik. Senam pijat oksitosin salah satunya, yang tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga keterampilan dengan harapan dapat dilakukan di rumah oleh suami dan istri.

Artikel SebelumnyaPimpin Komisi VI DPR RI, Aria Bima Kunjungi Aceh
Artikel SelanjutnyaChowadja Sanova, Pemuda Aceh di Komisaris PT Semen Baturaja
Muhajir Juli
Jurnalis bersertifikat Wartawan Utama Dewan Pers dan penulis buku biografi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here